Tian tetap diam di dalam mobil. Mengawasi bangunan rumah yang tak jauh dari tempatnya. Orang mungkin menganggapnya kurang kerjaan, baginya ini adalah perjuangan. Ia takut wanita yang kini menetap di hatinya, butuh bantuannya tapi ia tidak siap sedia. Ia tidak mau itu terjadi. Lucy dan anaknya harus mendapatkan semua yang terbaik. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Tiga puluh menit lagi, ia akan tetap menunggu. Jika tidak ada tanda-tanda Lucy keluar rumah, sekedar jalan-jalan atau menginginkan sesuatu alias ngidam, maka Tian memutuskan untuk pulang saja karena ia juga harus menjaga Cia di rumah sakit. "Sepertinya malam ini, aku tidak bisa menjagamu Cia," gumam Tian pada dirinya sendiri. Pintu gerbang dari rumah yang sedari tadi Tian tatap terbuka. Menampilkan sosok wanita yang memang

