Ivan keluar sendiri dari rumah Bella, meninggalkan Bella yang masih tertegun dengan kebisuannya.
Bella berdiri mendekati jendela disebelah pintu, membuka tirai, melihat Ivan masuk ke dalam mobil. Lalu keluar untuk menutup pintu depan rumahnya setelah Ivan pulang. Berdiri terpaku membelakangi pintu rumah, Bella memegang dadanya, merasakan debaran jantungnya yang masih berpacu dengan cepat.
‘Hah! Apa itu tadi. Dia berani cium bibir gua tanpa ijin. Terus, kenapa gua diam tanpa perlawanan. Astaga! Kenapa gua kayak orang labil sih. Di kantor gua bisa menghindar dari sikap agresif si Riko, kenapa sama si cowok papan gilesan itu gua jadi patung. Bukannya nendang kek atau teriak biar mami keluar kamar. Ah, pusing deh. Bodo amat lah!’
Bella beranjak ke kamarnya dan mandi. Menyiram tubuhnya untuk menghilangkan euphoria panas yang menjalari tubuhnya beberapa saat lalu. Kemudian ia masuk ke kamar anaknya. Sintia setengah berbaring dengan dekapan tangan Jess di pinggangnya.
Perlahan menurunkan tangan Jess, kemudian Sintia beranjak dari ranjang Jess, melangkah keluar.
Berselang beberapa menit, Bella juga keluar dari kamar itu. Sintia yang menunggunya di depan kamar, menarik Bella masuk ke dalam kamarnya. Mengajaknya duduk di sisi ranjangnya.
“Bagaimana?”
“Apanya bagaimana, Mi?”
Bella dihadiahi tatapan sengit dari maminya karena berpura-pura.
“Ck, Ya si Ivan. Keputusan kamu bagaimana, Ella?”
Bella mendengus, sebenarnya ia mengerti maksud maminya. Hanya berusaha mengalihkan saja, tapi sia-sia. Sintia sudah sangat penasaran menunggu jawaban putrinya, matanya hampir tidak berkedip menatap Bella, mau tidak mau Bella harus memberikan keputusannya sekarang ke Sintia..
“Ehm.. Melihat cara dia menghadapi anak-anak dan bagaimana Josh dan Jess ke Ivan, aku setuju dengan perjodohan ini.”
Sintia hampir saja melompat kegirangan kalau tidak mengingat hari sudah malam dan cucunya baru saja terlelap tidur. Kemudian Bella melanjutkan lagi perkataannyai.
“Tapi dengan syarat.”
Kening Sintia mengerut.
“Syarat apa?”
“Tanpa pesta dan aku enggak mau diketahui sama orang lain.”
“Kok begitu sih!”
“Mami setuju syarat aku, atau enggak jadi pernikahannya!” Ancam Bella.
Giliran Sintia mendengus kesal dengan syarat yang diberikan Bella.
“Tapi, Ella. Ivan itu belum pernah menikah, mana mungkin maminya setuju tanpa pesta.”
“Itu urusan Mami buat yakinin maminya Ivan, Kan, Mami yang maksain aku nikah. Ketemu Ivan baru hari ini, masih belum tahu luar dalam sifatnya seperti apa. Kalau ternyata anak Mami masuk ke kandang singa, bagaimana?”
“Ella, Ella, ribet banget deh kamu. Ya uda deh, daripada kamu enggak jadi nikah. Nanti Mami yang bicara sama Miranda.”
Bella mengecup pipi maminya dan tersenyum.
“Good night, Mami. Semua aku serahin ke Mami, yang penting syarat dari aku Mami tepati. Aku tidur yah, Mi. Ngantuk dan cape banget hari ini.”
“Good night, anak gadisku.”
“Mi, aku bukan gadis lagi. Anakku saja sudah besar.”
“Iya, umur kamu memang bukan gadis lagi, tapi tingkah laku kamu masih cocok kaya anak gadis. Cowok di luar sana juga bisa tertipu sama wajah imut kamu ini. Umur 30 tahun masih kaya 21 tahun.”
Bella terkekeh dengan ucapan sang Mami.
“Mirip siapa imutnya.”
“Keturunan Mami Papi, lah.”
Bella menuju kamar tidurnya, berbaring sambil menatap foto pengantin dirinya dengan Jackson yang masih tergantung di kamarnya.
‘Sayang, aku yakin kamu pasti mendukung keputusanku kan? Ivan menyayangi anak-anak begitu juga mereka. Yang membuatku memutuskan ini karena Josh dan Jess masih membutuhkan sosok seorang papi dalam perkembangan mereka. Tentang cinta, aku masih meragu. Tapi aku percaya kalau Mami tidak akan menjerumuskan aku ke pria yang tidak baik.’
***
Ivan memarkirkan mobilnya kemudian masuk ke dalam, sambil tersenyum lebar.
“Wah, kayanya Mami bakal dapat kabar gembira nih kalau lihat muka sumringah kamu.”
Miranda ternyata sudah menunggunya di ruang tamu sedari tadi.
“Sini… Sini.. Cepet cerita dong, tadi bagaimana?”
Ivan terkekeh sambil mengecup kening sang mami.
“Sepertinya Ella setuju dengan pernikahan kita. Nanti coba Mami cari tahu dari Tante Sintia.”
Miranda terdiam menatap penuh makna kepada Ivan sambil memegang tangan Ivan.
“Van, kamu yakin bisa menerima Bella dengan status dan situasinya sekarang? Karena kamu harus menerima Bella dengan paket kedua anaknya.”
Ivan mengangguk dengan yakin.
“Tadi aku bertemu Josh dan Jess. Mereka anak yang baik. Jelas kelihatan bagaimana Ella mendidik mereka. Dan aku.. Aku merasa seperti sudah lama mengenal mereka.”
“Iya, dua anak itu juga sudah mencuri hati Mami waktu kita ke mall bareng-bareng.”
Menatap lagi wajah putranya, Miranda tersenyum.
“Kamu bahagia, sayang? Akhirnya impianmu tercapai walaupun tidak sesempurna yang kamu inginkan waktu kecil.”
“Iya, Mi. Aku bahagia. Status Ella bukan masalah bagiku, dia tetap sempurna dihadapan Ivan. Bahkan aku akan menganggap kedua anaknya sebagai anak kandungku. Misalkan kami berjodoh dan mempunyai keturunan, aku akan bersikap adil sama mereka.”
“Mami bangga sama kamu, Van. Tidak semua laki-laki mau menerima seorang wanita berstatus seperti Bella berikut kedua anaknya. Papi kamu juga pasti bangga, putranya begitu gentleman.”
Ivan tersenyum sembari merangkul bahu sang mami.
***
Hari Sabtu, Ivan mengajak Bella, mami dan dua anaknya, berakhir pekan di rumahnya sekaligus bertemu dengan Miranda.
Awalnya Miranda kecewa dengan syarat yang diberikan Bella. Namun, atas durongan Ivan, akhirnya Miranda merelakan putranya menikah tanpa pesta.
Ivan berkata ke maminya kalau Bella mau menikah saja sudah lebih dari cukup saat ini. Pesta masih bisa dilaksanakan nanti setelah Bella bisa menerima Ivan seutuhnya. Lagipula saat ini bukan waktu yang tepat jika orang-orang terutama keluarga dari almarhum suaminya mengetahui kalau Bella menikah lagi.
Josh dan Jess menikmati waktu mereka berenang di taman belakang kediaman Ivan, mereka di jaga oleh Miranda dan Sintia, sembari mempersiapkan prosesi pernikahan anak mereka.
Ivan mengajak Bella berkeliling rumah. Ia mengajak Bella melihat ke sebuah ruangan kosong yang sangat besar, bahkan sebesar rumah Bella saat ini.
“Ini ruangan apa?”
“Ini akan jadi kamar kita. Sebentar lagi design interior datang kemari. Aku sengaja ngajak kamu ke sini untuk menentukan design kamar kita seperti apa, sekaligus kamar untuk Josh dan Jess, juga buat Mami Sintia.”
“Terus, kamar kamu yang sekarang?”
“Kamarku nanti akan beralih fungsi jadi ruang kerja, di sebelah kamar ini. Kamu mau lihat designnya?”
Masih terkesima dengan besar ruangan di hadapannya, Bella hanya mengangguk-angguk mengikuti Ivan. Mereka masuk ke dalam kamar Ivan.
“Yang mendesign kamarku adalah orang yang sama yang akan design kamar kita.”
Melihat suasana kamar Ivan, Bella tertegun dengan kerapian kamar seorang bujangan.
“Aku suka designnya. Jujur aku bukan orang seni, mungkin baiknya dia kasih beberapa contoh terus aku tinggal pilih. Pastinya aku mau warna cerah untuk suasana kamar nanti. Kamar mandinya boleh disamain designnya dengan kamar kamu yang sekarang. Aku suka banget.”
Ivan duduk di tepi ranjangnya menatap Bella sambil tersenyum sampai terkekeh sendiri.
“Kenapa kamu senyam-senyum sendiri?”
“Kita sudah mirip sama pasangan yang mau menikah, kan? Aku yang keluar dananya, terus kamu yang putusin designnya mau seperti apa. Istri puas, suami bahagia. Moto keluarga bahagia ala Rivano, hehehe..”
“Kamu jangan ge-er deh. Mau enggak mau harus pilih juga kan. Atau kamu saja yang pilih, aku juga enggak masalah kok.”
Sebenarnya Bella malu karena ucapan Ivan. Ia hanya mengalihkan rasa malunya dengan menggerutu cemberut tanpa berani menatap Ivan secara langsung agar sakit jantung berdebarnya tidak kumat sambil melihat walk in closet dengan desain minimalis, mendominasi warna monokrom.
Merasa Ivan tidak menanggapi ucapannya, Bella membalikkan badannya ke arah Ivan.
“Aku serius, kamu saja yang tentuin des…sainnnya.”
Ivan ternyata sudah berdiri di belakang Bella sedari tadi, menatap dengan seringai nakalnya.
Bella terdongak menatap mata Ivan, begitu juga sebaliknya.
Tubuh Bella terkunci di antara lengan Ivan. Bibir Bella dikecup Ivan, kali ini lidahnya menyusup ke rongga mulut Bella, mencumbui dan mengabsen bagian demi bagian. Manis.
Bella memukuli d**a Ivan, namun pukulannya sia-sia karena Ivan tidak bergeming sedikitpun.
Merasakan Bella sudah tidak memberontak, Ivan menarik pinggang Bella, saling merapatkan tubuh mereka. Bella merasakan tubuhnya terbakar, kakinya lemas terhanyut dalam ciuman Ivan. Perasaan yang sama kembali ia rasakan saat masih dengan Jackson.
Bella mengangkat tangannya merangkul leher Ivan seraya berjinjit, karena jarak tinggi mereka yang lumayan jauh.
Dengan sekali gerakan, Ivan mengangkat Bella agar kakinya bertumpu di atas kaki Ivan. Lidah mereka saling bertarung, melumat semakin dalam.
Mereka terhenti saat merasa kehabisan oksigen.
“Setiap kali kamu ngambek, aku akan memberi hukuman buat kamu seperti ini. Kamu suka kan?”
Bella mendorong Ivan menjauh saat dirinya tersadar akan ciuman barusan, wajahnya sudah memerah sampai ke telinga..
“Kamu apa-apaan sih! Main nyosor aja tanpa ijin.”
“Terus, yang disosor juga merespon dengan baik. Dimana salahnya?”
“Ih, dasar papan gilesan.”
“Dan kamu Princess Bella, benci sama Beast tapi cinta dalam hatinya.”
Mulut Bella menganga, mau tertawa karena perumpamaan yang diucapkan Ivan, tapi gengsi, mau marah tapi tidak ada yang salah.
“Jangan melongo begitu, nanti aku cium lagi nih. Bibir kamu itu menggoda aku, Ella.”
Bella menggerutu kesal, lalu keluar dari kamar itu dengan cepat sebelum hal lain terjadi lebih dalam lagi. Sedangkan Ivan masih berdiri tersenyum di dalam kamarnya.
‘Aku yakin hati kecil kamu mulai menyukaiku, tapi kamu masih menutupinya dengan dinding keras kepalamu, Ella. Aku akan bersabar menanti cinta itu hadir untukku.’
Bella menyusul melihat kedua anaknya yang masih bertahan di dalam kolam renang.
“Mami! Sini ikut renang, enggak seru cuma berdua.”
Josh sudah pandai berenang, sedangkan Jess masih menggunakan baju renang pelampung sehingga tubuhnya tetap mengambang.
Bella tersenyum menatap tawa ceria anak-anaknya.
“Mami enggak bawa baju renang. Lain kali, yah.”
Miranda memanggil Bella untuk duduk bersama mereka di sebuah meja panjang yang biasanya di pakai untuk jamuan makan dekat kolam renang.
“Sini, Ella. Duduk sama kita.”
“Iya, Tan.”
Bella duduk di sebelah Miranda.
“Jangan panggil tante lagi. Kamu anak perempuanku mulai dari sekarang. Panggil Mami, yah.”
“Iy..Iya, Mami.”
Senyum Miranda merekah hanya karena panggilan baru dari Bella.
“Mami mengerti situasi kamu. Aku dan Sintia sudah memutuskan untuk menikahkan kalian dua minggu lagi. Berhubung tanpa pesta, jadi tidak perlu banyak persiapan. Besok Ivan sama Mami akan jemput kamu ke rumah untuk fitting baju pengantin buat prosesi pernikahan kalian nanti.”
“Dua minggu lagi? Secepat itu?”