"Biarlah cerita masa lalu kita jadi rahasia kita berdua saja, Luwi." ucap Hardin pada wanita yang kini berada bersamanya di dalam mobil. Saat itu hening langsung menyergap keduanya. Baik Hardin mau pun Luwi tak ada yang bicara. Luwi yang kini hanya terdiam sambil menatap arah jendela yang basah tersiram hujan. Tangannya terkepal meremas ujung pakaiannya. Dadanya kian sesak. Air matanya sudah menggenang memenuhi kelopak matanya. Jangan biarkan air mata ini kembali menetes, ya Allah... Apa salahku? Apa aku ini terlihat sangat hina? Sampai dia begitu tega mengatakan hal itu? Sampai dia berpikir aku akan merusak rumah tangganya? Hubungan persahabatannya? Hatiku memang sakit, tapi bukan berarti aku akan melalukan cara licik untuk membalas semua perlakuannya kepadaku di masa lalu, aku tidak

