Mata Dinda perlahan membuka, orang pertama yang dia lihat adalah Alaska yang sedang menunggunya.
"Kenapa lo gak bilang sih kalo lo emang bener-bener gak bisa hirup asap rokok," omel Alaska ketika dia melihat Dinda mulai membuka matanya.
"Apaan sih lo Al," ujar Dinda memegangi kepalanya yang masih terasa pusing sambil berusaha untuk duduk. Melihat itu, Alaska berinisiatif membantu Dinda agar bisa duduk dengan mudah.
"Gue baru aja bangun, lo malah ngomel-ngomel mulu. Lo udah kaya emak-emak komplek rumah gue tau gak," Dinda balas mengomeli. "Lagian juga, gue kan udah bilang sama lo, kalo gue gak bisa hirup asap rokok," ujar Dinda.
"Tapi lo malah bilang ke gue kalo lo gak peduli," lanjut Dinda. "Lo kira waktu gue bilang kaya gitu gue lagi becanda?"
Alaska sempat terdiam karenanya. Benar juga ya, kan Alaska yang bilang tidak peduli dengan keadaan gadis di depannya ini.
Gadis itu kini berusaha berdiri, kemudian melangkah perlahan keluar dari uks.
"Mau kemana lo?" tanya Alaska mengikuti Dinda dari belakang.
"Balik kelas," ujar Dinda. "Gara-gara lo. Sekarang di absen gue pasti udah di tulis bolos tau gak."
"Gue anterin," ujar Alaska membuat Dinda menghentikan langkahnya.
"Gak perlu, gue bisa sendiri."
Dinda berbalik meninggalkan Alaska yang terdiam di tempatnya, ada perasaan marah dan perasaan bersalah di dalam hati Alaska.
"Apa gue udah kelewatan ya?" gumam Alaska.
"Kalo kelewatan ya mundur aja bang, gampang kok," ujar Ken cengengesan. Cowok itu datang dari arah belakang Alaska.
Alaska menoleh malas melihat Ken yang ternyata datang bersama Bian dan Anjas.
"Bacot lo," cibir Alaska.
Ken hanya cengar-cengir bodoh, sedangkan Bian, cowok itu sibuk mengamati sekitar, siapa tau ada seseorang yang bisa di jadikan target gombalan mautnya.
"Lo emang kelewatan Al," ujar Anjas dengan gaya cool nya.
Alaska menoleh kepada Anjas yang hanya meliriknya sekilas. "Gitu doang kelewatan?"
"Yang menurut lo biasa aja, bukan berarti menurut orang lain juga biasa aja," ujar Anjas meninggalkan Alaska begitu saja.
"Tuh pak bos, dengerin kata bang Anjas," Ken menepuk pundak Alaska sekilas lalu menarik tangan Bian untuk ikut bersamanya, meninggalkan Alaska.
"Emangnya iya ya?" batin Alaska bertanya-tanya.
Disisi lain, Dinda baru saja duduk dengan tenang di bangkunya, untung saja guru yang mengajarnya saat ini bukan guru killer yang tidak mau menerima alasan Dinda datang terlambat.
"Gimana ceritanya lo bisa sampe sesak napas sih Din?" tanya Kinan khawatir.
"Nanti aja Nan gue ceritanya, masih pusing gue."
"Yaudah, lo tidur aja dulu Din. Nanti kalo udah jam istirahat, gue bangunin."
Dinda hanya mengangguk, kepala gadis itu benar-benar terasa berat sekarang. Dia memang butuh istirahat.
Satu jam berlalu, sekarang adalah waktu dimana seluruh murid SMA Nasional mengisi perutnya yang kosong, lantaran ini adalah jam istirahat.
Begitu pula dengan Dinda, Kinan, Ava dan Zoya. Keempat gadis itu kini sudah duduk santai di salah satu meja kantin. Makanan yang tadi sudah mereka pesan pun juga sudah datang, jadilah keempat gadis ini menyantap makanan nya masing-masing sambil sesekali mengobrol.
"Jadi gitu ceritanya," ujar Ava setelah mendengar cerita Dinda tentang bagaimana awal mula dia bertemu Alaska yang hampir menabraknya kemarin malam hingga disaat dia di kunci di gudang berdua bersama Alaska.
Dinda hanya mengangguk acuh, gadis itu sebenarnya malas membahas soal Alaska, cowok angkuh yang sudah membuatnya nyaris mati karena sesak napas.
"Kasihan banget sih lo Din," iba Zoya. "Tapi lo udah gapapa kan?"
Dinda menggeleng. "Gue gapapa kok," ujar Dinda. "Untungnya aja tuh cowok masih punya hati, makanya dia bawa gue ke uks."
"Jadi yang bawa lo ke uks dia?" tanya Kinan.
"Iya, waktu gue masih sadar, gue sempet lihat dia gendong gue keluar dari gudang," jelas Dinda. "Abis itu gue udah gak inget apa-apa. Bangun-bangun gue udah ada di uks, berdua sama dia."
"Dia juga yang nungguin lo sampe lo sadar?" Ava ikut bertanya.
Dinda mengangguk. "Iya, dia juga nawarin buat anterin gue ke kelas sih sebenernya."
"Ha? Terus lo tolak?" Kini giliran Zoya yang bertanya.
"Yaiyalah. Lo kan lihat sendiri tadi, gue balik kelas sendiri," balas Dinda acuh.
"Ya ampun Ladinda Agathaaaa," histeris Zoya dan Ava.
"Lo gak peka banget sih," ujar Ava.
"Gak peka?"
"Dia itu suka sama lo," sahut Zoya.
"Suka?" Dinda tertawa renyah dibuatnya. "Gak mungkin lah, orang tuh cowok sensi banget sama gue. Mana ada suka kaya gitu."
"Jangan pada lebay deh lo pada," ujar Dinda lagi.
"Dindaaa, setiap orang itu punya cara sendiri-sendiri sebagai tanda kalo dia itu lagi suka sama seseorang," ujar Zoya menjelaskan sedikit pengetahuannya tentang cinta kepada Dinda. "Mungkin caranya Alaska kaya gitu."
"Yayaya, gue bodoamat aja sih," acuh Dinda. "Yaudah, gue balik kelas dulu deh, masih pusing nih," Dinda berdiri dan berbalik meninggalkan kantin.
"Dinda," panggil Ava. "Coba deh lo pikirin baik-baik kata-kata Zoya barusan."
Dinda menoleh menatap Ava dengan tatapan aneh.
"Kalo sempet ya Va," balas Dinda menyengir.
Dinda berbalik, namun seketika itu dia terkejut. Karena di depannya sekarang telah berdiri tujuh cowok yang merupakan anggota inti Avender. Yaitu Alaska, Galen, Anjas, Satya, Idrus, Ken dan Bian yang menghalangi jalannya.
Alaska dan keenam inti Avender, semuanya menatap kearah Dinda. Sedangkan Dinda, gadis itu menatap satu persatu cowok yang menghalangi jalannya ini. Dan tatapannya berhenti pada seseorang yang berdiri tepat di depannya.
"Ngapain ke kantin sih, lo kan masih sakit," ujar Alaska.
***
Setelah kejadian di kantin tadi, Dinda menjadi kepikiran dengan omongan teman-temannya tentang Alaska. Apa mungkin?
Ah, tapi tidak mungkin lah. Dinda bahkan belum sampai sehari kenal dengan sosok cowok yang sangat ditakuti oleh seluruh murid SMA Nasional ini.
Dinda jadi pusing sendiri memikirkan hal itu.
"Kenapa dek?" tanya Arka yang sudah duduk di samping Dinda. Entah sejak kapan kakaknya itu berada di sampingnya. Dinda tidak tau.
"Kok abang perhatiin, dari tadi lo nglamun mulu. Ada masalah?" tanya Arka penuh perhatian.
Arka dan Dinda hanya tinggal berdua di rumah besar milik kedua orang tuanya. Kedua orang tua mereka bekerja di Singapura sudah dua tahun lamanya. Dan sudah dua tahun pula, kedua orang tua mereka tidak pernah kembali ke Indonesia. Mereka hanya mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya.
Namun, bukan berarti orang tua mereka tidak peduli dengan keadaan mereka. Justru mereka sangat peduli.
"Gak ada bang," jujur Dinda. "Tapi emang ada yang lagi di pikirin sih."
Sedari dulu, Dinda selalu menceritakan segala keluh kesahnya kepada Arka. Karena menurut Dinda, Arka selalu bisa menjadi pendengar yang baik dan Arka juga selalu bisa memberikan saran kepadanya.
"Apa? Coba cerita sama abang."
Dinda menarik napas panjang sebelum menceritakan apa yang sedang di pikirkannya.
Flashback on
"Ngapain ke kantin sih, lo kan masih sakit," ujar Alaska.
Dinda menatap aneh Alaska, kenapa cowok ini berbicara seolah-oleh dia khawatir dengan keadaannya?
"Siapa juga yang sakit," elak Dinda tenang, sebenarnya gadis itu sedang menahan rasa pusing di kepalanya.
"Jangan sok kuat lo. Gue tau lo masih sakit."
"Sok tau banget lo," kesal Dinda. "Minggir! gue mau pergi."
Dinda berusaha menerobos keluar di tengah-tengah Alaska dan teman-temannya yang berdiri menghalangi jalan.
Namun bukannya berhasil, Dinda malah hampir terjatuh karena rasa pusing yang dia rasakan semakin menjadi-jadi.
"Eh," kaget Alaska meringkuh tubuh Dinda yang nyaris jatuh.
Pandangan Dinda sedikit mengabur.
"Gue gapapa, gue bisa sendiri," Dinda berusaha melepas tangan Alaska dari pundaknya. Namun karena hal itu, lagi-lagi Dinda nyaris terjatuh. Karena tangan Alaska lah yang menjadi tumpuannya berdiri.
"Gak usah ngeyel."
Alaska ingin membawa Dinda ke uks, tetapi Dinda menolak. Gadis itu ingin kembali ke kelasnya.
"Jangan ke uks, ke kelas aja," tolak Dinda yang masih menahan pusing di kepalanya.
Alaska hanya mengangguk, cowok itu menuruti apa keinginan Dinda.
Alaska melihat wajah Dinda yang sedang menahan kesakitan menjadi merasa sangat bersalah. Karena dia lah Dinda menjadi sakit seperti ini.
"Sakit banget ya?" khawatir Alaska. "Maafin gue ya, gue gak maksud buat lo sakit kaya gini."
Dinda tercengang mendengar permintaan maaf Alaska. Bukan hanya Dinda, tetapi juga seluruh teman-teman Alaska.
"Lah? Itu Alaska bukan sih?" Ken dibuat heran.
"Iyalah g****k," balas Idrus ngegas.
"Ngegas banget masnya," ujar Satya.
"Diem napa lo pada. Jangan bacot. Ini lagi ada drama bagus," kesal Bian merasa terganggu.
Anjas hanya diam memperhatikan tingkah Alaska kepada Dinda. Begitupula Galen.
Sedangkan Dinda, gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali, dia tidak percaya kalau cowok angkuh ini baru saja mengucapkan kata 'maaf' yang sangat sakral untuk diucapkan oleh seorang Alaska Damaresh.
"Lo Alaska bukan sih?" Dinda menatap Alaska lekat. "Salah liat nih gue kayanya, efek pusing kali ya," Dinda menepuk kepalanya beberapa kali sambil menatap Alaska lekat.
Satu tangan Alaska menggenggam erat kedua tangan Dinda agar tidak menepuk kepalanya terus menerus.
"Lebay banget lo," cibir Alaska. "Gue kan udah minta maaf."
Dinda terkekeh pelan. "Iya-iya, gue maafin kok," Dinda tersenyum sedikit dipaksakan, bukan karena tidak tulus. Tetapi karena gadis itu masih menahan rasa pusing di kepalanya.
Alaska tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Lalu cowok itu mengantar Dinda kembali ke kelasnya.
Flashback off
"Jadi, lo lagi kepikiran sama Alaska?" tanya Arka setelah mendengar cerita Dinda.
Dinda mengangguk ringan. "Tapi bukan karna gue suka sama dia lo bang. Jangan salah paham," ujar Dinda panik.
"Iya deh," Arka tersenyum.
"Padahal gue aja baru kenal Alaska kemarin malem, waktu dia hampir nabrak gue," ujar Dinda keceplosan membahas tentang Alaska yang hampir menabraknya kemarin malam.
"Ups, mampus! Bisa gak dibolehin keluar malem sendirian nih gue sama bang Arka," batinnya.
"Jadi lo kemarin malem hampir ketabrak?" tanya Arka penuh kekhawatiran. "Kenapa lo gak bilang sama gue. Tapi lo gapapa kan?"
"Enggak bang gue gapapa kok, udah jangan dibahas."
Arka menghela napas lega. "Lain kali lo gak boleh keluar sendirian malem-malem. Bahaya."
"Tuh kan," gumam Dinda pelan.
"Back to topic bang," Dinda mengalihkan pembicaraan. "Menurut lo, kata temen-temen gue bener gak sih bang?"
"Salah kan ya, mana mungkin Alaska suka sama gue, orang dia aja sensi banget kok kalo sama gue. Bawaannya emosi terus," tambah Dinda.
"Gue belum bisa mastiin," ujar Arka. "Gue perlu ketemu orangnya langsung."
Dinda terkekeh. "Widih, jiwa cenayang lo bakal keluar nih kayanya bang."
"Kapan-kapan ajak dia main ke rumah, gue pengen ketemu sama cowok yang bisa bikin adek gue kepikiran," ujar Arka. "Padahal baru sehari kenal."
"Apa sih bang, gak mungkin kali Alaska main kesini. Gue sama dia aja kenalnya gak sengaja," ujar Dinda. "Gue sama dia juga gak temenan."
"That's right for now," Arka menatap Dinda yang juga menatapnya. "Tapi besok atau lusa? Lo gak tau kan."
Dinda terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.
Karna benar, Dinda tidak tau apa yang akan terjadi dengannya dan Alaska besok ataupun lusa.