Empat Puluh Dua

1230 Kata

            “Nenek!!!” teriak Balqis begitu turun dari mobil.             Mama Angkasa yang sudah menunggu di depan teras rumah sontak merentangkan tangan dan memeluk Balqis erat.             Tita yang turun paling akhir memandang rumah yang ia rasa tidak asing mengingat ia pernah tinggal di sini beberapa tahun tentu saja seharusnya rumah ini terasa akrab dengannya.             Rumah milik orangtua Angkasa tidaklah sebesar milik rumahnya dulu. Rumah ini lebih mirip rumah Angkasa. Sederhana, namun memiliki halaman yang luas yang mungkin bisa menampung tiga mobil. Selain itu rumah bernuansa hijau ini dihiasi taman yang indah dan aneka macam tanaman dengan pot wana warni menghiasi atap rumah.             “Ngapain kamu lihat-lihat begitu? Kayak enggak pernah ke sini aja!” tanya Maya ketus.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN