"Perkenalkan, ia Dewa anak tunggalku, pewaris tahtahku satu-satunya." ucap Brian bangga. tak ada satupun rekan kerja yang luput dari sapaan perkenalan Brian. kali ini hatinya begitu bahagia. namun berbeda dengan Dewa. ia terlihat sangat malas menjalankan rutinitas tersebut. tangannya terus mendorong Radit ikut maju tiap kali ia diminta bersalaman dengan klien ayahnya. Dewa tahu sedikit banyak ia tengah melukai perasaan Radit, dan ia tak suka hal itu. "cukup Pa, saya lelah." ucapnya datar. jika saja kali ini Dewa tak membutuhkan kekuasan Brian mungkin ia enggan mengakui Brian ayahnya. "baiklah, kamu bisa istirahat." sahutnya dengan nada kecewa yang ketara. ---- Ke esokkan harinya tanpa menunggu lama Brian segera membereskan masalah Dewa dengan Samuel. ia tahu laki-laki itu hanya butuh u

