MENJADI DEKAT

1221 Kata
Aku terengah-engah sampai di gerbang sekolah karena berlari meninggalkan Shaura. Aku takut tidak bisa menahan hasratku, dan lebih takut jika sampai harus berbuat sesuatu itu di area sekolah. “Lho katanya ngising? Kamu ngising apa latihan maraton Rot?” tanya Yudi. “maraton cangkemu” jawabku ketus. “Dikejar jurig Rot? Kan emang kamar mandi sekolah kita ini katanya angker?” tanya Adi. “hush ngawur kamu Di, kalo jurig berani sama aku, udah sejak lama aku dimakan jurig sungai hahah” jawabku. Waktu kami masih asik bercanda sembari menunggu angkot, Mbak Nur yang tiba-tiba bergabung bersama kami. “Loh kok belum pada pulang? Bukannya sudah keluar sejak tadi harusnya?” tanya Mbak Nur. “Iya Mbak, udah tadi keluarnya, eh pas udah di luar Jarot dapet panggilan alam, jadi nunggu tainya Jarot keluar juga.” Kembali mulut Yudi nyerocos se-enaknya. Mbak Nur tertawa mendengar omongan Yudi. “heh Yud, asui, cocotmu lho” hardikku karena malu hal seperti itu diceritakan ke orang lain. “Hush Rot, bahasamu lho, masih di depan sekolah kok kaya di hutan.” Kata Adi sok bijak. “Habis si Yudi juga gitu, malu-maluin” jawabku. “nah betul tu kata Adi, ucapan kita harus dijaga, agar tidak menyakiti orang lain, nggak boleh ngomong kasar begitu.” Kata Mbak Nur menasihati. “tumben Mbak Nur jalan ke sini, kangen ya sama kita?” tanya Yudi lagi. “Lah kan emang setiap hari anak-anak SMA nunggu angkot di sini Yudiii” jawab Mbak Nur gemas kepada Yudi. “ooh iya ya? Kok aku nggak pernah liat ya?” tanya Yudi lagi. “Kan kita pulangnya setengah jam lebih awal Yudi Yuliansyah binti Darmo Utama” kataku. “g****k kok dipiara, kambing itu dipiara biar gemuk” kata Adi. “Ya Tuhan, kenapa teman-teman hamba suka sekali mendzolimi hambamu yang lucu ini” kata Yudi diikuti tawa kami semua. “Astaga kalian ini ya, selucu ini loh kalian, kenapa aku baru tau sekarang” kata Mbak Nur lalu kembali tertawa. “Loh jadi selama ini kami kau anggap apa Mbak? Memedi sawah?” timpal Yudi sembari memasang mimik sedih. “Rot, pengen mukulin orang nggak sih?” tanya Adi. “Iya nih di, udah gatel tanganku” jawabku. “Mbak Nur, tolong aku mau dianiaya” kata Yudi langsung meringsut bersembunyi di belakang Mbak Nur. Tak berselang lama angkot yang kami tunggu datang, kami naik dan sepanjang perjalanan kami masih terus bercanda, hingga tak terasa kami sudah sampai di desa kami. “Eh, ngomong-ngomong kalian sebentar lagi ulangan akhir semester ya? Kalau misal susah, nanti bisa belajar bareng sama Mbak, nanti Mbak bantu ajarin kalian.” Kata Mbak Nur. “Wah beneran Mbak?” Jawab kami antusias. Tanpa berpikir aneh-aneh, kami menyambut baik ajakan Mbak Nur karena memang kepala kami terlalu lemot untuk menerima pelajaran. “Iya beneran, karena Mbak juga mau ulangan akhir juga, jadi kita bisa belajar bareng.” Kata Mbak Nur. “Mulai kapan nih mbak? Aku mau belajar sungguh-sungguh biar nilai raportku nanti bagus-bagus, jadi aku bisa buktiin ke bapak kalau aku lulus SD bukan karena bonus dari bu guru yang kasihan” kata Yudi. “mau nanti sore juga nggak papa. Nanti jam empat kalian ke rumah Mbak ya” Jawab Mbak Nur. Kami pulang ke rumah kami masing-masing dengan semangat karena akhirnya ada orang yang mau membantu kami belajar. Hari ini kami tidak ada kegiatan memancing dan mengintip, kami memilih untuk beristirahat mempersiapkan diri agar bisa konsentrasi untuk belajar bersama Mbak Nur sore nanti. Sekitar jam tiga aku pergi ke sungai untuk mandi, di sana ternyata sudah ada Yudi. “Rot, benerkan omonganku tadi pagi, ada yang aneh dari adik berkatak itu” kata Yudi membuka obrolan. “Berkakak blok. Berkatak gundulmu lima, dikira Mbak Nur jalannya loncat” jawabku. “Tapi benerkan?” dia menayakan lagi. “Iya sih Yud, tapi biarin ajalah, toh niat Mbak Nur baik juga mau membantu kita.” Jawabku. “Tapi aku merasa ada udang dibalik biar nggak gosong” kata Yudi lagi. “Jangan suudzon” kataku. Setelah selesai mandi aku langsung pulang, dan mempersiapkan buku-buku untuk belajar bersama Mbak Nur dan dua temanku. Aku terlebih dulu ke rumah Adi karena tadi sudah janjian dengan Yudi juga untuk berangkat bersama. Setelah kami berkumpul, kami langsung menuju ke rumah Mbak Nur. “Eh udah pada dateng, ayo sini masuk, Mbak udah beliin cemilan sama bikinin teh” sambut Mbak Nur. Kami masuk ke dalam rumah langsung membuka buku dan mulai belajar. “Kita belajar matematika ya hari ini, kalian ada PR nggak?” tanya Mbak Nur. “PR sih nggak ada Mbak, tapi kalau pertanyaan ada” kata Yudi. “tanya apa?”. “Kalau satu di tambah satu sama dengan dua, lalu bagaimana caranya aku dan kamu bisa jadi kita hahaha” jawab Yudi. “cokkkk... apaan sih Yud” aku dan Adi merespon candaan Yudi yang garing. “hahaha bisa aja sih ni anak” jawab Mbak Nur sembari mencubit pipi Yudi. Dengan penjelasan dan bantuan dari Mbak Nur, kami bisa lebih memahami pelajaran matematika ini, sehingga kami bisa mengerjakan soal-soal latihan dengan mudah. Beberapa saat setelah kami mulai belajar, Mbak Wati pulang. “Lho pada di sini to? Kok tadi nggak bilang? Kan mbak bisa belikan cemilan” kata Mbak Wati. “ini Mbak Nur juga sudah menyiapkan cemilan kok mbak, sudah cukup” jawabku. “Besok-besok kalau mau belajar di sini bilang ya, biar mbak belikan makanan” kata Mbak Wati lagi. “Siap mbak? Tapi boleh milih to mbak makanannya?” tanya Yudi. “Cok raimu gak duwe isin, wes diwenehi ati ngrogoh tai” kataku. “hush mulutmu Rot” kata Mbak Nur. “aduh maaf mbak keceplosan hehe”. “modaro hahaha” kata Yudi. Mbak Wati berpamitan untuk mandi ke padusan, “kalian nggak mau ikut?” goda Mbak Wati, seolah tau kalau kami sering mengintipnya. Kami tersenyum getir mendapat sindiran dari Mbak Wati. “Mbak, besok kita belajar IPA ya mbak, aku banyak belum paham rumus-rumus fisika mbak” kataku. “Kalau itu nanti mbak bantu sebisa mbak ya Rot, soalnya kan mbak ambil jurusan IPS, kalau IPA ya pahamnya soal biologi saja” kata Mbak Nur sembari memasang wajah aneh. “Kalau biologi aku juga paham mbak, apalagi soal reproduksi hahaha” kata Yudi. “Itu sih otakmu saja yang ngeres Yud” teriak Adi. Tak terasa hari sudah mulai gelap, kami minta ijin untuk pulang. Sesampainya di rumah aku langsung disambut oleh bapakku. "Nah gitu lho le, rajin belajare, biar pinter, katanya mau jadi tentara biar bisa punya istri perawat" kata bapak. "Iya pak, untung saja Mbak Nur mau mengajari aku dan teman-teman, semoga besok waktu ulangan nilaiku dapet bagus pak" jawabku. "Kamu kapan belajar di tempat Mbak Nur lagi? nanti ibu buatkan cemilan biar makin semangat belajarnya" kata Ibu. Aku bersyukur sekali memiliki orang tua yang begitu mendukungku, apalagi dalam hal belajar, di saat para orang tua di desaku, hanya menyuruh anaknya sekolah hingga SMP, karena kalau sampai SMA akan membutuhkan biaya yang besar, lagipula buat apa belajar tinggi-tinggi kalau akhirnya membawa cangkul juga. Berbeda dengan Bapak dan Ibu, yang selalu berpesan "Le belajarlah setinggi mungkin, kalau pun akhirnya kamu menjadi petani, jadilah petani yang cerdas, bisa berinovasi, syukur-syukur bisa memajukan dunia pertanian di desa ini, sehingga hasil pertaniannya bermutu dan maksimal."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN