Bab 10. Merajuk

1657 Kata
Siang ini di kantin, para sekretaris sedang menikmati makan siang mereka. “Kenapa mesti nunggu gua sih. Kan udah dibilangin ngakpapa kalian aja duluan.” Tutur Bella merasa tidak enak hati pada teman-temannya mengenai hari hang out yang ditunda hanya karena ia tidak pergi. “Ngak bisa, kita nunggu ada loe aja. Ngak seru lah nyanyi tanpa suara loe. Lagian loe mau ngapain sih? Jadi kepo gua.” Ucap Lusi. “Urusan keluarga, Lusi. Ngak usah kepo deh. Kasihan posisi Bella nya kalau kita desak gitu.” Bela Tika membuat Bella bernafas lega. “Gua sih jadi ngak jadi ngak masalah juga, yang penting ngumpul.” Timpal Maria yang dianggukin Tika sebagai sikap netral mereka. “Tuh udah, Lus, kalian pergi duluan. Gua next aja, kalau kayak gini gua ngak enak banget sama kalian. Susah loh dapet tempat bookingan di sana.” Bella masih memaksa untuk merubah pemikiran Lusi yang merasa tidak nyaman tanpa kehadiran Bella. “Ada aku juga, Lusi. Yang penting ada aku di sana buat lindungin kamu.” Ucap Jordan menyeringai. “Berchandyaa kamu.” Jawab Lusi menekan perkataannya seperti bahasa kekinian yang sering di dengar di media sosial. Ditanggapi dengan tawa renyah yang lainnya. Sedang asyik menikmati suasana menyenangkan, Riko datang menghampiri dan duduk di sebelah Jordan terseyum memandang Bella tanpa malu-malu. “Hai, Bella.” “Cuma Bella doang yang disapa?” Cetus Maria sengaja menyindir Riko. “Halo juga semua.” Jawab Riko merasa tidak enak hati. “Tumben nimbrung kemari, Ko.” Tanya Lusi yang memang lebih mengenal Riko karena satu divisi dengan Jordan. “Iyah, mau nambah pertemanan aja.” Kemudian menoleh kembali ke Bella. “Jumat ini pada mau hangout yah, gua boleh gabung kan?” “Ehm, boleh aja.” Jawab Tika mengulum senyuman terpaksanya. Sedangkan Bella sibuk membalas chat di ponselnya. Bukan sengaja menghindari Riko, namun pesan yang diterimanya seakan menjadi penyelamar rasa tidak nyamannya dengan kehadiran Riko di meja mereka. “Makan apa kamu hari ini?” Isi chat Ivan pada Bella. “Makan soto ayam sama bakwan jagung.” “Makan yang banyak, badan kamu kurus. Nanti sore aku jemput.” Kemudian Bella tidak membalas karena menyadari kepala Tika mendekati dirinya. “Chat sama siapa? Seriusan amat. Calon suami?” Pertanyaan Tika membuat Riko menatap serius pada Bella menantikan jawaban wanita itu. “Oh, ini klien Pak Wira. Ngatur jadwal meeting buat besok.” Jawab Bella berbohong, tidak mungkin ia mengatakan sedang chat sama calon suami yang dijodohkan orang tua. Bisa-bisa gempar semua para sekretaris ini. Ponsel Bella berdering dan terkejut melihat nama di layar. “Ehm, gua angkat dulu yah, sekalian jalan balik. Ngak enak sama klien nya Pak Wira. Bye.” Kemudian Bella berjalan menjauh dari kelompok teman sekretarisnya sambil mengangkat panggilan yang tidak kunjung berhenti itu. “Halo.” “Kenapa chat aku ngak di balas?” “Ini jam makan siang, tadi balasin chat kamu saja sudah pada nanyain.” “Jadi, nanti sore aku jemput yah di parkiran basement seperti biasa. Atau aku samperin lagi ke atas.” “Jangan yah!” Bella bisa mendengar suara kekehan Ivan merasa senang sudah membuatnya kesal. “Jam 5 aku sudah di parkiran kantor kamu.” Kemudian mematikan sambungan teleponnya. ‘Dasar papan nyebelin. Bukan nanya tapi merintah kalau begini.’ Gerutu Bella dalam hatinya. Namun sebagian pikirannya merasa bersyukur karena ulah Ivan, ia jadi punya alasan menghindari Riko. Tepat jam 5, Ivan sudah mengirim chat pada Bella bahwa ia sudah sampai di parkiran. Tanpa menjawab chat Ivan, Bella langsung turun ke parkiran. Lehernya dipanjangkan untuk melihat sekeliling dan mencari mobil Ivan seingat saat Ivan mengantarnya pulang ke rumah. Suara klakson mobil terdengar membuat Bella menoleh mencari sumber suara dan Ivan mengulurkan tangannya memanggil Bella, membuat wanita itu tersinggung dan bertahan berdiri di sana. Mobil Ivan keluar dari parkiran menghampiri posisi Bella kemudian membuka jendela di pintu penumpang agar Bella mengenalinya. “Ayo naik.” Barulah Bella membuka pintu penumpang menampilkan tatapan ketusnya membuat Ivan menoleh sekilas namun tidak bertanya alasan dibalik bibir menekuk Bella. “Langsung ke rumah ku kan?” “Hem.” “Ish, datarnya kambuh lagi.” Ungkap Bella mulai meluapkan kekesalannya membuat Ivan menoleh sekilas memperhatikan wajah bella. “Kenapa marah? Karena aku ngulurin tangan ke kamu tadi? Bukannya nyuruh, mau ngasih tahu posisi aku.” “Sama saja nyuruh nyamperin.” “Ngak gitu. Aku masih nerima telepon tadi, takut kamu nyariin. Maksudnya buat kasih tahu.” “Terserah.” Keduanya diam selama perjalanan pulang. Ivan merasa ia tidak bersalah, sedangkan Bella merasa Ivan tidak sedikitpun membujuknya di saat kesal. ‘Nikah sama cowok papan yah gini nih, ngak ngerti maunya perempuan.’ Saat memasuki komplek rumah Bella, Ivan sudah tidak tahan lagi melihat wajah menekuk Bella yang sedari tadi melihat ke jendela. Tepat memasuki gerbang komplek, Ivan berhenti di depan mini market yang berdekatan dengan kantor marketing perumahan itu. Merasa bingung namun berusaha mempertahankan harga diri, Bella tidak bertanya kenapa Ivan berhenti di sini. “Ella, kamu marah sama aku?” “Mikir aja sendiri.” Tidak menoleh sedikitpun. “Tadi aku sudah jelasin kan, ngak maksud nyuruh kamu nyamperin. Trus kamu bilang terserah. Maunya kamu bagaimana?” “Ngak gimana-gimana. Kamu mau ke mini market yah buruan, atau aku pulang jalan kaki aja deh.” Rajukan Bella semakin menjadi merasa Ivan tidak sedikitpun mencoba merayunya. Meskipun mulutnya hanya menganggap pernikahan ini demi anak-anak namun hati dan pikirannya bersikap lain. “Maaf, aku belum pernah menikah. Mungkin kamu mau kasih tahu, kalau perempuan lagi ngambek kayak kamu gini, sebagai laki-laki harus bagaimana?” Tidak mungkin juga Bella mengatakan ke Ivan agar berusaha membujuknya bukan. Sangat memalukan rasanya. Suara sabuk pengaman yang telepas terdengar menandakan Ivan membukanya, kemudian ia memegang bahu Bella agar menatap dirinya. “Kalau kamu ngak mau bicara, gimana aku tahu caranya buat kamu ngak marah lagi.” Sikap Ivan yang kerapkali otodidak seperti ini sering membuat kondisi jantung Bella menjadi tidak sehat. Bagaimana tidak, wajah mereka nampak dekat sekali. Sedikit saja Bella bergerak, hidung mereka akan menempel. Matanya beralih melihat ke samping takut orang-orang akan memperhatikan mereka dari kaca mobil. “Mereka ngak akan bisa lihat kita. Kamu ngak perlu khawatir dilihat orang. Kalau memang menurut kamu aku salah, aku minta maaf. Aku ngak bermaksud ngak sopan nyuruh kamu nyamperin ke mobil. Aku terima telepon dari mama, katanya dia mau nyusul makan malam di rumah kamu. Setelah itu aku langsung nyamperin kamu lagi. Maaf kalau kamu jadi tersinggung.” Yah hanya seperti ini yang diinginkan Bella. Meminta maaf, itu saja dan sudah menyelesaikan kekesalan di hatinya. “Yah sudah kalau gitu.” Tutur Bella setengah menunduk tidak berani menatap lama-lama mata cokelat yang mulai membuatnya membutuhkan parasetamol. “Yah sudah apa? Kamu ngak marah lagi kan?” “Iyah ih! Cepetan pulang, biasanya aku bantuin Mami masak sebelum makan malam.” Ivan tersenyum setelah memastikan Ella nya tidak marah lagi. “Oke, mumpung sudah di depan mini market, aku mau beli es krim buat anak-anak. Kamu mau ikut turun atau tunggu di mobil saja?” “Nunggu di sini aja. Anak-anak sukanya cornet coklat sama strawberi.” “Kalau Mami-nya anak-anak suka rasa apa?” “Apa aja.” “Aku tahu, kamu tunggu sebentar. Give me 15 minutes.” Setelah Ivan keluar dari mobil, Bella memegang kedua pipinya sambil mengerjapkan mata. ‘Apa itu tadi, kenapa gua jadi selemah itu di depan dia. Kenapa jadi panas dingin gini sih, mau sakit apa yah. Ish! Dasar nyebelin.’ Saat membuka pintu dan masuk, Josh dan Jess sudah datang menyapa dengan wajah cerianya. Namun yang disapa lebih dulu Ivan bukan Bella yang nota bene adalah ibu kandung mereka. Kasih sayang dua anaknya seakan dengan mudahnya berpindah alih pada Ivan. Setelah menyapa Ivan barulah dua anak ceria itu menyapa Bella. Sejak mengetahui peraturan Bella pada dua anaknya, Ivan mempersiapkan diri dengan membawa pakaian ganti. Saat Bella membantu Sintia di dapur, Ivan mandi lebih dulu kemudian langsung menemani Josh dan Jess yang sudah berhasil mengambil hatinya sekaligus menumbuhkan sisi kebapakan dalam dirinya. Setelah selesai memasak, Bella mandi dan mengganti pakaian bertepatan dengan kedatangan Miranda. Wanita itu pun bergabung dengan Ivan sambil membagikan sesuatu pada dua anak yang akan menjadi cucu nya juga. Kedatangan Miranda bertujuan untuk membahas tentang persiapan pernikahan Ivan dan Bella. Meskipun tidak ada pesta, Miranda masih memaksa agar mereka mengadakan jamuan makan malam. Bella hanya menurut karena merasa tidak enak jika harus melancarkan protesnya meskipun dirinya yang menikah. Meja makan sederhana yang biasanya untuk ber empat kini penuh diisi 6 orang. Meskipun tidak semewah di rumahnya, Miranda merasa lebih betah di rumah ini, lebih ramai, mewarnai hidupnya yang sudah lama kelabu sejak suaminya meninggal. Ivan yang dipaksa menjadi dewasa sejak sepeninggalan sang papi, membuat Ivan lebih banyak menghabiskan waktunya belajar sambil bekerja di perusahaan sang papi. Saat itu Miranda ikut membantu sebagai istri CEO. Miranda mendidik Ivan sekeras suaminya mendidik putra mereka dulu, semua demi ketahan mental Ivan dalam menghadapi kejamnya dunia bisnis yang sudah ia lihat sendiri dan berdampak pada hidup Ivan. Ditinggal sang papi dan harus merelakan melepas Bella masa itu, semua karena kekejaman dunia bisnis. “Masakan kamu selalu seenak ini, Sin.” Puji Miranda sambil membantu Sintia mencuci piring makan. “Masakan kamu juga enak kok, Mir. Kangen rendang buatanmu loh.” “Oke, buat makan malam pertemuan kita nanti. Hem, andai aja kalian mau pindah ke rumahku sekarang juga.” Sintia terkekeh. “Nanti juga serumah kan. Aku yang terima kasih punya besan kayak kamu, boyong sekeluargaku.” “Biar rame rumahku, Sin. Sepi banget sekarang kalau pulang dari sini. Dengar suara cucu-cucu ku ketawa tuh kok yah seneng banget hati nih. Punya menantu cantik, baik, rajin kayak Bella. Apalagi yang mau aku cari di dunia ini, Sin.” Bella yang hendak mengambil air minum di dapur, merasakan keharuan mendengar ucapan Miranda menganggap anak-anaknya sebagai cucu nya meskipun bukan darah daging Ivan. Bahkan menyayangi dirinya sebesar ini. Berbanding terbalik dengan mantan mertuanya yang selalu membenci dirinya sejak mereka bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN