12. SARAN DARI GURU CINTA

1592 Kata
Dan benar saja. Saat ini, Alaska benar-benar menemui Pak Budi. Mungkin dia merasa saran yang teman-temannya berikan kurang meyakinkan. Mengingat, teman-temannya itu semua masih jomblo. Berbeda dengan Pak Budi, gurunya ini sudah memiliki istri yang cantik menurut seluruh siswa SMA Nasional. Kalo menurut Alaska, Mama dan Dinda lah perempuan yang paling cantik di dunia ini. "Permisi pak, saya mau konsultasi masalah hati," ujar Alaska to the point begitu dia sampai di depan Pak Budi yang sedang duduk di pinggir lapangan. "Alaska, jadi kamu beneran mau konsultasi sama saya. Gimana-gimana nak, siapa gadis yang bisa membuat kamu menjadi b***k cinta seperti ini?" tanya Pak Budi. Alaska menarik napas panjang. "Ladinda Agatha pak, kelas XI MIPA 1." Pak Budi manggut-manggut paham. "Sebelum saya kasih saran. Saya mau tanya. Sudah berapa lama kamu mencoba mendekati dia? Dan sudah sejauh apa kedekatan kalian?" "Saya dekati dia sudah hampir satu bulan ini pak. Kalo untuk kedekatan, udah deket banget. Tapi sebagai teman," jelas Alaska menjawab pertanyaan Pak Budi. "Jadi saya harus gimana ya pak?" "Sepertinya kamu perlu melakukan hal lebih," ujar Pak Budi membuat Alaska melotot. "Eh bukan hal lebih itu yang saya maksud," sambung Pak Budi ketika melihat raut wajah terkejut Alaska. "Maksud saya hal lebih itu seperti memberi perhatian kepada dia," lanjutnya lagi. "Tapi bukan perhatian seorang teman, tetapi seorang laki-laki yang suka sama dia." "Intinya, saya harus nunjukin kalo saya suka sama dia pak?" simpul Alaska setelah mendengarkan penuturan Pak Budi. "Ya! Seperti itu maksud saya," Alaska mengangguk paham, cowok itu segera berpamitan untuk menjalankan saran dari gurunya. Namun, ketika diperjalanan. Alaska baru ingat. Ini adalah jam pelajaran. Jadi, Alaska memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Tanpa mengganti baju olahraganya dengan seragam sekolahnya. Ketika sampai di kelasnya. Guru yang mengajarnya hari ini tidak datang. Entahlah, sejujurnya di kelas XI IPS 3 memang jarang sekali dimasuki guru. Lebih sering jamkos. Dan Alaska suka itu! Alaska berjalan santai menuju bangkunya. Mungkin jika biasanya bad boy akan berada di bangku pojok belakang. Berbeda dengan Alaska. Cowok itu bahkan duduk di bangku pojok depan meja guru. Tentu saja itu bukan keinginan Alaska, melainkan keinginan guru killer yang kesal dengan kelakuan Alaska. "What's up bro," sapa Galen dengan tampang songongnya. "Baek," acuh Alaska. Cowok itu segera duduk di bangkunya yaitu sebelah Galen. "Gimana konsultasi lo?" tanya Satya kalem. "Baek juga. Gue udah dapet secercah cahaya cinta," Alaska berkata dengan tangan bersedekap d**a. Galen, Satya, Anjas, Ken, Idrus dan Bian ingin mual mendengar Alaska berbicara kata-kata bucin seperti itu. Padahal, itu hanya sedikit kata-kata yang kurang bermakna untuk ciwi-ciwi. Namun, berhubung yang berbicara seperti itu Alaska. Sudah bisa dipastikan, itu akan membawa pengaruh besar bagi setiap gadis yang mendengarnya. "Najong! Pulang-pulang dari konsultasi, lo udah berubah jadi pujangga," ujar Galen namun Alaska mengacuhkannya. Lebih baik cowok itu memikirkan atau browsing kata-kata romantis atau gombalan-gombalan bermutu untuk diberikan kepada Dinda nanti. "Nah, sekarang ngapain lagi nih pak ketua kita," ujar Idrus melihat Alaska yang mengeluarkan ponselnya. "Oke google, kata-kata atau gombalan-gombalan romantis untuk doi supaya langsung peka," kata Alaska yang sedang browsing membuat mulut Galen, Satya, Anjas, Ken, Idrus dan Bian melongo tak percaya. "Gila! Niat banget nih bocah," Idrus masih memandang Alaska cengo. "Diracuni apaan nih anak sama Pak Budi. Sampe jadi kaya gini?" ujar Ken yang juga masih memandang Alaska cengo. Alaska yang dipandang seperti itu oleh teman-temannya hanya acuh tak acuh. Yang terpenting untuknya saat ini adalah membuat Dinda peka dengan perasaannya. "Kayanya gue perlu melakukan hal bar-bar deh supaya dia cepet peka," celetuk Alaska membuat Galen mengulurkan tangannya untuk menjitak kepala Alaska. Pletak Biar saja Alaska marah sekarang, daripada cowok itu berbuat hal tidak-tidak kepada Dinda? Bisa makin berabe nanti. "b*****t! Ngapain lo jitak kepala gue!" marah Alaska. "Supaya lo sadar lah! Lagian, lo ngomong gak pake disaring. Lo mikir gak pake di telaah," cerocos Galen menasihati. Pletak Tangan Alaska terulur membalas jitakan Galen. "Otak lo isinya negatif semua b**o! Maksud gue hal bar-bar itu nembak dia langsung, gak pake lama!" Galen ber-oh ria sebagai jawaban. Lalu cowok itu menyengir malu. "Ya maap kali Al, gue kan refleks tadi. Jadi gak sempet mikir." "Udah lah, gue cabut. Mau nungguin Dinda di depan kelasnya aja. Males gue disini. Auranya negatif semua," ujar Alaska beranjak pergi. "Enak aja lo!" *** Kaki Alaska berhenti di depan kelas Dinda. Cowok itu benar-benar menunggu Dinda disana. Kring! Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa-siswi SMA Nasional berhamburan keluar. Begitupula Dinda. Namun, ada yang berbeda dengan jam istirahatnya kali ini. Karena gadis itu mendapati Alaska di depan kelasnya. Menunggunya. "Hai Dinda," sapa Alaska dengan senyum manisnya. "Hai juga," sapa Dinda sedikit kaku. "Tumben kesini?" "Mau jemput lo." "Kemana?" "Ke kantinlah!" Dinda hanya ber-oh ria sebagai jawaban kemudian mengangguk. Toh juga sahabat-sahabatnya sudah memiliki pasangan masing-masing. Dinda tidak mau mengganggu sekaligus menjadi nyamuk diantara mereka. Alaska tersenyum senang melihat respon Dinda. "Eh udah dateng aja nih neng Dinda," ujar Bian menyambut kedatangan Dinda dan Alaska di kantin. "Hehe iya nih," balas Dinda seadanya. "Aska, udah pesen makanan belum sih?" "Udah kok, tadi gue udah minta tolong sama Satya buat beliin," Dinda mengangguk paham. Kemudian dia beralih memainkan ponselnya. LadindaAgatha: Bang BangArka:Kenapa dek? LadindaAgatha:Udah ada kabar dari dia? BangArka: Belum dek BangArka:Sabar ya, dia pasti bakalan balik kok BangArka: Jangan nyerah LadindaAgatha: Dinda udah kangen banget sama dia bang LadindaAgatha: Mungkin dia emang gak bakal balik lagi BangArka: Hust! BangArka: Lo ngomong apasih dek kan Bang Arka udah bilang, dia pasti bakalan balik dek BangArka: Lo cuma perlu sabar buat nungguin dia BangArka: Lo mau kan? LadindaAgatha: Iya bang LadindaAgatha: Dinda mau sabar buat nungguin dia Dinda menekan home screen di layar ponselnya. Gadis itu menghela napas pelan. Sepertinya Dinda butuh tambahan ekstra sabar untuk menunggu cowok itu kembali. Alaska memperhatikan setiap gerak-gerik Dinda. Alaska rasa, Dinda sedang mencemaskan sesuatu, atau mungkin seseorang. Entahlah, Alaska tidak tau. Bu Darmi datang membawa nampan berisi pesanan mereka. "Silahkan nak." "Terimakasih bu," ujar Alaska sopan. Dinda segera menyantap makanannya begitu pula Alaska dan teman-temannya. Setelah selesai menyantap makanannya. Kali ini Dinda tidak langsung berpamitan kembali ke kelas, melainkan masih tetap duduk di kantin. Di sebelah Alaska. "Mm Din, gue boleh nanya gak sama lo?" ujar Alaska pelan. "Boleh, mau nanya apa?" Alaska sebenarnya sedikit ragu untuk bertanya. Tapi, demi kemajuan hubungannya. Alaska harus yakin. "Sebenernya, lo pernah pacaran nggak?" Dahi Dinda berkerut, namun sedetik kemudian kembali seperti semula. "Gak pernah." "Kalo suka sama orang, pernah nggak?" Dinda mengangguk antusias. "Pernah! Sampai sekarang malah! Tapi sayangnya, orang yang gue suka ninggalin gue gitu aja. Entah pergi kemana," ujar Dinda sendu. Hati Alaska sedikit sakit mendengarnya. Namun rasa sakit itu tiba-tiba hilang ketika Dinda tak sengaja melanjutkan ucapannya dengan kalimat yang membuat kupu-kupu di perut Alaska beterbangan. "Tapi gue udah jauh lebih baik saat bisa ketemu sama lo Aska. Lo udah buat gue suka, sama kaya dia atau mungkin lebih," ujar Dinda tak sadar dengan perkataannya. Sedetik kemudian, Dinda yang sadar dengan ucapannya itu segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Sangat terkesan menggemaskan di mata Alaska. Tangan Alaska terulur untuk mengacak rambut Dinda. "Coba ulangi lagi, lo ngomong apa tadi? Gue gak denger?" Dinda menggeleng cepat. Tangannya tetap saja membungkam mulutnya sendiri. Alaska menarik paksa tangan Dinda dari mulutnya hingga akhirnya terlepas. "Gapapa lagi kalo lo suka sama gue. Itu malah bagus." "Bagus apanya?!" sewot Dinda. "Makan ati itu iya!" Alaska terkekeh pelan. "Kalo makan ati ayam gapapa. Yang penting jangan makan ati manusia apalagi ati sendiri." "Lo pikir gue kanibal?!" "Enggak Din, gue kan cuma becanda. Serius banget sih." "Kan emang lebih enak serius daripada becanda," ujar Dinda membuat Alaska tersenyum senang. "Oh, jadi nih lo maunya gue seriusin gak gue becandain?" goda Alaska menaik turunkan Alaska. "Auah! Kesel gue sama lo!" Dinda keluar kantin dengan perasaan dongkol. Bisa-bisanya Alaska ngegombal seperti itu pada Dinda. Dan bodohnya, kenapa Dinda malah salting sih?! Padahal, gombalan Alaska adalah gombalan tidak bermutu. Sepeninggalan Dinda, Alaska tak henti-hentinya tersenyum. Teman-teman Alaska yang melihat Alaska dibuat bergidik ngeri melihatnya. "Temen lo kesurupan noh!" tunjuk Idrus bersembunyi di belakang badan Ken yang bersembunyi dibelakang badan Bian. Seolah-olah takut. "Woi b*****t! Jangan narik-narik seragam gue g****k!" geram Bian karena seragamnya ditarik Ken ke belakang. "Jangan salahin gue doang! Liat noh Idrus, dia juga narik-narik seragam gue," ujar Ken tidak terima disalahkan sendirian. "Heh! Heh!" lerai Satya. "Lo bertiga malah debat disini. Malu-maluin aja!" ujar Satya sembari melirik sekitarnya. Seakan memberi tahu Ken, Idrus dan Bian bahwa meja mereka menjadi pusat perhatian seluruh penjuru kantin. "Gue sih udah biasa diperhatiin kaya gitu. Secara, gue itu ganteng," bangga Bian menepuk sisi kanan kiri seragamnya. "Mimpi lo!" ujar Ken dan Idrus serempak. Satya menepuk pelan pundak Alaska. "Al! Kenapa lo?" Tepukan serta panggilan dari Satya menyadarkannya dari lamunan. "Eh Sat, kenapa?" "Lo kenapa? Daritadi senyum-senyum mulu. Sampe Ken ngira kalo lo kesurupan." Alaska mendelik menoleh menatap Ken. "Sembarangan lo bilang gue kesurupan." "Abisnya, lo daritadi senyum-senyum sendiri." "Gimana gue gak senyum-senyum sendiri. Orang Dinda tadi keceplosan bilang kalo dia suka sama gue. Kan gue jadi kebayang terus," ujar Alaska sembari menerawang serta mengingat-ingat kembali perkataan dan wajah Dinda tadi. "Ha?" kaget Galen, Satya, Ken, Idrus dan Bian serempak. Sementara Anjas. Cowok itu tidak terkejut karena dia tadi sudah mendengarnya langsung dari mulut Dinda. Berbeda dengan Galen, Satya, Ken, Idrus dan Bian. Tadi saat Dinda mengucapkan kata-kata sakral itu. Kelima cowok ini sedang asik mengobrol. Alhasil, mereka tidak mendengar Dinda mengucapkan kata-kata itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN