Aku selalu sedih saat menonton ulang drama Reply 1988, suasana rumah tanpa smartphone, persahabatan dan percintaannya ditata dengan epik. Jung Hwan, ya aku adalah tim Jung Hwan, aku kecewa dengan sikapnya yang selalu ragu-ragu.
"Dek angkat telponnya." teriak kakakku dari belakang.
"Kakak aja sih, gatau apa adek lagi nonton drama, ganggu aja sih." sahutku kesal.
"Dek....", suaranya manja
"Iya." aku mengangkat telponnya, suaranya khas, sepertinya aku mengenal siapa ini.
"Gorilla, darimana aja kamu? Ditelpon berkali-kali ga diangkat?." tanya pri tersebut
"Kemana aja kamu, baru nelpon, dichat dari pagi ga bales." suaraku sedikit ketus
Kakakku memukul kepalaku pelan dari belakang. "Pacaran terus, aku bilangin ibu. Cepet belajar sana.", kata kakakku sambil menggoda merebut telpon dan mau menutupnya.
"Kakaak, bentar ih, orang baru juga nelpon atuh udah disuruh nutup. Tadi yang suruh ngangkat siapa? Yee." balasku
"Gimana tadi bro?" lanjutku mengobrol dengan priaku.
"b*a bro b*a bro, panggil beb kek, susah banget manggil pacarnya sendiri pake panggilan sayang."
"Ga.", jawabku singkat saja. "Jadi abis kemana aja ganteng?" tanyaku.
"Kakakmu ga ngasih tau kalo di rumah sakit sedang ada seminar?"
"Ga."
"Ini anak pendek amat jawabannya." katanya heran
"Lah mau gimana lagi ganteng?" tanyaku menggoda
"Beb, besok nonton yuk, kangen sama kamu, kangen banget sampe kebawa mimpi nanti kayaknya." rayunya
"Buaya oh buaya, kenapa aku mendengar suaramu?" balasku
Kakakku terlihat lagi keluar dari kamar sambil melotot. "Cepet belajar, besok kan masih ujian.", kakakku merebut telponnya dan , "Steve, udah dulu ya. Adekku yang manis ini biar belajr dulu, besok masih ujian dia. Taulah kau macem mana IQ dia.", sambil mencubit pipiku.
"Kakak." sahutku sambil merebut telponnya kembali
"Jangan dengerin omongan kakakku, biasalah dia, iri, ga ada pacar, makanya kesepian." ejekku dengan muka paling konyol yang aku punya.
"Bener kata kakakmu, belajar dulu sana. Ketemuannya ntar abis ujian aja." bilangnya
"Katanya kangen?" tanyaku manja
Kakakku merebut kembali dan langsung menutupnya. Akupun ngambek dan bergegas ke kamar. Aku cari handphoneku untuk kembali menghubunginya. Tak kusangka kakakku mengikuti dari belakang dan segera merampas handphoneku ari genggamanku secepat kilat.
"Kakak, bentar, adek mau ngabarin temen adek dulu. Mau ngabarin kalo ga jadi keluar jalan, masih ujan." aku sedikit memohon
"Gloriaa" sambil mencubit pipiku, "Besok kan masih ujian, masa udah planning mau jalan, nanti ujianmu gimana?" tanya kakakku yang khawatir.
"Ya kan ujiannya sore. Bisa belajar paginya sampe siang tuh.", lagian kan sekarang ga jadi jalannya. Buat rewar bentar lagian."
"Ya ya ya, udah sana belajar. Nanti kalo kesusahan langsung ke kamar kakak aja." sambil mengelus kepala lalu pergi.
Aku tergolong anak yang penurut, kadang. Suka-suka hati aku, saat ini aku sedang dalam mood yang baik, jadi aku putuskan untuk belajar agar besok bisa seharian tidur sampai siang.
"Kak...", aku menghampiri kamar kakakku dan langsung rebahan di kasur empuknya.
"Apa dek?", sambil berjalan mendekatiku dari kursinya.
"AC-nya.", sambil menunjuk AC dan segera kakakku menghidupkannya.
Aku memeluk kakakku tanpa alasan, hanya ingin memeluknya. Tapi kakakku dengan sigap bagai tentara yang melihat komandannya, langsung menepis pelukanku.
"Kenapa kak? Ih sini dulu sih", pintaku manja
"Gah. Sana keluar dari kamar kakak." kata kakakku sambil mendorongku keluar kamar
"Ih gamau, orang adek kangen sama kakak, peluk doang elah masa gaboleh."
"Ya kamu bau dek." sambil menutup hidungnya yang mancung, "Sana mandi. Udah malem juga, abis mandi lanjut belajar. Kirain kakak udah mandi kamu dek. Ternyata bau."
Aku yang melihat ekspresi kakakku seperti pura-pura jijik, langsung kembali memeluknya, walaupun tidak berhasil, karena dia lebih gece.
Suara alarm seperti pemadam kebakaran memekakkan telingaku, aku mencari sumber suara dengan keadaan masih menutup mata.
"Haah, ini apaan, kok kayak perut orang." tak kuhiraukan, tanganku tetap bergerilya mencari sumber keberisikanku di pagi hari. Yang bener aja, aku tak pernah ingat mengatur alarm sepagi ini.
Tiba-tiba nafasku sesak, dan akupun menggeliat mencari oksigen, sambil ngos-ngosan.
"Bangun, udah pagi Gorilla."
Suara yang khas yang sering aku dengar. Saat aku membuka mata, aku kecewa, kakakku ternyata.
"Kakak, ngapain nutup-nutup hidung adek, ga bisa napas atuh euy wahai Fergusso.", kataku sambil menutup balik hidung kakakku.
"Sana buruan pergi, kakak mau mandi, harus cepet pergi ke rumah sakit." kembali mengusirku dari kamarnya.
"Kak nanti kalo pulang beliin nastar, toko depan rumah sakit kakak, enak banget adek suka." pintaku
"Sini cium dulu." goda kakakku
"Ga mau" bergegas jalan keluar namun dihalangi si Fergusso
"Ya udah kalo ga mau. weeek" langsung memalingkan wajahnya menuju kamar mandi
Aku yang sangat menginginkan nastar tersebut langsung berlalu dan mengelus kepalanya, "Kakakku yang ganteng, belikan yaaa manis. Sekalian makanan buat Alberto ganteng."
"Ga kalo ga cium."
"Bodoamat sini pipinya."
Aku langsung ke kamar untuk tidur lagi barang satu jam, karena kalo tetap di kamar orang tersebut, udah pasti ga bisa tidur nyenyak.
"Bioteknologi Pangan." k****a judul mata kuliah yang akan di ujikan hari ini.
Terdengar suara pintu kamar terbuka pelan, "Alberto" teriakku baru menoleh. "Oh, kakak, kok balik lagi, ada yang ketinggalan?"
Mencubit pipiku berkali-kali dan memelukku erat an gemas layaknya aku ini seperti masih bayi, "Ga ada Gor, handphone kamu ini lupa kakak kembaliin.",sambil memberikannya padaku
"Oh..... so sweet banget."
"Lagian pacarmu nelpon kakak mulu, katanya kamu ga bisa dihubungi, telpon rumah ga kamu angkat, berisik dia." kata kakakku sebal dan langsung buru-buru keluar lagi
"Waaah, dia kenapa?" dalam hatiku heran. "Ga kayak biasanya, sepele banget dia mau balik lagi buat ngembaliin handphone jaugh-jauh dari rumah sakit ke rumah."