Mata Zara berkilat-kilat. Dia menarik napas dalam, lalu dengan susah payah menghembuskannya dengan tenang. “Ya,” kata Zara. “Aku telah belajar banyak hal untuk tidak semudah itu percaya pada perkataanmu lagi.” Zayn tidak menyalahkannya. Zara berhak marah. Zara berhak membencinya atas tindakan pengecut yang ia ambil ini. “Nyatanya kali ini kau harus percaya,” kata Zayn. “Apa yang harus kupercayai?” “Bahwa apa yang terjadi pada kita berarti sesuatu.” Zara tertawa, lalu menatap Zayn lurus, tanpa berkedip maupun ekspresi. “Apa yang terjadi pada kita, Zayn?” bisik Zara, nyaris tidak terdengar. “Zara-” “Apa kau mencintaiku?” “Zara dengarkan-” “Ya atau tidak?!” bentak Zara. Zayn menatapnya frustasi. Dia menjambak rambutnya dan bangkit berdiri. “Zayn-” “Ya! Sialan, ya aku mencintaimu

