31. MAIN AMAN

1265 Kata
Malam ini suasana makan malam di meja makan terasa hening. Tak ada satupun yang bicara. Omah, Opah, Hardin dan Katrina, mereka sibuk dengan makanan mereka sendiri, terlebih mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hardin sudah mengatakan perihal keadaan Katrina kepada Omah dan Opah bahwa Katrina memiliki kelainan pada bentuk rahimnya yang membuatnya kesulitan untuk hamil dan seandainyapun dia kembali hamil hal itu justru akan berakibat buruk bagi kesehatan Katrina sendiri. Dan hal itu jelas membuat Omah dan Opah sangat terpukul. Omahpun menyarankan agar Hardin tidak memberitahukan masalah ini pada Katrina terlebih dahulu. Omah hanya mengkhawatirkan kondisi psikologis menantu kesayangannya itu. Biarkan Katrina merasa lebih tenang setelah cobaan demi cobaan terjadi menimpanya akhir-akhir ini. Omah hanya tidak ingin Katrina terus-menerus dirundung kesedihan. Hardinpun menurut apa yang dikatakan Omah. Dia sendiri tidak ingin melihat Katrina sedih lagi. Sementara Opah, baru saja mendapati kabar dari orang kepercayaan di Perusahaannya di Jakarta, Pak Sigit, bahwa ada beberapa masalah yang menimpa perusahaan di Jakarta. Dan masalah-masalah itu jelas akan menjadi besar jika tidak segera ditangani. "Hardin, coba besok kamu suruh Reyhan untuk mengecek perusahaan di Jakarta, Opah mulai curiga dengan kinerja asisten pribadimu itu, Pak Sigit tadi siang menelfon Opah, dia bilang konsumen banyak yang mengeluh karena distribusi barang akhir-akhir ini sering macet. Barang yang seharusnya diterima konsumen tepat waktu kini jadi sering terlambat pengirimannya. Kalau begini terus mereka nanti bisa beralih mencari suplier ke perusahaan lain," tegur Opah, dia meneguk segelas air putih untuk membantu makanan di dalam mulutnya agar lebih cepat tertelan. Hardin terdiam. Sampai saat ini Hardin memang belum mengatakan apapun pada Opah perihal keluarnya Reyhan dari perusahaan mereka. Hardin sadar kalau Opah sampai tahu masalah ini pasti Opah akan marah besar. Apalagi kalau sampai tahu akar permasalahan yang menjadi alasan Reyhan sampai resign. Katrina menatap wajah suaminya. Dia kembali mengingat kata-kata Luwi bahwa Reyhan kini sudah tidak bekerja di perusahaan suaminya. Dan nyatanya Opah sendiri belum mengetahui hal itu. Jadi, apa alasan Hardin menutupi hal itu dari Opah? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Lagi dan lagi Katrina hanya bisa bertanya-tanya sendiri. "Hardin, kamu dengar tidak Opah bicara?" "Iya, Opah. Nanti Hardin akan hubungi Dimas dan menanyakan masalah itu," "Opah tidak menyuruhmu menanyakannya pada Dimas. Suruh Reyhan ke Jakarta, biar dia yang meninjau langsung," nada bicara Opah mulai meninggi. "Dimas itu pendidikannya jauh di atas Reyhan, Opah. Jadi Hardin rasa dia lebih paham bagaimana cara mengurus perusahaan," timpal Hardin. Dia masih terus mencoba untuk menutupi kesalahannya. "Tapi sekarang, kenyataannya apa? Kalau dia memang becus mengurus perusahaan, seharusnya masalah sesepele ini tidak akan menjadi besar dan berlarut-larut. Kalau kamu tidak bisa mengatakannya pada Reyhan biar Opah saja nanti yang menghubungi Reyhan," "Jangan, Opah! Iya, nanti biar Hardin saja yang mengatakan hal ini pada Reyhan," Hardin tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau Opah sampai mengetahui masalah Reyhan. Dia tidak ingin masalah ini nantinya jadi bertambah panjang. Jadi biarlah, nanti dia sendiri yang akan menghubungi laki-laki itu. Hardin langsung masuk ke dalam kamarnya setelah itu. Bahkan makanan di piringnya tidak dia habiskan. Katrina membantu Bi Siti selaku asisten rumah tangga di sana untuk membereskan piring-piring kotor bekas mereka makan malam. Setelah selesai Katrina langsung menyusul suaminya ke dalam kamar. Hardin tengah duduk tepekur di atas sofa baca di pojok ruangan. Katrina mendekat ke arah suaminya setelah dia membuka khimarnya. "Kenapa kamu berbohong pada Opah?" tanya Katrina to the point. Dia duduk di sisi Hardin. Hardin menoleh, menatap wajah istrinya dengan perasaan bingung. "Berbohong apa?" "Kak Reyhan sudah tidak bekerja di perusahaanmu lagikan?" "Darimana kamu tahu?" tanya Hardin, dia mulai curiga. Katrina tersenyum. Dia mengelus bahu suaminya. "Tadi pagi aku bertemu dengan Kak Reyhan di Klinik saat periksa Yumna, keponakannya sakit. Dia terlihat kesulitan saat membayar biaya pengobatan keponakannya, jadi aku yang bayar." Hardin terenyuh mendengar cerita istrinya. Perasaan bersalah kian menyerbu ke dalam hatinya. Tapi, rasa gengsi dan kekesalannya pada laki-laki itu jelas belum sirna. "Kamu ada masalah apa dengan Kak Reyhan?" tanya Katrina lagi. Dia berharap suaminya dapat berterus terang kepadanya. Dia tahu hubungan antara Hardin dengan Reyhan itu tidak seperti hubungan persahabatan biasa. Mereka itu sudah seperti keluarga. Lantas masalah apa yang sampai mengharuskan mereka jadi seperti ini. Katrina benar-benar tidak habis pikir. "Aku tidak suka kalau kenyataannya selama ini Reyhan masih terus menyimpan perasaannya kepadamu, Trina! Harusnya dia itu tahu diri, kamu itu istriku sekarang. Jangan karena aku percaya padanya untuk menjagamu hari itu, lantas dia bisa mengambil kesempatan untuk kembali mencuri perhatianmu, aku tidak suka," Hardin masih terus memikirkan tentang hari dimana dia menyuruh Reyhan untuk menjaga istrinya. Pasti hari itu Reyhan tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus itu untuk kembali mengambil hati Katrina. Kecurigaannya pada Reyhan kian hari kian bertambah. Hardin sendiri tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. Apa mungkin semua ini adalah imbas dari ketakutannya sendiri? Ketakutannya akan kehilangan Katrina. Hingga dia mencoba untuk mencari-cari kesalahan orang lain. "Kak Reyhan bukan orang yang seperti itu, dia cukup tahu diri, bahkan dia sangat tahu diri. Perlu kamu tahu, hari itu dia sengaja mengajak adik dan keponakannya untuk menemaniku pergi. Itu semua dia lakukan karena dia sadar aku ini istrimu, dia tidak mau jika aku hanya pergi dengannya lantas itu bisa menimbulkan fitnah di antara aku dan dia. Bukankah kamu sendiri yang menyuruh Kak Reyhan untuk menjagaku? Lantas kenapa kamu juga yang cemas? Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu, Hardin." Katrina hendak beranjak dari sisi Hardin, tapi sebuah tangan mencegahnya dan menariknya hingga dia terduduk dipangkuan suaminya. Hardin membenamkan wajahnya di bahu Katrina. Dia memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Aku hanya takut kehilanganmu, Trina. Itu saja," ucapnya lemah. "Tapi bukan berarti kamu harus menghancurkan hubungan yang sudah kalian jalin selama bertahun-tahun. Kamu harus segera menemui Kak Reyhan. Minta maaf padanya. Dan cepat suruh dia kembali bekerja di perusahaanmu. Keponakan Kak Reyhan mengidap penyakit jantung, mereka pasti membutuhkan banyak biaya untuk itu. Kamu harus membantunya. Dan jangan sekali-kali kamu meragukan perasaanku lagi. Kalau aku mau meninggalkanmu, aku sudah melakukannya sejak dulu, sejak pertama kali kamu mengatakan cerai. Tapi aku tidak melakukannyakan? Aku mencintaimu, Hardin, percayalah..." Hardin tersenyum tipis. Rasanya dia memerlukan pengakuan cinta dari istrinya setiap hari sekarang. Supaya dia merasa lebih tenang. "Baiklah, aku akan menemui Reyhan besok di kontrakannya." "Nah begitu dong, itu baru suamiku," Katrina mengecup pelipis Hardin dari samping. "Hmmm, Trina, aku boleh mengatakan satu hal lagi?" tanya Hardin ragu. "Apa?" "Mulai sekarang kita main aman saja ya," "Main aman bagaimana? Aku tidak mengerti," "Aku ingin menghabiskan waktuku hanya berdua denganmu untuk beberapa waktu ke depan. Lagipula kamukan sekarang sudah cukup direpotkan oleh Yumna. Jadi masalah kita memiliki momongan, kita tunda dulu saja. Kamu ber KB saja dulu untuk sementara. Tak apakan?" "Kenapa begitu? Bukankah sebelumnya kamu yang ingin sekali kita cepat-cepat punya anak?" tanya Katrina, heran. "Kan sudah ada Yumna, dia juga sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Oke? Ayolah sayang..." Hardin mencoba merayu sang istri. "Kalau kamu tidak KB nanti aku yang menggunakan pengaman," "Kamu itu aneh. Terserah kamu sajalah. Sudah, aku mau shalat isya. Ayo kita shalat berjamaah," Katrina mencoba melepas tangan suaminya yang melingkar di perutnya. "Hhmm, nanti dulu aku masih mau memelukmu," Hardin mulai bertingkah manja. "Urusanku dengan Allah itu yang paling utama, melebihi dirimu, paham?" ucap Katrina galak. Hardin cemberut. Diapun melepas pelukannya dengan terpaksa. "Oke-oke... Tapi habis shalat kita... " Hardin melirik genit ke arah ranjang tempat tidur mereka, lalu kembali menatap ke arah Katrina. Katrina mendelik. Dia menarik lengan suaminya supaya Hardin cepat beranjak dari sofa. Hardin berjalan menuju kamar mandi sambil terus memeluk tubuh istrinya dari belakang. Malam ini dia ingin berdoa supaya Allah berkenan untuk menjadikan Katrina sebagai pelabuhan terakhir hatinya, sekaligus pendamping seumur hidupnya. Karena Hardin tak menginginkan yang lain lagi, selain Katrina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN