Pukul 7.15 Max pun tiba. “Sorry-sorry, macet,” ujarnya meminta maaf kepada teman-temannya karena keberangkatan mereka harus tertunda 15 menit akibat menunggunya datang. Di belakang Max tampak seorang gadis berkulit putih yang tampak familier di mata Aluna. Gadis itu membuka kaca helmnya dan ikut menggumamkan kata maaf. “Maaf, Kak,” ujarnya pelan. Jelas sekali gadis itu merasa tak enak. Kedua bola mata Aluna melebar begitu melihat gadis bernama Miura yang sedang duduk di boncengan Max. Dari sekian banyak wanita di dunia ini, kenapa harus gadis itu yang dibawa Max? batin Aluna. Takdir, jawab suara di dalam kepala Aluna langsung. “Kamu kenapa?” tanya Alaska yang baru saja memasukkan HP- nya ke dalam saku. Ia menatap Aluna yang mendadak kaku seperti patung melalui kaca spion. “Hah

