Angkasa menegakkan tubuhnya begitu ia merasakan tangan Bulan yang bergerak di genggamannya. Perlahan mata gadis itu terbuka dan mereka saling bertatapan. “Maaf,” lirih Bulan. Angkasa mengeratkan genggamannya. “Kamu bikin aku khawatir,” Bulan tersenyum lemah. Angkasa memberikan minuman dan dengan hati-hati membantu Bulan minum. “Aku memang sejak pulang dari kalimantan udah enggak enak badan. Aku pikir hanya sakit biasa, tapi pas kemarin aku pulang ke rumah Mama ternyata aku demam tinggi dan dilarikan ke sini.” Angkasa menghela napas lega. “Kamu harus banyak istirahat. Jangan pikirin kerjaan, biar aku yang handle.” “Makasih ya,” Angkasa mengangguk. Tanpa sadar tangannya mengelus rambut Bulan. Bulan memejamkan mata merasak

