Tika menceritakan semua yang dia tahu mengenai masalah MLM itu, pak Idris terdiam berusaha memahami. Aku sendiri masih fokus menenangkan Rosi, dia masih belum sepenuhnya sadar. "Rosi bisa berkomunikasi apa belum Nduk?" "Belum pak, ini saja sebagian bukan Rosi." Aku menyandarkan Rosi ke tembok, menjaga agar dia tidak ambruk tiba-tiba. "Maksudnya?" Tika menjauh dari Rosi dan bersembunyi di belakangku. "Siapa yang masuk ke badannya?" Pak Idris mendekat. "Sosok yang mempengaruhi Rosi selama ini." "Sekalian saja kita ajak komunikasi. Pastikan tidak ada yang mengganggu kita nduk, buat penghalang di sekitar ruang UKS. Biar saya yang menangani Rosi." Aku berpindah tempat agar pak Idris leluasa menangani Rosi. Tika menggenggam tanganku erat, tangan Tika terasa dingin sepertinya dia juga iku

