Kenangan Manis dan Jin Qorin

962 Kata

Dia di sana duduk bersama ibunya. Wajahnya lebih segar dan tenang dari biasanya. Dia tidak berani melihatku. Beberapa kali wajah kami bertemu tapi dia selalu berpaling. Tatapan sendu masih menghiasi wajahnya. Aku duduk di samping mbak Ayu yang terus menangis, Mas David terus memeluknya berusaha menenangkannya. Mbak Indah dan Mbak Dinda bergenggaman tangan saling menguatkan. Sementara aku hanya bisa menggigit bibir mencoba menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata. Ibu berusaha agar tetap tegar di depan anak-anaknya. Sesekali beliau melihatku seolah berkata semua akan baik-baik saja. Ruang tamu penuh dengan orang-orang  yang ingin mengucapkan belasungkawa. Dari para tetangga hingga teman dan guru sekolahnya. Beberapa temannya menyapa sekaligus menatapku prihatin. Aku hanya ter

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN