“Mau mampir dulu?” Aurora melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya, menyampirkan handbag berwarna beige kesayangannya di bahu dan menoleh pada Dirga. “Mau,” dengan semangat Dirga menerima tawaran yang akan selalu senang diterimanya itu. Suasana rumah masih sepi, mobil Gina belum terlihat di teras. Kalau tidak lembur atau langsung pergi dengan Edo, biasanya perempuan itu sudah sampai di rumah jam lima sore. “Kamu mau minum lagi?” Aurora menjatuhkan tubuhnya di sofa setelah sebelumnya meletakkan handbagnya di atas meja. Tangannya meraih remot yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk, memilih saluran acak untuk sekadar mengisi suasana. “Nggak deh. Nanti aja,” Dirga ikut duduk di sebelah Aurora dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Dua jam lebih duduk di kursi tanpa san

