03. Kriteria

1320 Kata
Sakha kembali ke ladang dengan perasaan yang masih kesal. Dia menyesal sempat pulang ke rumah tadi, walau hanya sebentar. Karena istri ketiganya, Nia, tidak kunjung berhenti menggodanya padahal tahu kalau hari itu bukan jadwalnya. Sakha tidak terlalu menyukai perempuan yang agresif dan selalu mau ikut campur urusannya. Nia tahu itu, untuk tidak mencampuri urusan Sakha, sekalipun mereka bersuami sitri. Ketiga istri Sakha tahu hal itu, tapi terkadang mereka memang sering lupa karena dikuasai oleh perasaan mereka sendiri. Tadi, Nia sempat menyinggung rencana Sakha yang belum pernah Sakha beritahukan kepada siapapun selain kepada yang bersangkutan. Sakha begitu jengkel karena istri-istrinya mulai merasa berhak untuk mengatur-ngatur hidupnya. “Tuan!” Galih yang tengah mengawasi para pekerja mengangkut karung berisi jagung yang telah dipanen ke mobil box untuk dibawa ke gudang, menyapa Sakha yang baru sampai. “Malam ini,” kata Sakha setelah berdiri di samping Galih. “Kenapa, Tuan?” tanya Galih bingung. “Kamu pergi ke rumah RT itu lagi dan tagih janjinya,” jawab Sakha. Galih berdehem. “Apa Tuan tidak mau mengenal calon istri Tuan lebih dulu?” “Saya tidak punya waktu karena besok sore saya harus sudah tiba di Jakarta,” sahut Sakha. “Tapi satu hal,” lanjutnya, memberi jeda, “saya ingin kamu menilai mereka untuk saya.” Galih mengangguk mengerti. “Hm. Kamu masih ingat kan tipe yang saya sebutkan sebelumnya?” “Masih, Tuan. Serahin aja pada saya.” “Kalau begitu, saya akan berangkat ke Jakarta malam ini. Lakukan pekerjaanmu baik-baik, Galih.” “Siap, Tuan.” Setelah memberi perintah seperti itu, Sakha berbalik dan berlalu pergi dari hadapan abdinya. Galih menatap punggung bosnya itu sejenak, kerutan keraguan timbul di dahi. Galih kurang lebih tahu alasan Sakha ingin buru-buru menikah lagi. Bukan karena dia kepincut dengan anak Pak RT yang kembang desa itu, hanya saja Sakha punya agenda lain. Yaitu seorang ahli waris. Usianya sudah kepala tiga, tapi belum dikaruniai anak padahal wanita di rumahnya sudah hampir memenuhi kuota. Sakha tidak akan peduli jika istri keempatnya nanti adalah anak Pak RT atau bukan. Yang terpenting adalah wanita itu mampu memberikannya anak. Tapi walau begitu, Sakha tentu tidak mau asal pilih. Kebetulan saja RT Jamal berhutang banyak pada Sakha dan besar kemungkinan tidak bisa membayarnya karena laki-laki itu sekarang dalam keadaan sakit tua dan sudah tidak mampu bekerja, kebetulan juga Jamal memiliki putri-putri cantik yang belum menikah. Sebenarnya, kecantikan tidak termasuk dalam kriteria yang pernah Sakha sebutkan. Selama dia wanita yang mampu mengandung dan memiliki sifat dan sikap yang Sakha inginkan. Hanya saja, Galih melihat dari istri-istri Sakha yang ketiganya memiliki paras sangat cantik, maka Galih memasukkan ‘cantik’ ke dalam salah satu kriteria yang harus ada pada istri-istri tuannya. Galih juga menduga, Sakha tertarik untuk menikah dengan orang sini untuk semakin memperkuat kedudukannya di desa ini sebagai seorang pendatang. Agar tidak ada lagi orang-orang syirik yang berupaya untuk menjatuhkannya dan mengusirnya dari desa. Sambil melakukan pekerjaannya mengawasi para pekerja, Galih memikirkan siapa kiranya dari putri-putri kandung Jamal yang memenuhi semua kriteria yang pernah Sakha sebutkan padanya. Si kakak, Mawar. Atau si adik, Melati. Atau mungkin, Ririn? Tapi dari pertemuan Sakha dengan Ririn kemarin, sepertinya Sakha tidak terlihat tertarik dengan perempuan yang berpenampilan seperti itu. Sakha bahkan tidak tahu kalau Ririn juga putri Jamal, karena kalau dibandingkan dengan kedua saudarinya, Ririn jelas sangat berbeda. Jadi Galih mengeluarkan Ririn dari daftar kriteria yang dicarinya.   ***   Airin membuka mata, merasakan tubuhnya begitu berat dan kaku. Sakit menghantam kepalanya seperti palu. Sontak Airin mengaduh sambil memegangi keningnya. “Mawar nggak mau, Pak! Pokoknya Mawar menolak! Hiks…! Kenapa Bapak tega sama Mawar?!” Suara lengkingan tangisan perempuan terdengar di luar. Airin pun tersadar, bahwa karena keributan itulah dia terbangun. Tapi untuk sesaat, Airin menatap bingung pada kamarnya dan pakaian yang ia kenakan, juga handuk yang tergeletak di atas nakas samping ranjangnya. Saat ingatan tentang ladang jagung dan terik sinar matahari yang menyengar memasuki kepala Airin, Airin pun mengerti kenapa dia berada di sini sekarang. Sejak dua hari yang lalu, sebenarnya Airin sudah dilanda demam, tapi tidak terlalu parah. Jadi Airin terus memaksa dirinya untuk masuk kerja tanpa memberitahu siapapun tentang kondisinya itu. Alhasil, dia pingsan di ladang. Pasti para pekerja yang membawanya pulang, pikir Airin. Dia menurunkan kakinya ke lantai kemudian berdiri, menoleh pada cermin yang menempel pada tembok dan menatap wajahnya yang pucat pasi. Airin terkekeh geli pada penampilannya yang tampak jauh dari kata baik. Tapi karena rasa penasaran Airin yang tinggi tentang ribut-ribut di luar, dia memaksa kakinya melangkah ke luar kamar. “Mawar, menikah dengan Tuan Sakha tidak ada salahnya, kan? Beliau orangnya baik dan bertanggung jawab, hidup kamu pasti akan terja—” Suara Jamal terpotong oleh suara teriakan frustasi putrinya. “Aku nggak mau! Aku nggak mau! POKOKNYA AKU NGGAK MAU!” Airin mundur sejenak, terkejut. Pemandangan di hadapannya begitu tidak biasa. Mawar tengah bersimpuh di lantai dengan Ibu yang mencoba menenangkannya, Bapak duduk di sofa dengan ekspresi sulit, sedang Melati duduk tidak jauh darinya sambil terisak-isak. Ada apa sebenarnya? batin Airin bertanya. dia hendak mendekati mereka untuk bertanya sendiri, tapi Airin mengurungkan niatnya dan memilih untuk menguping saja di balik pintu kamarnya yang ia buka sedikit. “Kenapa harus aku, Pak?” lirih Mawar terdengar pilu. “Kenapa bukan Melati? Atau Kak Ririn?” “Melati belum lulus, dia masih harus menyelesaikan sekolahnya. Sedangkan Ririn… Bapak tidak tega kalau harus memilih Ririn. Selama ini Ririn sudah berkorban banyak untuk kita, dia tulang punggung keluarga sekarang semenjak bapakmu ini sakit-sakitan,” jelas Jamal dengan hati-hati. “Terima saja, Nak,” lanjut Jamal lagi, terdengar seperti seseorang yang telah pasrah. Kalau Bapak berbicara dengan nada putus asa seperti itu kepada Airin, Airin akan melakukan apapun yang Bapak katakan, tidak peduli sekalipun Airin sendiri tidak mau. Asalkan yang terpenting adalah dia bisa mengurangi beban di punggung Bapak. Suara tangisan Mawar semakin terdengar menjadi. Airin terdorong untuk ke luar, tapi kepalanya dibuat pening dengan suara Mawar dan juga Melati, serta suara lembut Ibu yang mencoba untuk menenangkan mereka. Airin pun kembali berjalan gontai ke ranjangnya dan berbaring di sana dengan mata terpejam rapat, sembari merasakan denyutan di kepala yang terasa menyakitkan. Dari apa yang dia dengar tadi, sepertinya ini ada hubungannya dengan hutang Bapak pada Tuan Sakha, pantas saja kemarin juga Galih datang ke rumah dan mengobrol lama sekali dengan Bapak. Ternyata, pikir Airin, ternyata Tuan Sakha menginginkan Mawar atau Melati untuk dijadikan istri. Tentu banyak sekali keuntungan yang keluarga mereka akan dapatkan kalau menikah dengan orang kaya raya seperti Sakha. Tapi kalau Bapak setuju, secara tidak langsung Bapak telah menjual anaknya kepada juragan m***m itu. Airin tidak memiliki kesan yang baik tentang Tuan Sakha. Dia hanya tahu bahwa lelaki itu telah memiliki tiga istri yang bahkan ikut diboyongnya ke desa untuk mengikuti panen jagung di akhir tahun ini. Padahal sudah punya tiga, tapi masih saja merasa gak cukup. Apa namanya kalau nggak m***m? Airin tidak menyukai Tuan Sakha. Entah kenapa Airin merasa demikian padahal dia belum kenal betul dengan bosnya itu. Setiap kali Sakha datang untuk mengawasi pekerja, Airin selalu berupaya untuk menghindar di saat pekerja lain justru berlomba-lomba untuk mendekat agar mendapatkan kepercayaan dari bos besar mereka.  Perasaan tidak suka ini sepertinya didukung karena Sakha bukanlah seorang monogami. Airin tidak pernah suka pada poligami sekalipun hal itu diperbolehkan dalam agama. Perempuan mana yang mau dan tahan untuk dimadu? Dan laki-laki yang suka mendua seperti itu, benar-benar memiliki nilai rendah di mata Airin. Lalu sekarang Mawar, adik yang sangat Airin sayangi, akan dipersunting oleh juragan m***m itu dan menjadi istri keempatnya. Sekalipun kepala Airin pening dan sekujur tubuhnya dalam keadaan sakit, Airin masih mampu berpikir. Dan juga sadar, bahwa dia tidak akan pernah mendukung pernikahan itu. Dia tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi. Kalau Sakha menginginkan semua uang yang telah dipinjam Bapak, Airin berjanji akan membayar semuanya, yang dia butuhkan hanyalah waktu lebih untuk mengumpulkan. Sekarang bahkan Airin sudah mulai menabung. Memang, berapa sih hutang Bapak pada pria itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN