Seharian itu Aluna uring-uringan. d**a Aluna terus berdebar kencang setiap kali teringat Alaska. Ia bahkan tidak bisa fokus untuk belajar. Kejadian demi kejadian sejak pertama kali Aluna bertemu Alaska di depan gerbang, hingga kejadian tadi malam di saat Alaska mengantar Aluna pulang dan bertemu maminya, terus terputar di otak Aluna. “So? Who’s that, Hon?” “Alaska, teman sekolah Aluna,” ujar Aluna menirukan ucapan Alaska tadi. “Okay, cuman teman sekolah kamu?” Aluna menatap maminya dengan tatapan yang seolah sedang mengatakan ‘Ayolah, Mom!’. Anggia mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sedang menyerah. “Okay, fine, Sweatheart. Mami cuma mau bilang, dia sepertinya cowok yang baik. Sopan dan ganteng, pula. Pasti pintar juga, ya?” Aluna tak menjawab. Sementara Anggia kemba

