Lavinia berdiri lama di depan cermin kamarnya. Rambutnya tergerai kusut, seolah lupa disentuh sisir. Gaun tidur satin berwarna abu gelap menggantung longgar di bahunya, tidak menghangatkan, tidak pula menutupi kegelisahan. Tubuhnya tegak, tapi napasnya tidak. Ia menatap pantulan dirinya seperti sedang melihat wanita asing. Seorang istri yang tak lagi berutang setia. Seorang perempuan yang baru saja kehilangan sesuatu dalam tubuhnya. Ketukan pelan terdengar di pintu. Ia tidak menjawab. Tapi pintu terbuka perlahan. Seth melangkah masuk dengan langkah tenang, menutup kembali pintu di belakangnya. Ia tidak membawa senjata. Hanya kesetiaan. Lavinia tetap tak bergerak. Suaranya pelan, nyaris tak lebih dari embusan napas. “Tak kukira kau benar-benar akan datang.” Seth berdiri beberapa meter

