DIA SUDAH MEMILIKI PACAR

1319 Kata
'Raditya? Gak mungkin! Tapi apa beneran itu dia?' Nada menengadahkan kepalanya, dan dia langsung berjengkit kaget melihat sosok di hadapannya. Nada bahkan menjatuhkan nampan yang sedang dipegangnya. Membuat kegaduhan yang menarik perhatian beberapa pengunjung cafe. Untung saja sudah tidak ada gelas ataupun piring di nampannya. Berbagai pertanyaan bersliweran dalam benak Nada yang tak dapat dijawabnya. Nada hanya menatap kosong wajah Radit dengan ekspresi kaget dan takut. “Ambil nampan ini!” tapi Radit dengan santainya mengambilkan nampan yang jatuh seakan tak terpengaruh dengan ketakutan istri kecilnya. “Eh iya, ma-maaf Tuan!” Nada segera mengambil nampannya, membungkuk hormat, lalu hendak meninggalkan Radit. Tapi tertahan karena suara Radit yang memberikan pertanyaan padanya. “Kamu bekerja part time di sini?” “Iya,” jawab Nada sambil tertunduk dan menggigit bibir dalamnya karena gugup. Untung saja tak berdarah. Pikirannya belum bisa menerka apa inginnya Radit. “Sampai jam berapa?” Radit bertanya sambil menatap Nada yang tak berani untuk sekedar mengangkat kepalanya. “Jam tujuh malam,” suara Nada pecah dan bergetar. “Ya sudah, jangan pergi ke mana-mana lagi! Setelah bekerja, langsung pulang!” perintah Radit yang dijawab dengan anggukan kepala Nada. Dia menghela napas lega karena Radit tidak memarahinya, lalu segera pergi meninggalkan meja nomor sebelas. Nada melayani pelanggan lainnya. Sebenarnya, kafe tempat Nada bekerja sekarang adalah salah satu investasi Radit. Kafe ini memang tidak dikelola langsung olehnya. Radit adalah investor tunggal kafe yang dikelola istri sahabat dekat Radit saat masih SMP dulu, Tia. Radit memercayakan restoran padanya karena Tia seorang chef pastry. Selain itu, Radit juga ingin membantu sahabatnya Ando, suami Tia supaya tak pinjam ke bank untuk modal awal kafe. Sampai sepuluh tahun sejak berdiri, Kafe masih berstatus milik Radit. Dia mendapatkan bagi hasil dari keuntungan bersih kafe senilai tiga puluh persen. Setelah sepuluh tahun, berdasarkan perjanjian, kafe-nya akan menjadi milik Tia sepenuhnya. Sampai saat ini, kafe sudah berjalan selama empat tahun dan semakin terkenal. Hari ini adalah anniversary kafe. Karena itu, Tia mengundang Radit dan beberapa temannya untuk hadir dalam acara syukuran ulang tahun kafe-nya. Salah satunya, sahabat Radit juga, namanya Dimas. Ini petama kalinya Radit datang sejak kafe berdiri empat tahun lalu. Dia terlalu sibuk sebelumnya. Ini juga harus dipaksa Tia. “Dit, siapa tadi?” tanya Dimas tiba-tiba. Dia penasaran dengan wanita yang baru saja disapa sahabatnya. Dimas, Radit, dan Ando adalah tiga serangkai yang bersahabat sudah puluhan tahun. “Bukan urusanmu.” Radit yang tahu Dimas itu playboy, dia tak ingin menjawab pertanyaan Dimas. Radit justru mengambil cangkir kopi, menyeruputnya. “Hehehe, kamu, kamu, bahasa lo jadi manis gini habis ngomong ma dia. Dan apa lo pikir gue tuli, Dit! Namanya Denada, kan? Siapa dia? Cantik banget loh, body gitar spanyol ala kearifan lokal. Pas, meski gak stang tinggi kaya bini lo. Bolehlah buat jomblo kaya gue. Kenalin dong!” Dimas tak mau menyerah. Dimas yang merupakan sahabat dekat Radit saat SMP memang masih jomblo hingga sekarang. Dimas, Ando, dan Radit mereka bukan sekadar bersahabat biasa, tapi sudah seperti saudara. Hampir tidak ada rahasia di antara mereka. Walaupun mereka bertiga tidak lagi saling berkomunikasi secara intens seperti dulu di SMP, tapi hubungan antara mereka masih cukup baik. Dan di antara mereka bertiga hanya tinggal Dimas saja yang belum ada minat untuk menikah. Bukan karena tidak ada yang mau dengan Dimas. Dia tampan, kaya, pandai merayu, dan body-nya membuat wanita pasti banyak yang mengantri. Hanya saja, Dimas tak ingin terikat dengan wanita. Tapi tak berarti dia tak memiliki wanita. Mudah saja bagi Dimas, pewaris perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia untuk mendapatkan wanita. Setiap malam ada saja wanita yang menghangatkan ranjangnya. Dan mereka bukanlah wanita yang dipilih sembarangan. Dimas rela meogoh kocek dalam demi mendapat perawan, kecuali jika dia sedang ingin sekali dan wanita itu begitu memikat, tak masalah soal keperawanan. Dan ini bukanlah rahasia yang ditutupinya dari sahabat-sahabatnya. “Jangan lo ganggu dia!" makanya Radit mengultimatum. "Gak ganggu, cuma mo ngajak nikah!" "STOP! Cari mainan di tempat lain! Tapi jangan dia!” Radit sudah melotot ke arah Dimas. “Hei, gue gak main-main, Dit! Dia cantik, bahenol, beuh! Lihat, walaupun tanpa make up begitu, huuuh ... bikin panas dingin lihat body-nya, senyumnya, kecil gitu kan body-nya, enak digendong pasti Dit!" "DIMAS!' "Hey, kalem, gue serius mo nikahin dia. Kenalin lah!” Dimas bersusah-payah membujuk Radit. “Jangan mimpi!" tapi ditolak mentah-mentah oleh sahabatnya. “Ish, pelit! Gue cari tahu langsung ke Tia ajalah!” ancam Dimas ke Radit “Gue serius! Jauhin dia!” Kali ini Radit benar-benar menatap Dimas dengan mata hitamnya yang lekat. Dimas tahu Radit marah. "Kenapa gak boleh?" cuma dia tak mau menyerah. "Kalau lo masih mau hubungan persahabatan kita gak retak, jangan pernah ganggu Denada!” “Apa dia selingkuhan lo, Dit?” Dimas mengernyitkan dahinya bertanya spontan karena terprovokasi sikap Radit. "Mind your mind!" Mendengar jawaban Radit, rasanya tak mungkin sahabatnya berselingkuh dari Viola. Dimas tahu betul bagaimana hubungan Radit dan Viola. Lalu siapa Denada? Kenapa Radit menjaganya hampir sama seperti menjaga Viola? Tadi Nada memanggil Radit sebagai tuan. Apa Nada anak pelayan yang jadi mainan Radit dibelakang Viola? 'Tapi dia tipe cowok setia!' Dimas buru-buru menampik pikirannya ini meski Dimas masih bingung dengan sikap sahabatnya yang tidak seperti biasanya. “Hai! Kalian sudah lama datang?” belum sempat Dimas menggali lebih dalam, Tia sudah datang menyapa kedua sahabat suaminya dengan senyum semringah dan duduk di kursi di antara Dimas dan Radit. “Nada ...!” panggil Tia. Kebetulan Nada berada di dekatnya, baru mengantar pesanan. “Iya, Bu Tia?” jawab Nada mendekat tanpa memandang dua pria yang duduk di dua kursi di sekeliling meja itu. “Ambilkan aku ice lemon tea sama muffin cake ya!” pinta Tia sambil mengeluarkan handphone dari tasnya dan menaruhnya di meja. “Ah, jadi panggilan kamu, Nada? Bagus banget!” Dimas seperti lupa ultimatum Radit beberapa detik lalu dan sudah berceletuk dengan senyum modusnya, lalu mengulurkan tangan pada Nada yang langsung ditampik Tia. “Heh, lo godain karyawan gue ya?” Tia melotot ke arah Dimas. “Idih, siapa juga yang mau godain!” Dimas melirik ke Tia lalu secepat kilat beralih ke Nada, dan Dimas sudah kepo lagi, “Nada cantik, kamu udah punya pacar belum Sayang?” celetuk Dimas dengan tatapan ala playboynya. “Nada, udah kamu pergi ke belakang, ambilkan pesananku, jangan kegoda, dia playboy! Ceweknya banyak, gonta ganti perawan tiap malem!” tegas Tia yang sudah gerah dengan kelakukan teman suaminya itu. Nada memang tak mau berlama-lama di sana. Dia mengangguk dan langsung ngacir. “Ah, Tia, sama aja lo ama Radit! jangan bilang gue playboy dong di depan Nada! Ancur reputasi gue!” protes Dimas yang sudah keluar aslinya kalau sudah kesal. Dimas juga sudah benar-benar lupa kemarahan Radit. Dia tak memedulikan lagi wajah Radit yang sudah ditekuk. Dimas seperti pemburu yang menemukan buruannya dan tak ingin melepaskannya. “Lagi ngobrolin apa sih, kok serius amat lo pada?” Ando, yang baru saja masuk langsung duduk bersama teman-temannya. “Ini lho, Yang, si Dimas nih ngegodain Nada!” keluh Tia ke suaminya sambil menceritakan detail bagaimana modus Dimas tadi. “Ah, elu Mas! Jangan digangguin! Dia itu pacar keponakan gue, si Dewa!” “APA?” Dimas dan Radit memekik bersamaan dengan suara cukup kencang sebelum keduanya saling bertatapan. Ando yang tak tahu apa-apa, menegur lagi dua sahabatnya yang sempat jadi pusat perhatian. "Kenapa lo berdua? Selow aja kali, jangan bikin pelanggan di kafe bini gue pada takut lo teriak gitu!" "Nah, gue wajar teriak, gue jomblo, baru mo cari calon bini taunya tuh calon dah punya pacar. Nih si Radit yang aneh! Ngapain dia ikut teriak? Dia kan udah punya bini. Yakin gue si Nada nih selingkuhannya pasti!" 'Selingkuhan, pelakor, penghangat ranjang, serendah itukah penilaian orang padaku?' Sayang, suara Dimas tadi terdengar oleh Nada yang sedang berjalan mendekat membawa nampan berisi ice lemon tea dan muffin cake. Ucapan Dimas membuat tangan Nada bergetar lemas tak sanggup menyanggah nampannya hingga terjatuh dan menimbulkan keriuhan. PRANG!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN