Bab 13. Mengancam Suami

1594 Kata
Ivan naik ke atas ranjang sedikit mencondongkan wajahnya memastika Bella memang sudah terlelap, kemudian di baliknya tubuh Bella perlahan berhadapan dengan dirinya. Menggunakan satu lengan untuk menumpu kepala Bella, lalu tangan lainnya merapikan helaian rambut Bella ke belakang telinga, kemudian mengusap lembut pipi istrinya. Menelusuri satu per satu wajah cantik itu. Kulitnya begitu halus lembut, pipinya sedikit memerah, bulu matanya lentik, hidungnya kecil mancung, dan sampai ke bibir merah mungil yang menggoda memanggil Ivan untuk mengecupnya. Bella bahkan tidak terbangun saat Ivan mengecup bibir manisnya. Justru, reaksi Bella begitu menggemaskan, ia malah menggerakkan bibirnya seperti sedang mengunyah makanan, kemudian memajukan bibirnya seperti sedang merajuk dalam tidur. Membuat Ivan berusaha menahan tawanya agar tidak membangunkan Bella. Momen langka seperti ini tidak ingin disia-siakan seorang Ivan. Menatap wajah Bella dari jarak sedekat ini adalah yang pertama kalinya setelah sekian lama ia hanya bisa menatap wajah wanita impiannya dari kejauhan. ‘Tidur saja kamu sudah seperti malaikat. Tetap cantik dalam keadaan apapun. Gemes banget kayak anak kecil. Mana percaya kalau kamu sudah punya dua anak.’ Masih terus menikmati keindahan wajah sang istri, Ivan teringat kembali pertemuan pertama mereka waktu kecil. Kisah Awal Pertemuan Bella dan Ivan. Saat Ella berusia 6 tahun, kedua orangtuanya pindah ke Jakarta karena tugas kantor papa Ella yang mempromosikan dirinya untuk memegang cabang di Jakarta. Ella yang baru menginjak kelas 1 SD merasa asing dengan dunia barunya. Suatu hari ia berdiri di depan rumahnya sambil memegang boneka puppy kesayangannya dan melihat Ivan sedang bermain kelereng dengan teman-temannya. “Eh, itu kan anak baru pindahan ke sini, cakep juga, yach.“ Saut Rino salah satu teman Ivan. Ella melihat mereka berharap di ajak bermain bersama, Ivan hanya menatapnya sekilas saja dan kembali bermain, begitu pula dengan teman Ivan yang lainnya asik dengan permainan mereka. Raut kekecewaan terpancar dari wajah Ella kecil, gadis kecil itu menunduk sayu, memonyongkan bibirnya kemudian masuk ke dalam rumah. Ivan kecil sudah pernah melihat Ella kemarin. Ternyata mereka bersekolah ditempat yang sama, tidak jauh dari rumah mereka, sehingga hanya perlu jalan kaki untuk pergi dan pulang sekolah. Saat di jalan, Ella berjalan pulang sendiri, tiba-tiba gerombolan anak laki-laki berlarian saling kejar-kejaran. Salah satu dari mereka tidak sengaja menyenggol lengan Ella, ia terjatuh. Namun mereka tidak memperdulikannya dan terus berlari sambil tertawa. Ivan yang berjalan dibelakang Ella buru-buru menghampiri dan membantunya. “Kamu enggak apa-apa?“ Ella hanya menggelengkan kepala, namun raut wajah kekesalannya tidak dapat disembunyikannya. Ivan kecil tersenyum melihat bibir cemberut gadis kecil itu yang nampak menggemaskan di matanya. “Aku Ivan. Rumah kita deketan. Besok, tunggu aku saja, kita pulang sekolah bareng. Jadi kamu enggak ditabrak kaya gini lagi. Aku yang akan lindungin kamu.“ “Aku Ella. Terima kasih, yah.“ “Sama-sama. Kamu mau jadi teman baik Ivan?“ Tanya Ivan mulai menarik garis senyumnya. Ella kecil mengangguk dengan cepat sambil memperlihatkan senyuman lebarnya. “Ella mau jadi teman Ivan.” Sejak itu, mereka berteman, apalagi ternyata mama Ella dan mama Ivan berteman akrab, mereka menjadi lebih sering bermain berduaan. Mama Ella juga berteman dengan tetangga lain yang sama-sama mempunyai anak perempuan bernama Kelly seumur Ivan, dan kebetulan mereka teman sekelas. Kelly sering sekali menjahili Ella karena rasa iri melihat kedekatan Ivan dengan Ella. Karena merasa Ella merebut perhatian Ivan sejak kehadirannya. Pernah Kelly mendorong Ella hingga jatuh dan membuat Ivan marah lalu mendorong Kelly sampai jatuh hingga membuat mama mereka terkejut. Akhirnya Ivan minta maaf pada Kelly dan Kelly meminta maaf pada Ella. Dan berakhir menjadi sebuah tumpukkan kekesalan yang dirasa oleh Kelly saat itu. Kelly selalu mengalah pada Ella agar Ivan tetap baik dengannya. Pernah Ella meminta Ivan agar tidak menjauhi “Ivan mau jadi hero buat Ella, dan ngak akan suka sama yang lain. Nanti kalau kita sudah besar, aku maunya nikah sama kamu, Ella, ingat itu janji Ivan buat kamu.“ “Iyah, Ella juga mau nikah sama Ivan.” Flashback OFF. “Andai kejadian kelam di masa kecil itu tidak terjadi, Papi kita pasti masih hidup dan mereka yang paling semangat buat nikahin kita berdua dan kamu akan menjadi pengantinku yang paling bahagia. Sekarangpun, aku tetap bersyukur bisa menikahi kamu lengkap dengan Josh dan Jess bersama kita. Aku janji aku setia sama kamu dan menjadi papi yang baik buat mereka.” Ivan masih membelai pipi Bella. Tidak lama kemudian, Ivan ikut memejamkan mata, menikmati kebersamaan pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Malam pertama mereka lewati hanya dengan tidur dengan Ivan memeluk Bella. Merasa udara dari pendingin ruangan semakin dingin, membuat Bella terbangun karena keinginannya untuk ke toilet. Ia dapat merasakan aroma peppermint dari kulit seseorang bahkan pernah mengalami seperti ini. Bella membuka matanya, dirinya terkejut menyadari tangan kanannya tengah melingkar di pinggang Ivan yang sedang tidur membelakanginya. ‘Kok bisa-bisanya gua tidur melukin dia?’ Rutuk Bella dalam hatinya. Perlahan-lahan Bella mengangkat tangannya agar tidak membangunkan Ivan. Baru saja mengangkat tangan, tiba-tiba tangannya di genggam Ivan dengan cepat. Bella terkejut, namun ia tidak berani mendongak ke atas. Perlahan kepalanya menjauh dari punggung Ivan, walaupum Bella berusaha bergerak sehalus mungkin, namun Ivan dapat merasakan deru nafas Bella yang membuat dirinya tersenyum. Tercetus niat untuk mengusili istrinya. Ivan memutar tubuhnya menghadap Bella, kemudian satu kakinya menindih kaki Bella dengan mata masih terpejam seolah yang dilakukan bukanlah kesengajaan, tangannya melingkar memeluk punggung belakang. Bella masih belum berani bersuara hanya deru nafasnya yang semakin tidak beraturan terasa di kulit Ivan. Tubuh Bella tidak dapt bergerak dalam kurungan lengan pria itu. Tidak lagi dapat menahan rasa kebelet ingin pipis, akhirnya Bella berontak mendorong tangan dan kakinya agar Ivan melepaskannya. “Aduh, aku enggak bisa nafas. Lepasin, Ivan.” Sedangkan Ivan terkekeh meskipun matanya masih terpejam. “Ehm, yang meluk aku duluan, siapa?” “Aku kebelet, mau pipis. Lepasin, please.” “Janji dulu, habis pipis, aku peluk lagi tidurnya.” Ivan membuka kelopak matanya langsung menatap wajah Bella dari dekat membuat Bella salah tingkah. “Aduh, aku udah kebelet banget nih. Nanti ngompol, Van. Lepasin.” Mulai merajuk. Ivan masih mengencangkan pelukannya, walaupun Bella sudah merajuk, memaksa Bella untuk mengikuti keinginannya. “Janji dulu baru aku lepasin.” “Ih… Iya.. Iya.. aku janji. Lepasin sekarang. Ish” Kemudian Ivan menyodorkan bibirnya ke hadapan Bella. “Kiss dulu.” “Ih.. Kamu maksa banget sih. Nanti aku ngompol nih.” Tidak tega akhirnya melepaskan pelukannya sambil terkekeh. “Cuma becanda kok, jangan marah yah.” Ivan melepaskan pelukannya, Bella turun dari ranjang, lari secepat mungkin untuk menuntaskan naluri alaminya, tingkah Bella tentu membuat Ivan tertawa geli. Tidak sampai 5 menit, Bella keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju pintu kamar. Ivan berpikir kalau Bella marah karena sikapnya tadi. Masih berbaring di ranjang, Ivan bertanya penasaran. “Kamu mau ke mana, Hun?” “Aku haus, mau ambil minum.” Ivan turun dari ranjang dengan cepat, menghampiri Bella, menarik jemari tangan istrinya untuk duduk di ranjang kembali. Tentu saja Bella mengernyitkan keningnya. ‘Gua mau minum, kenapa di suruh duduk.’ “Aku saja yang ambilin. Kamu tunggu di sini.” Ivan menghampiri meja nakas tidak jauh dari televisi di ruang tamu kamar hotel mereka. Mengambil segelas air dan mengisinya dari botol air mineral yang tersedia di dalam ruangan itu. Kemudian memberikannya ke Bella. “Terima kasih.” “Sama-sama, Sayangku.” Ivan menatap dengan menunjukkan seringai nakal dari wajah tampannya. Seperti dugaan Ivan, wajah Bella merona karena tatapan matanya. Ivan jongkok dihadapan Bella memakai kakinya sebagai tumpuan tangannya. “Bangun tidur, masih muka bantal saja, kamu cantik banget.” “Gombal.” “Mana bisa aku menggombal. Apa yang aku ucapin ke kamu itu nyata, bukan rayuan. Langsung dari hati ngucapnya.” Mata Bella membulat jengah namun berhasil membuatnya tersanjung dalam hatinya. Setelah selesai minum, Ivan mengambil lagi gelasnya dari tangan Bella, meneguk sisanya kemudian meletakannya di meja nakas kemudian masuk ke dalam selimut.. “Tidur lagi, yuk.” “Kamu jangan dekat-dekat aku gitu tidurnya.” Mendengar penolakan Bella, Ivan beranjak membungkukkan tubuhnya, wajah mereka saling bertemu dengan posisi Bella di bawah dan Ivan di atasnya. “Tadi sudah janji kan, kalau tidurnya mau aku peluk. Aku enggak nuntut kamu buat jalani kewajiban sebagai istri, loh. Cuma mau peluk kamu saja. Boleh, kan? Please?” Tidak tega dengan binar mata memelas Ivan, hati Bella luluh juga. Telunjuknya mengarah ke Ivan, “peluk saja yah. Awas kalau kamu macam-macam! Aku teriak nanti.” “Ada yah, istri ngancem suaminya kaya begini, macam penjahat aja aku ini. Lagian kamu teriak siapa yang nolongin.” “Ada, aku orangnya!” “Tapi aku makin gemas kalau lihat kamu cemberut, judes kaya begini. Kepingin cium lagi, marah-marah saja terus, biar makin panas ciuman kita.” Tantang Ivan dengan senyum nakalnya. Akhirnya Bella menyerah, menggeser tubuhnya ke dalam, merebahkan dirinya namun dengan posisi membelakangi suaminya. Ivan tersenyum penuh kemenangan, kemudian ia memeluk Bella dari belakang, mengecup pucuk kepala istrinya. Jari jemari Ivan mengusap kulit tangan Bella seperti sedang meninabobokan. “Rambut kamu wangi dan seger, Hun. Betah banget deh nempel gini. Shampo kamu wangi strawberry gitu.” “Besok aku ganti vanilla aja biar kamu ngak deket-deket.” “Tetap aku suka kok, aroma apapun yang penting kamunya kok.” Kekeh Ivan tersenyum. Bella tidak menjawab, ia pasrah sambil memejamkan mata. Tubuhnya yang awalnya menegang, perlahan terasa ringan di pelukan Ivan, sampai terdengar suara nafas teratur yang menandakan Bella sudah tertidur kembali. ‘Mulutmu bisa menolakku ataupun memarahiku dan bilang kalau kamu tidak mau. Tapi sikapmu tidak bisa berbohong. Aku tahu kamu merasakan kenyamanan sama seperti yang aku rasakan bila dekat sama kamu.’ Bella terbangun mendengar suara morning call dari pihak hotel karena telepon berada di meja sebelah dirinya berbaring.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN