Usai saling melepas rindu, Aurora membiarkan Dirga kembali berkutat dengan pekerjaannya. Mereka tetap berada di ruangan yang sama, di ruang tengah yang tadi sudah dirapikan Aurora selagi Dirga membersihkan diri. Hanya saja, keduanya sibuk masing-masing. Dirga sibuk dengan notebooknya, Aurora sibuk dengan tabletnya. Tanpa terasa, dua jam sudah berlalu begitu saja. Ketika suara dari perut masing-masing membuat keduanya menghentikan kesibukan, mereka saling berpandangan lalu tertawa setelahnya. "Mau makan apa?" tanya Dirga sambil bertopang dagu. Lelaki itu duduk lesehan di atas karpet, notebooknya yang sudah mati diletakkan di atas meja kopi. Sedangkan Aurora duduk di atas sofa dengan kaki yang terlipat. Sesekali dia meluruskannya ketika merasa pegal. "Nasi pecel?" "Pilihan bagus," Dirga

