Reyhan mendekati kedua orang yang baru saja keluar dari mobil itu. Matanya lurus menatap Dirga, memindai penampilannya dari atas hingga bawah. Dalam hatinya, dia membenarkan bahwa sahabat istrinya itu memiliki pesona yang sulit ditolak oleh kaum hawa. Wajahnya yang tampan, postur tubuhnya yang proporsional, otaknya yang cerdas, ekonominya mapan, semua hal itu seharusnya membuat lelaki itu mudah mendapatkan perempuan manapun untuk menjadi pendamping hidupnya.
Tapi sampai saat ini dia masih saja melajang. Dan alasannya apalagi kalau bukan Aurora. Lelaki itu benar-benar menjadi saingan beratnya sekarang.
Reyhan tak menutup mata dengan kenyataan bahwa sejak dulu Dirga memiliki perasaan yang begitu dalam terhadap Aurora. Tapi dulu dia ta pernah merasa bahwa laki-laki itu bisa menjadi pesaingnya dalam memenangkan hati Aurora. Sebab dialah yang sudah berhasil melakukannya.
Akan tetapi kali ini, Dirga adalah batu penghalang terbesar atas usahanya untuk kembali memenangkan hati Aurora. Karena dia menyadari bahwa kesalahan yang dilakukannya adalah hal yang fatal untuk bisa diterima kembali oleh perempuan itu, sedangkan Dirga terlalu bersih dan sempurna untuk menjadi penghuni baru di hati Aurora.
“Kamu bisa pulang sekarang. Aku yang akan menemani Rara di sini sampai Gina pulang,” ujar Reyhan masih dengan menatap lurus mata Dirga.
“Mas…” Aurora mendesis pelan. Bagaimana mungkin lelaki itu bisa seenaknya mengusir tamunya? Sedangkan dirinya sendiri pun merupakan tamu. Dasar manusia tak tahu diri.
“Why? Kamu masih belum puas menghabiskan waktu seharian berdua dengan dia?” Reyhan beralih menatap sang mantan istri.
Aurora baru akan menjawab ketika Dirga mengusap lengannya dengan lembut. “It’s okay, Ra. Aku pulang saja. Just enjoy your time with him. Nanti kuhubungi lagi."
Aurora menatap Dirga tak enak hati lalu mengangguk lemah kemudian berkata, “Makasih untuk hari ini.”
Dirga mengangguk dan tersenyum simpul, kemudian kembali ke balik kemudinya. Tak lama kemudian HRV abu-abu tua miliknya sudah melesat meninggalkan Aurora dan Reyhan yang masih belum beranjak dari halaman kontrakannya sampai mobil Dirga hilang dari pandangan mata.
"Kalian habis dari mana?" Reyhan berjalan mengikuti Aurora, menunggu mantan istrinya itu membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.
Kali ini tidak ada yang menjadi penghalang baginya untuk melepas rindu pada Aurora seperti beberapa malam lalu.
"Mengunjungi anak-anak," jawab Aurora setelah membuka pintu dan mempersilahkan Reyhan masuk. Dia sendiri langsung menuju dapur dan menuangkan jus kemasan ke dalam dua gelas lalu membawanya ke ruang tamu. "Ada apa?" Tanyanya kemudian. Dia benar-benar lelah dan ingin segera istirahat. Harapannya saat ini adalah Reyhan tidak berlama-lama mengunjunginya. Segera pulang setelah urusannya selesai, entah urusan apapun itu.
"Apa aku harus punya alasan untuk berkunjung?"
"Tentu saja. Kita sudah bercerai, seandainya kamu lupa. Dan satu-satunya hal yang membuat kita masih harus berhubungan adalah urusan anak."
Reyhan menghela napas berat. Dia pikir, sikap Aurora sudah lebih baik beberapa waktu belakangan. Tetapi perempuan itu ternyata tetap memberi batasan padanya, bahkan untuk bertemu sekalipun. "Aku hanya ingin memastikan kalau anakku dan ibunya baik-baik saja," ujar Reyhan pada akhirnya. Mana mungkin dia mengatakan jika alasannya datang adalah karena merindukan perempuan itu.
"Semuanya dalam keadaan baik-baik saja dan kamu nggak perlu khawatir."
"Kamu ingin sesuatu? J.Co, mungkin. Atau siomay lagi?" masih mencoba mencari cara agar bisa bertahan lebih lama berada di dekat Aurora.
"Aku cuma ingin istirahat. Kalau nggak ada hal penting yang harus kita bicarakan, bisa tolong tinggalkan aku?" Aurora merasa tak enak hati sebenarnya setelah mengatakan itu. Tapi dia memang benar-benar lelah. Kalau saja lelaki itu datang di lain waktu, mungkin dia akan menyambutnya dengan lebih hangat.
“Apa tadi kamu nggak dengar apa yang kukatakan pada sahabatmu itu?” Reyhan sengaja menekan kata ‘sahabat’ pada kalimatnya barusan. “Aku sudah bilang kalau aku yang akan menemani kamu sampai Gina pulang nanti.”
Aurora mendengus. “Kalian pikir aku anak kecil yang nggak bisa ditinggal sendiri di rumah? For God’s sake, umurku sudah 27 tahun dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Aku memang sedang hamil, tapi aku nggak selemah itu sampai harus ditemani selama 24 jam setiap hari,” ujarnya dengan nada tinggi. Entah karena efek lelah atau memang karena akhirnya dia memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaannya. “Please, Mas. Aku cuma ingin istirahat. Selama di panti tadi anak-anak nggak mau jauh dari aku.”
“Oke. Aku pulang dulu kalau begitu. Hubungi aku kapanpun kamu memerlukan sesuatu,” Reyhan akhirnya mengalah. Setidaknya, hari ini dia bisa melihat wajah perempuan yang selalu dirindukannya itu.
***
Dirga tak ingat kapan terakhir kali melihat wajah ceria Aurora. Barangkali sekitar setengah tahun yang lalu, di hari pernikahan Aurora dan Reyhan. Saat itu, melihat wajah bahagia Aurora membuat hatinya seperti ditusuk sembilu. Sakit, tapi tak berdarah.
Tetapi hari ini, hatinya pun ikut berbunga-bunga melihat senyum dan tawa bahagia Aurora ketika bermain bersama anak-anak di Rumah Cinta tadi. Rasanya lega sekali bisa melihat perempuan itu kembali ceria.
Dirga merebahkan tubuhnya—yang ternyata lelah—di atas kasur.
‘Dasar payah,’ umpatnya dalam hati. ‘Baru juga diajak main bola sebentar, capeknya udah kayak habis marathon aja.’
Setelah ini mungkin dia harus kembali rutin berolahraga. Jogging sebelum memulai rutinitas, atau sparing futsal bersama teman-temannya.
Dia menutup kedua matanya dengan sebelah lengan, meresapi lelah yang baru dirasakannya setelah tubuhnya berada di atas kasur. ‘Kok bisa?’ batinnya lagi. Berada di dekat Aurora benar-benar membuatnya tak merasakan lelah sedikitpun. Apalagi melihat perempuan itu yang terus tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Rasanya dia bisa melakukan itu—memandangi Aurora yang tersenyum—sepanjang hari. Atau bahkan sepanjang sisa umurnya.
Getar singkat dari ponsel yang belum dia keluarkan dari saku celana membawa dirinya kembali dari lamunan. Segera dia mengeluarkan benda pipih tersebut dan membuka lock screen. Senyumnya serta merta mengembang kala mendapati nama Aurora sebagai pengirim pesan w******p.
Putri Aurora: Hei, maaf ya soal yang tadi. Aku nggak tahu kalau Reyhan mau datang.
Tanpa menunda-nunda, lelaki itu segera membalasnya.
Satria Dirgantara: No need to sorry, Ra. Nggak perlu dipikirkan. Gina sudah pulang?
Putri Aurora: Belum. Sebentar lagi, katanya.
Satria Dirgantara: Okay. Just let me know if you need something :)
Putri Aurora: Like what?
Satria Dirgantara: A hug, maybe?
Putri Aurora: Nice try, dude! :)
‘Yeah, nice try,’ batin Dirga. Dia kembali membalas pesan tersebut dengan sebuah emoji senyum sebelum akhirnya memutuskan untuk menutup room chat mereka. Baru saja akan meletakkan benda pipih tersebut ke atas nakas, sebuah pesan WA kembali masuk.
Tanpa bisa dicegah, Dirga menghela napas berat ketika membaca nama pengirim pesan berikut isi pesannya.
Reyhan Abimanyu: We need to talk. As soon as possible.