Terhitung sudah 1 minggu lebih Alaska mengenal gadis bernama Ladinda Agatha. Gadis yang mampu membuat hari-harinya lebih berwarna. Gadis dengan sejuta kejutan. Gadis dengan segala keceriaannya. Juga gadis yang tegas namun baik hati.
Sejak mengenal Dinda, Alaska jadi sering senyum-senyum sendiri. Seperti sekarang, cowok itu sedang nongkrong bersama teman-temannya di basecamp Avender.
"Sstt, lihat noh Alaska. Senyum-senyum sendiri," bisik Galen mencolek lengan Satya.
"Efeknya Dinda kali, tuh bocah kan semenjak kenal Dinda jadi bahagia terus hidupnya," komentar Satya membalas Galen.
"Udahlah biarin, first love emang gitu," Bian ikut berkomentar. "Kaya gak pernah ngerasain first love aja lo."
"Njas, disindir Bian tuh," adu Idrus berteriak. Karna selain Alaska, anggota Avender yang belum pernah merasakan first love adalah Anjas. Sebenarnya, Alaska pernah memiliki seorang pacar, tetapi saat itu. Alaska tidak memiliki perasaan apapun terhadap gadis yang berstatus sebagai pacarnya tersebut. Dia hanya terpaksa menerima ajakan gadis itu untuk menjadi pacarnya.
Dan hasil akhirnya adalah Alaska memutuskan hubungannya dengan Gadis tersebut. Padahal hubungan mereka baru jalan 2 minggu.
Anjas hanya melirik mereka sekilas, cowok itu tidak tertarik dengan topik yang berhubungan dengan 'cinta.'
Ralat, Anjas merasa topik mereka terlalu abstrak untuk dibahas.
"Yah, gue dicuekin," Idrus berakting tersenyum kecut. "Ikhlas gue ikhlas."
"Akting lo jelek!" cela Bian dengan teganya.
"Sama kaya muka lo dong," balas Idrus tak mau kalah.
"Ngaco!" Bian tidak terima. "Muka gue udah mirip sama Manurios gini dibilang jelek. Buta lo ya."
"Kasihan bener Manurios disama-samain mukanya kaya lo," Idrus mendramalisir.
"Diem woi, lo berdua udah kaya ciwi-ciwi aja. Ngebahasnya Manurios mulu," ujar Ken jengah mendengarkan perdebatan mereka.
"Daripada kita ngebahas setengah cowok? Ya gak?" Idrus meminta persetujuan Bian. Yang dibalas anggukan oleh cowok tersebut.
"Gak boleh ngejudge," Anjas memperingatkan setelah keterdiaman panjangnya.
"Iye-iye, gue canda doang kali," ujar Idrus lesu.
"Ada apa, serius banget kayanya," Alaska ikut bergabung bersama teman-temannya setelah tersadar dari lamunan panjangnya.
"Ini lagi," ujar Galen. "Udah sampe mana halu lo Al?" tanya Galen sarkas.
"b*****t! tau darimana lo gue abis ngehalu," maki Alaska. "Lo cenayang?"
"Iya, baru tau lo," balas Galen mengaku-ngaku.
"Cenayang apanya b**o! Orang lo cuma nebak-nebak aja," Ken membongkar isi kepala Galen.
"Njir, diem b*****t! Lo mau ngancurin reputasi gue," bisik Galen mendelik.
Alaska terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Gila lo pada."
"Yang gila gue apa lo?" Galen memutar balikkan pertanyaan.
Alaska jadi terdiam sejenak, sebelum akhirnya cowok itu berlalu pergi keluar basecamp tanpa sepatah katapun.
"Mau kemana lo?" tanya Satya sedikit berteriak.
"Balik, kangen sama bang Eric gue," alibi Alaska.
"Halah bullshit, bilang aja lo males ditanya-tanya," ujar Galen tepat sasaran.
Alaska tak bergeming, cowok itu langsung menaiki motornya dan memacunya kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Alaska bergegas memasuki kamarnya berniat untuk mandi. Walaupun sekarang sudah pukul 11 malam.
Saat Alaska selesai melakukan ritual mandinya, cowok itu segera turun kebawah karena mendengar suara yang lumayan ramai di ruang tamu rumahnya.
"Tumben bang Eric bawa temen ke rumah malem-malem gini," gumam Alaska sembari menuruni satu persatu anak tangga.
Eric memang jarang mengajak temannya kerumah. Karna cowok yang berstatus sebagai kakak Alaska itu sangat sulit dalam bersosialisasi. Jadi, Eric hanya mempunyai satu sahabat. Dan Alaska sudah pernah bertemu dengan sahabat kakaknya tersebut satu kali. Saat ada acara di universitas mereka.
Alaska terkejut begitu cowok itu melihat gadis yang akhir-akhir ini selalu mengisi pikirannya berada di dalam rumahnya.
"Dinda?!" ujar Alaska kaget bercampur bingung. Bagaimana bisa gadis tersebut berada di dalam rumahnya malam-malam gini. Duduk bersebelahan bersama sahabat karib kakaknya lagi.
"Alaska?!" Dinda ikut terkejut setelah mendapati Alaska terdiam cengo di ujung anak tangga terakhir.
Alaska menghampiri Eric, Dinda dan Arka yang sedang duduk di ruang tamu. "Bang?" Alaska meminta penjelasan.
"Oke-oke, duduk dulu, biar gue jelasin," ujar Eric. Alaska mengikuti perintah sang kakak. Cowok itu beralih duduk di sofa dekat dengan Eric.
"Jadi, Dinda ini adiknya bang Arka," ujar Eric menjelaskan. "Lo inget kan sama bang Arka?"
Alaska mengangguk ringan. Cowok itu sebenarnya masih tidak percaya dengan kebetulan ini.
"Tunggu-tunggu, gue mau nanya sama Dinda," ujar Arka dengan wajahnya yang juga terlihat bingung.
"Jangan bilang, Alaska yang lo ceritain itu Alaska yang ini?" tanya Arka melihat Dinda sembari tangannya menunjuk Alaska.
Dinda juga mengangguk ringan sebagai jawaban.
"Gak nyangka gue. Dunia ternyata bener-bener sempit," Arka terkekeh setelahnya. Eric dan Alaska jadi semakin bingung. Sementara Dinda, gadis itu menyembunyikan wajahnya malu.
"Gawat, bisa malu gue kalo bang Arka cerita sama mereka soal gue yang curhat tentang Alaska," batin Dinda. gadis itu menepuk dahinya kesal. "Bodoh! Bodoh!"
"Kenapa dek?" tanya Eric yang sadar dengan tingkah aneh Dinda.
"Ha? Gapapa bang, gapapa kok," balas Dinda gugup, lalu gadis itu beralih menoleh menatap Arka. "Bang Arka, pulang yuk. Dinda ngantuk," alibinya.
"Nginep sini aja dek, banyak kamar kosong kok," kata Eric mampu membuat Dinda tersenyum terpaksa.
"Gak usah bang, Dinda mau pulang aja," tolaknya halus. "Bang Arka kalo mau nginep sini gapapa, Dinda pulang sendiri aja," lanjutnya lalu berdiri hendak pergi, namun pergelangan tangannya dicekal Arka.
"Jangan pulang sendiri," peringat Arka. Dinda menghela napas pelan, lalu mengangguk.
"Alaska, lo anterin Dinda sana," perintah Eric yang disambut baik oleh Alaska. cowok itu langsung mengangguk sambil tersenyum antusias.
Akhirnya, dia bisa membonceng Dinda!
"Jangan bang, gak usah," tolak Dinda lagi. "Dinda nginep sini aja deh," putusnya.
Alaska semakin tersenyum lebar. Tidakpapa jika malam ini dia batal membonceng Dinda. Alaska lebih bahagia disaat Dinda mau menginap dirumahnya.
Apalagi, besok pagi pasti Alaska bisa mengantarkan Dinda ke sekolah.
"Tapi...," ujar Dinda menggantung. "Dinda gak bawa seragam," lanjutnya.
"Soal itu gampang," balas Arka tersenyum. "Besok pagi, gue pastiin seragam lo udah ada di kamar."
"Yaudah, Lo anterin Dinda ke kamar yang deket sama kamar lo sana," perintah Eric pada Alaska. "Biar Arka tidur di kamar gue aja."
"Siapp," ujar Alaska. "Ayo Din," lanjutnya yang dibalas anggukan oleh Dinda.
"Night bang Arka, night bang Eric," pamitnya sebelum mengikuti langkah kaki Alaska.
***
Dan, disinilah Dinda sekarang. Di atas boncengan motor Alaska. Tak ada pembicaraan diantara keduanya. Hanya ada suara riuh ramai jalan rayalah yang terdengar.
Motor Alaska berhenti di parkiran SMA Nasional. Parkiran hari ini terlihat masih sepi, karna biasanya. Alaska selalu datang terlambat.
Tetapi hari ini tidak seperti hari biasanya untuk Alaska. Karena cowok tersebut, datang bersama Dinda.
Alaska memarkirkan motornya di samping motor Anjas dan Galen yang sudah datang terlebih dahulu.
"Ke kantin dulu Din, lo belum sarapan," ajak Alaska yang dibalas Dinda dengan anggukan.
Alaska merasa senang melihat itu. Entahlah, Alaska merasa ingin lebih lama berada di samping Dinda. Gadis yang sangat menyebalkan adalah kesan pertama saat Alaska bertemu Dinda. Dan cowok yang angkuh, sombong, juga menyebalkan adalah kesan pertama Dinda saat bertemu Alaska.
Namun siapa sangka, kini keduanya malah menjadi dekat. Dalam waktu yang sangat singkat.
Dinda dan Alaska berjalan beriringan menuju kantin langganan mereka. Dimana lagi kalau bukan kantin Bu Darmi.
Saat Alaska dan Dinda sampai di kantin. Mereka mendapati Anjas dan Galen yang sedang duduk santai di meja pojok kantin tempat mereka biasanya menghabiskan waktu saat berada di kantin.
Galen yang sedang menyesap rokoknya membuat Alaska teringat dengan kejadian satu minggu yang lalu.
"Lo jalan dibelakang gue," ujar Alaska. Dinda hanya menurut.
Alaska berjalan cepat menghampiri Galen, cowok itu mengambil alih rokok Galen. Rokok yang tadinya berada di tangan Galen kini dijatuhkan Alaska ke lantai kantin, lalu cowok itu menginjaknya.
"Loh Al?" bingung Galen.
"Dinda bisa sesak napas hirup asap rokok lo," ujar Alaska paham dengan maksud ucapan Galen. "Duduk sini Din," lanjutnya menepuk kursi kayu yang berada di sebelah Alaska.
Lagi-lagi, Dinda hanya menuruti Alaska.
"Hai permisi," ujar Nayya sok ramah. Gadis itu duduk ditengah-tengah antara Dinda dan Alaska. Kedatangannya sangat tidak diinginkan.
"Hai juga Nayya," balas Galen dengan nada bicara yang nyeleneh. Seperti mengejek.
"Ihh Galen, kok gitu sih," ujarnya dengan nada yang dibuat manja. Nada yang sangat menjijikkan untuk Alaska, Galen apalagi Anjas.
"Eww, najis banget suara lo," terdengar sahutan dari pintu kantin. Terlihat Idrus dan Ken yang baru saja datang bersama.
Nayya mengerucutkan bibirnya kesal. Gadis itu masih saja duduk di antara Alaska dan Dinda. Dan bodohnya Alaska, cowok itu malah membiarkan Nayya berada di situ. Walaupun hatinya memberontak.
Dinda juga dibuat sangat kesal. Perlu diketahui, dia adalah gadis yang penyabar. Tapi disaat dia merasa kesabarannya tidak diharagai. Dia bisa memberontak.
Gadis itu berdiri, berpindah posisi mendekat dan bahkah duduk di samping Galen. Hal itu sangat membuat Alaska terkejut.
"Kok pindah?" tanya Galen heran.
"Takut ganggu yang lagi pacaran," balas Dinda acuh tak acuh.
Alaska masih tak bergeming. Entahlah, kenapa cowok itu terlihat sangat pasrah sekarang.
"Lemah banget Alaska," bisik Ken kepada Idrus yang masih bisa di dengar Alaska, Galen, Anjas juga Nayya.
"Gue denger," ujar Alaska dingin.
"Ups!" Ken menutup mulutnya. Cowok itu tertawa geli melihat ekspresi Alaska. "Cabut yok, kayanya ada yang lagi sensi," Ken ngacir pergi diikuti Idrus juga Anjas.
"Din, lo mau kemana?" Galen bertanya dengan bodohnya.
Ya jelas Dinda mau ke kelas lah! pake nanya lagi.
"Ke kelas," balas Dinda tersenyum simpul. Senyum yang selalu bisa membuat jantung Alaska berdebar.
"Gue anterin mau? Daripada disini, jadi nyamuk. Ya nggak?" ujar Galen sengaja memanas-manasi.
Dinda tertawa renyah. "Hahaha, iya. Kita duluan aja, takut ganggu yang lagi pacaran," ujar Dinda sembari melirik Alaska sekilas. Dia menyindir.
Dinda dan Galen berlalu pergi. Mereka berjalan beriringan, sambil sesekali berbicara, bahkan tertawa bersama.
Sial!
Alaska kesal melihat itu.
"Alaska, aku juga belum sarapan," ujar Nayya dengan senyum yang tak pernah luntur dibibirnya. "Kita sarapan bareng yuk!"
Alaska memutar bola matanya malas. "Makan aja sendiri!" ujarnya lalu ikut pergi dari kantin.
Cowok itu memilih mengikuti Galen dan Dinda dari belakang. Takut-takut Galen akan berbuat macam-macam kepada gadis tersebut.
Walaupun sebenarnya Alaska yakin. Galen tidak akan berbuat apa-apa. Galen adalah cowok yang baik. Bahkan sangat baik.
Alaska memperhatikan interaksi antara Dinda dan Galen dari belakang. Dia bisa menangkap raut wajah Dinda yang sangat ceria dan mata gadis itu yang berbinar. Saat mereka sedang membicarakan film horor.