29. MIMPI

1014 Kata
Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah peribahasa paling tepat yang menggambarkan kondisi Reyhan saat ini. Setelah hari ini dia mengalami tragedi naas dimana seluruh uangnya yang tersisa di dalam dompet raib tanpa bekas. Dan alasannya justru karena dia hendak menolong seorang ibu-ibu yang kecopetan. Tapi untung tak dapat diraih sial tak dapat di cegah, niat baiknya itu justru berbuah pahit. Saai itu, dia telat datang untuk jadwal interview, hingga akhirnya dia pulang berjalan kaki. Menahan haus, menahan lapar, terlebih menahan kecewa. Meski ini bukan hal yang aneh baginya, tapi dia hanya sedih karena malam ini dia tidak bisa membelikan makanan apapun untuk dimakan di rumah bersama sang adik dan keponakannya. Mereka pasti menunggu dengan penuh harap di rumah. Apalagi pagi tadi saat hendak berangkat check up jantungnya ke rumah sakit, Gibran sempat meminta dibelikan satu porsi bakso saat Reyhan pulang. Reyhan terduduk di tepi trotoar. Sekedar merelaksasi otot-otot kakinya yang mulai keram. Diliriknya jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB. Dia hendak mengecek handphonenya saat tiba-tiba benda itu berbunyi, ada telepon masuk. Dari Luwi. "Hallo, Assalamualaikum, Kakak?" suara Luwi di seberang sana terdengar begitu khawatir. "Iya, waalaikum salam, ada apa?" jawab Reyhan. "Kakak tidak apa-apakan? Kok jam segini belum pulang sih?" "Iya, ini juga mau pulang, lagi di jalan. Aku tidak apa-apa. Sebentar lagi juga sampai. Kalian sudah makan?" "Aku dan Gibran sudah makan, Kakak sendiri sudah makan belum?" Luwi terpaksa berbohong. Uang yang diberikan Reyhan untuk dia pergi check up tadi sudah habis tanpa sisa. Malah minus. Sebab tadi ada obat tambahan yang harus dia tebus. Alhasil Luwi dan Gibranpun terpaksa pulang berjalan Kaki dari rumah sakit ke kontrakan mereka. Dan kini tubuh Gibran sedikit hangat, mungkin karena dia kelelahan berjalan kaki tadi siang. "Aku juga sudah makan, ya sudah nanti lanjutkan lagi bicaranya di rumah, nanti pulsamu habis." "Iya, Kak. Cepat pulang, hati-hati." "Iya," Sambungan telepon itupun diputus. Reyhan menghela nafas berat. Bukankah memang sudah seharusnya begini, hidup itu adakalanya kita di atas dan adakalanya kita dibawah. Roda kehidupan memang akan selalu berputar dan meraih siapa saja yang Dia kehendaki. Mungkin dengan begini Allah hanya ingin membuat kita lebih mawas diri dan lebih mendekat lagi kepadanya. Allah hanya memberi peringatan kecil untuk diri manusia, bahwa di setiap kesulitan yang kalian hadapi, jangan pernah kalian melupakan-Nya. Sebab apa-apa yang terjadi menimpa diri kita di dunia ini, semua tak lepas dari peran Allah di dalamnya. Reyhan tersadar, dirinya belum menunaikan shalat isya. Dia pun kembali melangkah dan berharap akan ada sebuah masjid yang dia lewati di depan sana. Semoga saja... ***** "Kita mau apa Kak, kesini? Kenapa tempatnya sepi begini?" tanya seorang gadis berseragam SMP yang tangannya ditarik paksa oleh seorang laki-laki berseragam SMA. Mereka terlihat memasuki sebuah gudang tua yang tidak terpakai. Laki-laki itu merapikan kardus-kardus bekas yang berserakan disana. Menatanya untuk alas. Lalu dia menyuruh gadis itu untuk tiduran di atas kardus-kardus itu. "Kita mau ngapain sih? Aku nggak mau ah, aku takut, aku mau pulang," gadis itu meronta saat laki-laki itu memaksanya untuk merebahkan tubuhnya di atas kardus-kardus itu. "Udah deh, lo nggak usah berisik. Lo turutin aja apa kata gue. Kalau lo nggak mau nurutin apa kata gue, kita putus! Cepet tiduran disitu!" ancam si laki-laki. Mendengar kata putus, gadis itu jadi diam. Dia tidak mau hubungannya dengan laki-laki itu berakhir. Dia sangat menyayangi laki-laki itu. Dia tidak mau kehilangan laki-laki yang sudah membuat hari-harinya lebih berwarna. "Sekarang, lo buka baju lo!" perintah laki-laki itu lagi. "Buat apa? Aku nggak mau!" "Lo pilih gue yang bukain apa lo yang buka sendiri, terserah!" "Kakak ini mau apa sih sebenernya?" wajah gadis itu terlihat mulai panik. Terlebih saat laki-laki dihadapannya itu kini mulai membuka pakaiannya sendiri, bahkan tanpa ada rasa risih dan malu sedikitpun. "Ah lo lemot banget sih jadi cewek! Yaudah sini gue yang buka," "Jangan, Kak!" Gadis itu mulai menangis. Tapi dia benar-benar tidak berdaya. Tenaganya jelas kalah jauh dibanding laki-laki itu. Gadis itu terus meronta dan menangis bahkan disaat tubuhnya kini sudah tak berbusana. Dia hanya bisa menutupi ke dua area sensitifnya dengan ke dua tangannya. Senyum laki-laki itu kian menyeringai saat dilihatnya mangsa empuk dihadapannya. "Lo jangan berisik, nikmatin aja permainan gue, gue jamin lo nanti juga bakal enak sendiri," Laki-laki itu benar-benar sudah berada di puncak. Setan sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Dia tidak perduli lagi dengan tangisan gadis itu, rintihan ketakutan, serta perasaan sakit yang luar biasa ketika sesuatu itu berhasil melesak, menembus dan menghunus sesuatu yang paling berharga yang dimiliki sang gadis. Hal itu dilakukannya berkali-kali, tanpa ampun. Gadis itu hanya bisa melenguh tertahan. Menahan sakit, menahan takut bahkan tanpa sedikitpun dia merasakan nikmat yang dirasakan laki-laki itu atas dirinya. Hilang sudah mahkotanya. Sirna sudah kegadisannya. Bahkan tanpa dia mampu untuk melawan. Hingga setelahnya, laki-laki itu pergi meninggalkannya begitu saja, bahkan tanpa perasaan bersalah apalagi iba. Laki-laki berseragam SMA itu keluar dari gudang kosong itu. Setelah dia berhasil menyalurkan hasratnya pada seorang gadis lugu nan bodoh yang sudah dia tipu dengan iming-iming cinta. Dan saat dirinya hendak pergi, dia melihat seorang wanita bercadar keluar dari dalam gudang tersebut, wanita bercadar itu menuntun wanita yang baru saja dia perkosa ke hadapannya, lalu wanita bercadar itu mengatakan sesuatu dengan suara yang lantang kepada laki-laki itu. "Kamu harus bertanggung jawab, Hardin! Kalau tidak, aku yang akan pergi!" "TIDAAAKKKKK!!! TRINA, JANGAN PERGI!!! AKU MOHON, JANGAN TINGGALKAN AKU, TRINA... AKU MOHON... KATRINAAA....!!! "Hardin, bangun Hardin! Istigfar! Hardin..." Katrina terlihat panik, dia menepuk-nepuk pipi suaminya. Berharap sang suami tersadar dari mimpi buruknya. Hardin membuka matanya. Peluh mengucur memenuhi pelipisnya dan menjadi titik-titik embun di beberapa bagian wajahnya. Ternyata, dia hanya bermimpi. Katrina berlari ke arah suaminya dengan membawa segelas air putih. "Minum dulu, sayang." ucapnya lembut. Hardin meminum habis segelas air putih itu dengan satu tenggakan. Nafasnya masih tersengal. Dia mengelap peluh di wajahnya. "Istighfar, istighfar. Kamu pasti mimpi buruk," ucap Katrina. Wajahnya terlihat khawatir. Hardin menatap wajah istrinya cukup lama, hingga setelahnya dia meraih tubuh itu ke dalam pelukannya. Dia mendekap tubuh itu kuat-kuat seraya berkata lirih dan terdengar sangat sedih sekaligus takut. "Demi cinta kita, berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku, Trina... Aku mencintaimu..." Dan Katrina pun, tertegun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN