Julia terbahak-bahak menceritakan kejadian semalam saat bersama Rei.
Elis yang mendengarnya tertawa geli melihat ekspresi Julia menirukan kejadian saat ia menghentikan aksi ciumnya terhadap Rei.
Menurut Elis, Julia memang pintar membuat cowok klepek-klepek padanya. Dengan modal wajah cantik, bodi semok dan pintar PHP in cowok bikin semua cowok tergila-gila padanya. Bahkan dengan rencana gila Julia terkadang membuat cowok rela melakukan apa saja, ya apa saja.
Elis mengusap air matanya karena tertawa geli mendengar cerita Julia. "Terus selanjutnya elu mau apa in tuh Si Rei?" Elis penasaran dengan rencana Julia selanjutnya.
Julia mengembangkan senyumnya seperti Joker sedang tersenyum pada Batman. "Gue bakalan bikin dia gak bisa ngelupain gue. Gak bisa jauh dari gue!" Jawabnya sambil menghembuskan asap rokok dan mendongakkan kepalanya.
Elis bertepuk tangan mendengar ucapan Julia lalu mengacungkan jempol tangannya. "Mantul (mantap betul ) " Ujarnya.
❤❤❤
Jam tujuh malam setibanya di Bekasi, Julia langsung melajukan motornya menuju rumah. Ia memang sengaja tidak mampir ke kampus Rei untuk bertemu dengannya, karena itu adalah salah satu siasat yang dia pakai agar Rei merindukannya. Dan ia juga tidak menelpon tadi siang tidak seperti siang sebelumnya. Tapi sayangnya Rei tidak menelpon balik dan ia merasa sekarang bahwa ia yang penasaran terhadap Rei.
Rei itu memang beda dengan cowok-cowok yang pernah Julia pacari. Rei berkharisma seperti Ariel noah, tapi bedanya kalau Ariel Noah itu berpengalaman dalam masalah cewek jika Rei sebaliknya. Bahkan Julia menduga jika ciuman pertama Rei mungkin ia lakukan hanya dengannya saja, hal itu bisa Julia rasain ketika mereka ciuman beberapa hari yang lalu.
Ciuman Rei terlalu kaku untuk ukuran cowok seumuran dia, tapi Julia menyukainya, dia menyukai cowok lugu seperti Rei karena membuatnya selalu ingin bertemu setiap hari.
Julia melirik handphone yang dia taruh disamping badannya, dia lihat baru jam sembilan malam.
"Hmm jam segini dia baru keluar dari kampus."
Julia mengeplak kepalanya sendiri. "Kok gue jadi mikirin dia sih?!" Ujarnya, bicara sendiri.
Karena tak mau berlarut memikirkan Rei, dia mengambil jaket yang menggantung dibalik pintu lalu bergegas menunggangi motor yang sudah ia taruh di garasi.
Julia melajukan motornya menuju tempat langganannya. Sebuah gerobak kecil yang menjual minuman sekoteng atau minuman yang berasa jahe dimana terdapat potongan kacang tanah, kacang hijau dan potongan roti didalamnya.
Ia memang sangat menyukai minuman berempah seperti itu dibandingkan dengan soda, karena ia merasa badannya hangat setelah meminumnya.
Tepat diseberang jalan adalah sebuah gang menuju kontrakan Rei, kurang lebih 100 meter dari tempat ia berdiri sekarang ia bisa menemui Rei disitu.
Lamunan Julia buyar ketika melihat dua orang cowok menaiki sepeda motor matic memasuki gang itu. Ia hafal betul cowok yang duduk dibelakang itu. Dia Rei.
Ya, seseorang membonceng Rei. Dan nampaknya cowok yang membonceng Rei itu tidak asing dimatanya, cowok bertubuh tinggi dan kurus.
"Anton!" Tebak Julia. Suaranya agak besar ketika menyebut nama itu sehingga membuat tukang sekoteng itu terkejut.
Julia kembali celingak-celinguk melihat ke arah gang. Tapi tidak menemukan tanda-tanda bahwa mereka akan melewatinya lagi.
Sebungkus sekoteng sudah berada ditangannya, sekitar 15 menit sudah Anton mengantarkan Rei tapi belum juga ia keluar dari tempat itu. Kali ini Julia terpaksa harus menyerah, karena sekotengnya perlahan mulai dingin. Dan dengan berat hati dia harus pulang kerumah dengan sejuta rasa penasaran dan kangen yang melanda jiwanya hari ini.
Baru tiba didepan gerbang rumahnya, Julia terdiam. Dia berpikir bahwa dia bukan tipe cewek yang gampang menyerah dan ia juga bukan tipe cewek yang suka penasaran. Baginya apa yang gue suka harus gue dapat ! Itulah moto yang dia terapkan sekarang.
Julia memutar motornya dan melajunya lagi menuju tempat tadi, tidak, tepatnya ia pergi menuju kontrakan Rei. Ia akan pergi ketempat itu untuk menghapus rasa penasarannya.
Dengan kecepatan 40/km sejauh jarak 500 meter tak ada 5 menit ia sudah tiba di depan kontrakan Rei. Tak ada motor matic yang terparkir didepan kontrakannya. Hanya terlihat lampu kamar Rei masih menyala terang benderang.
Julia turun dari motor lalu mengetuk pintu kontrakan Rei.
‘ Tok..tok...tok..’
Ia mengetuk pintu itu kencang, seperti seorang polisi sedang merazia sebuah Hotel kelas melati.
Setelah ketukan ketiga pintu itu terbuka, Rei menjulurkan kepalanya. Ia tersenyum ketika melihat Julia berada di balik pintu. "July, kirain aku siapa?"
"Ayo masuk." Ajak Rei, ia mempersilakannya masuk.
Julia masuk dan langsung duduk di kasur busa itu. "Kamu baru pulang Rei?" Tanyanya, pura-pura gak tahu.
Rei mengangguk. "Iya, di anterin sama Anton tadi." Jawabnya, sambil menyodorkan roti bakar pada Julia.
Ia mengambilnya lalu memakannya. "Antonnya kemana sekarang?" Tanyanya, masih mengunyah roti.
Rei tersenyum lagi melihatnya. "Sudah pulang." Jawabnya.
"Oh---"
Rei menghapus keju yang menempel di bibir Julia yang membuat jantungnya berdetak kencang melihat Rei berada dua jengkal dari wajahnya. Yang Julia bisa hanya membuka bibirnya. Menanti Rei mencium dan mencumbunya.
"Tahan Jul, tahan nafsu lu. Jangan sampe lu keliatan ngarep minta di cipok. Jangan sampe." Ujar batinnya.
"Kejunya nempel." Ujar Rei, memberi tahu. Lalu ia duduk sambil tersenyum dihadapan julia dan mencermati pakaian yang Julia kenakan.
setelan piyama bergambar keropi.
Ia menganggap Julia cocok memakai baju itu dibandingkan dengan setelan celana jeans. Karena ia menganggap July imut-imut memakainya dan tidak menampakkan keseksian tubuhnya.
Juli celingak-celinguk melihat sekitar tempat itu, ia tidak melihat handphone Rei didekatnya.
"Handphone kamu mana?" Akhirnya mau gak mau dia harus bertanya.
"Oh, rusak. Kecemplung di bak mandi tadi pagi. Tapi tadi siang aku telpon kamu tapi gak kamu angkat." Sahut Rei, ia memang menghubungi July walau gadis didepan tak mengangkat panggilannya tadi siang.
Julia mengambil handphone dari saku piyama itu. Ia mengecek panggilan masuk. Ada sebuah nomor asing menghubunginya dan ia memang sengaja tidak mengangkatnya karena takut Erik menghubunginya lagi.
"Nomor ini?" Tanya Julia, ia perlihatkan handphone itu ke Rei.
Rei mengangguk. "Iya, itu nomor pak Kasmin."
"Aku mau kasih tahu kalau handphoneku rusak ke kamu. Biar kamu gak nelpon aku dulu." Terangnya.
Julia terdiam mendengar ucapannya. "Nih cowok tulus banget. Gak nyesel gue kenal lu, Rei." Bisiknya dalam hati.
Julia bangkit dan menyudahi pertemuan malam ini dengan Rei. Ia mulai merasakan kantuk.
"Aku pulang dulu, sudah malam. Kamu juga harus istirahat Rei." Pamitnya.
Rei menarik tangannya. "Ehm besok malam saya mau ke Jakarta, ada urusan sama Anton." Ia memberitahu.
Julia mengangguk. "Oke, hati-hati. Kalau kamu kenapa-kenapa aku yang cemas!" Ujar Julia lagi.
Rei hanya tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya, ia bangkit mendekati tubuh Julia dan mengulum bibirnya lembut, membuat mata Julia terpejam menikmati ciuman lembut itu.
Rei menghentikan ciumannya, ia tersenyum menatap Julia.
“Aku pulang dulu, Rei.” Ujar Julia lagi.
Rei mengangguk dan mengantarnya sampai teras kontrakan.
❤❤❤
Keesokan harinya
Julia kembali menghembuskan rokoknya, ia lihat Elis sedang mengetik sebuah pesan dihandphone yang baru saja ia beli.
Elis menatap tajam Julia sambil tersenyum. "Kita main yuk ntar malam?" Ajaknya, membuat Juli penasaran.
"Main kemana, Say?" Tanyanya, Julia benar-benar penasaran. Karena sudah lama Elis tak mengajaknya jalan pada malam hari lagipula jika pada malam hari, mau gak mau ia tidak pulang ke Bekasi dan menginap di rumah Elis yang mewah itu.
Elis celingak-celinguk memastikan tidak ada orang yang berada disekitar mereka. Ia dekatkan bibirnya ke telinga July. "Klab malam." Jawab Elis, pelan.
Spontan July terkejut mendengarnya, memang dia pernah berkunjung ke klab malam beberapa bulan yang lalu dengannya tapi dia tidak merasa nyaman dengan cowok disekitar tempat itu, karena banyak cowok reseh. Saat itu ia hampir berantem disana. Dan kali ini Elis kembali mengajak lagi, tentu saja July akan menolaknya.
"Ogah ah. Banyak cowok reseh. Males gue, Lis!" Jawab Julia sambil mematikan rokoknya yang sudah memendek.
Elis memegang lengannya. "Bukan ketempat kemarin, Say. Ini tempatnya beda." Ujar Elis lagi, masih merayu Julia agar bisa menemaninya malam ini.
"Kemana?" Tanya July.
"Jakarta pusat." Jawab Elis.
"Tiap malam jam 10 ada acara khusus Girls party, Say." Ujar Elis.
Julia mengeryitkan dahinya tanda gak paham. "Girls party, apaan sih?" Juli benar-benar penasaran dengan acara party yang gak jelas seperti yang disebutkan oleh Elis tadi.
Elis kembali membisikkan July. "Itu khusus acara buat cewek yang nonton, you know... striptis, Say." Bisik Elis lagi ia lanjutkan dengan tawa kecil.
Julia ternganga, "What? Striptis?!"
Elis membekap mulutnya sambil celingak-celinguk. Ia tidak mau orang mengetahui pembicaraan mereka.
Juli melepaskan tangan Elis dari mulutnya. "Maksud lu, gue harus nonton cewek nari sambil meliak meliuk kayak ular di sebuah tiang, gitu?" Tanya Julia, ia hanya tahu striptis seperti itu.
Elis mengangguk tapi ada yang salah dengan ucapan July kali ini. " Iya, tapi bukan cewek yang kita tonton. Itu sama aja jeruk makan jeruk, Say."
Julia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Terus nonton apa? Beruang atau panda di tiang gitu. Hahaha, ragunan pindah kesitu, Lis?! " Juli masih menganggap hal itu candaan. Tentu saja ia tidak ingin menonton sesama jenis menari tidak senonoh dihadapannya. Terlalu menjijikkan.
Elis menggeleng melihat respon Elis yang terlihat kampungan menurutnya. "Lu mah bercanda. Nih gue kasih tau, yang nari cowok-cowok ganteng dan berotot gitu." Elis memberitahu sambil cengengesan.
Wajah Juli mulai menampakkan kejijik-annya setelah membayangkan para cowok menari seperti striptis cewek. Tak ada bedanya. Lebih baik dia menonton sirkus daripada penari gak jelas seperti itu yang hanya membuat perutnya mual.
"Malas ah, gue jijik liat cowok telanjang terus nari gak jelas gitu." ia menolak lagi ajakan Elis.
Wajah Elis memelas mendengar jawaban July. "Gak telanjang, Jul. Mereka masih pake kolor dan cuma nari aja dan gak boleh kita pegang. Kecuali kita kasih tips ke mereka." Ia masih memohon Julia.
"Ayolah Jul, temanin gue sekali ini aja. Gue pastiin lu aman kali ini. Gak bakalan ada yang godain lu. Please.."
Melihat wajah sahabatnya yang memelas membuat July kasihan. Elis memang sangat baik padanya, ia tidak pernah perhitungan dan sangat loyal selama ini dan ia juga seorang pendengar baik untuk cerita-cerita garing yang sering ia ceritakan. Tapi kali ini ia harus menyetujui permintaannya, setidaknya itu bisa membuatnya bahagia.
Juli mengangguk. "Oke, gue temanin lu. Tapi jangan lama-lama takut muntah gue lihatnya!" Ujarnya sambil melihat roman wajah Elis yang langsung tersenyum bahagia. Ia bahkan memeluk July karena sudah menerima ajakannya.
"First, gue harus nelpon Dady gue dulu. Biar dia gak khawatir, kalau dia khawatir dia bisa ngasih pengumuman lewat toa masjid kalau gue gak pulang-pulang."
Elis tertawa mendengar ucapan July, yang ia katakan memang benar. Ketika dia pernah mengajaknya untuk menginap dirumahnya pertama kali, Juli memang tidak memberi kabar pada ayahnya saat itu, alhasil ayahnya langsung membuat pengumuman lewat toa masjid didekat rumahnya. Saat keesokan malamnya ia pulang ke Bekasi, di komplek perumahannya heboh menyambut kepulangannya. Juli hanya bisa terheran sampai akhirnya dia harus bertanya pada Mpok Minah tentang hal yang sebenarnya. Ternyata ayahnya mengira July diculik Wewe gombel. Semenjak kejadian itu setiap kali Juli tidak pulang kerumahnya ia selalu memberi tahu ayahnya dari pada ia harus menanggung malu lagi karena ulah ayahnya itu.
Setelah ia menelpon ayahnya, mereka berdua pun meninggalkan tangga darurat itu. Juli harus kembali bekerja dan Elis harus ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya.
❤❤❤
Jam 22.15 wib
Elis memberikan kunci mobilnya pada seorang valet, ia lalu memasuki sebuah gedung berlantai sepuluh bersama Julia.
Tepat lantai lima mereka keluar dari lift dan memasuki sebuah tempat yang didepannya sudah dijaga dengan dua orang bodyguard.
Elis memperlihatkan KTP pada mereka, lalu mereka mempersilahkan masuk ketempat itu.
Setelah mereka masuk disana juga terdapat dua orang security wanita mereka meminta menyerahkan handphone dan kamera karena tidak diperkenankan untuk mengambil gambar disana.
Sesudah mereka memberikan handphone, mereka juga dikenakan membayar 150 ribu perorang dan dari uang itu mereka mendapat minuman gratis yang berupa, air mineral, soda atau bir. Mereka bebas memilih dari ketiga minuman itu.
Elis memilih bir untuk diminumnya malam ini, sementara Julia tidak begitu menyukai bir ataupun soda.
Julia sangat berharap ada bajigur atau sekoteng didalam daftar minuman itu tapi dia sadar bahwa dia tidak sedang menonton dangdutan di acara perkawinan tetapi sedang berada di klub malam, mau tak mau ia mengambil soda yang agak mahalan dikit daripada sebotol air mineral. Dan Julia tidak ingin menyia-nyiakan uang Elis yang sudah membayarnya hanya untuk mendapat air mineral seharga 6000 saja, setidaknya soda lebih mahal dari itu.
Elis menarik tangannya menuju dua buah kursi kosong tepat paling samping pojok 15 meter dari panggung, selebihnya kursi lain sudah terisi penuh.
Pengunjung klub itu rata-rata wanita muda ada juga beberapa tante-tante yang kelihatannya seperti sosialita. Pengunjung nampak riuh ketika dipanggung telah membuka tirai dan menampakkan enam orang cowok tampan, tapi mereka semua mengenakan topeng separuh diwajahnya. Topeng itu hanya menutupi bagian mata saja seperti hero Zorro.
Mereka bertelanjang d**a, hanya memakai celana jeans ripped saja.
Para pria itu mempunyai tubuh yang indah dipandang oleh kaum hawa, perut sixpack, d**a bidang, lengan berotot dan wajah sudah pasti rupawan. Walau memakai topeng tapi sudah menampakkan aroma ciri-ciri orang ganteng.
Musik mulai mengalun keras, Dj memutar sebuah lagu vengaboys yang membuat semua pengunjung berjoget dan berteriak heboh.
Satu persatu para cowok itu mulai berjoget dan membuka celana jeans itu perlahan sesuai irama musik yang mengiringi mereka.
Julia mulai mual melihatnya, sementara pengunjung lain berteriak, ‘Buka! Buka!’ meminta pada pria penari itu untuk membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh mereka.
Julia menoleh melihat Elis yang ikutan berteriak dan khusyuk melihat pertunjukan itu, ia juga tidak berhenti meneguk bir itu semenjak penari itu mulai berjoget.
Setelah semua penari melepaskan semua celana jeans yang mereka kenakan tinggallah kolor dan topeng yang masih melekat.
Kali ini Julia berharap tidak ada satupun dari mereka yang bugil, jika salah satu dari mereka bugil, sudah pasti ia akan muntah melihatnya.
Kelima penari itupun berjalan menuruni panggung dan berbaur dengan pengunjung, sementara satu orang penari menari di pole atas panggung sambil meliak meliuk seperti kucing minta makan pada tuannya.
Pandangan Julia terpacu pada satu orang penari tepat di arah jam tiga. Dia merasa mengenali tubuh penari itu dan tidak asing baginya.
Hati July berdebar kencang, dia berharap orang itu bukanlah orang yang seperti ia duga. Tapi ia sungguh tidak suka dengan rasa penasaran dan dia harus memastikan pria itu.
July bangkit sehingga membuat Elis heran melihat sahabatnya berjalan ke arah jam tiga.
"Lu mau kemana, Jul?" Elis setengah berteriak memanggilnya, karena alunan musik itu terlalu kencang dan memekakkan telinga.
July tidak menanggapi ucapan Elis, ia hanya fokus pada cowok yang sedang berjoget didepan rombongan Tante-tante itu.
Sepuluh meter mendekati cowok itu jantungnya makin gak karuan.
"Mudahan itu bukan lu." Dia berdoa dalam hati tapi ia masih melangkah mendekatinya.
Tepat dibelakang cowok itu July menarik tangan cowok itu sehingga membuatnya membalikkan badannya.
Ia lihat cowok itu terkejut dan memanggil namanya.
July menarik topeng itu dari wajahnya, dan benar saja ternyata seperti yang ia duga cowok yang hanya mengenakan kolor dan berdiri dihadapannya sekarang adalah..
Rei.