Ciuman itu tidak berakhir dalam hitungan detik. Ia berlangsung lama, mendesak, seolah Bara ingin menelan seluruh napas Melia hingga tak ada lagi yang tersisa untuk dunia di luar sana. Setiap sentuhan bibirnya berbicara tentang kepemilikan yang mutlak kuat, tak terbantahkan, dan membuat seluruh tulang di tubuh Melia terasa lemas tak berdaya. Ketika akhirnya Bara menarik sedikit wajahnya, napas keduanya sama-sama memburu, saling bertautan di udara yang terasa makin panas.
Melia tak berani membuka matanya sepenuhnya. Pipi wanita itu memerah padam, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia khawatir Bara bisa mendengarnya dengan jelas. Namun lelaki itu justru tersenyum tipis senyum yang jarang dilihat orang lain, senyum yang hanya muncul saat ia berada di hadapan satu-satunya wanita yang berarti segalanya baginya.
“Jangan menutup matamu, Sayang,” bisik Bara, jarinya kembali menyentuh lembut kelopak mata Melia. “Aku ingin kau melihat siapa yang memegang seluruh hatimu saat ini. Aku ingin kau sadar sepenuhnya bahwa mulai malam ini, tak ada lagi yang bisa memisahkan kita.”
Perlahan, Melia membuka matanya. Tatapan mata hitam legam itu langsung menyambutnya penuh kobaran api yang takkan pernah padam. Di bawah sorotan lampu gantung kristal yang berkilauan, wajah Bara tampak begitu menawan sekaligus mengerikan. Seolah ia adalah dewa yang berkuasa atas hidup dan mati, namun di saat yang sama, ia juga menjadi pelindung yang takkan membiarkan satu pun goresan melukai kulit istrinya.
“Mas Bara…” suara Melia keluar begitu pelan, nyaris bergetar. “Apakah… apakah aku benar-benar takkan pernah bisa pergi dari sini?”
Bara diam sejenak. Ia menatap lekat-lekat wajah cantik itu, seolah sedang menghafal setiap lekuknya agar takkan pernah terlupakan. Lalu perlahan, ia menggeleng pelan, namun nada bicaranya begitu tegas hingga tak ada ruang untuk bantahan.
“Pergi?” ulang Bara pelan, seolah kata itu adalah hal yang paling tabu yang pernah didengarnya. “Melia, dengar baik-baik. Tempat ini bukan penjara bagimu. Ini adalah duniaku. Dan karena kau sekarang adalah milikku, maka kau pun menjadi pusat dari seluruh duniaku. Kau takkan pernah diizinkan pergi, bukan karena aku memaksamu… tapi karena aku takkan sanggup hidup sedetik pun tanpa keberadaanmu di sampingku.”
Tangan kekarnya melingkar makin erat di pinggang ramping Melia, lalu perlahan ia menuntun wanita itu berbaring perlahan di atas kasur empuk yang berbalut kain sutra berwarna gelap. Bara ikut berbaring di sampingnya, menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain tak henti-hentinya membelai lembut pipi istrinya.
“Kau tahu apa yang paling aku takutkan?” tanya Bara tiba-tiba, suaranya kini terdengar jauh lebih rendah, seolah sedang membisikkan rahasia terbesarnya. “Bukan musuh yang berniat membunuhku. Bukan polisi yang selalu mengintai setiap gerak-gerikku. Tapi bayangan bahwa suatu hari nanti kau mungkin merasa muak hidup bersamaku… lalu berbalik dan meninggalkanku.”
Melia tertegun. Ia tak pernah membayangkan bahwa sosok yang dianggap paling kejam dan tak kenal takut di seluruh negeri ini ternyata menyimpan rasa takut yang begitu mendalam rasa takut kehilangan dirinya.
“Mas… aku tidak akan pergi,” jawab Melia tulus, entah karena rasa takut atau karena hatinya perlahan mulai terpaut pada lelaki di hadapannya ini. “Aku sudah berjanji di hadapan Tuhan dan semua orang. Aku akan tetap di sini.”
Bara tersenyum puas mendengarnya. Ia menunduk kembali, mencium kening Melia dengan lembut sangat kontras dengan sifatnya yang kejam di luar sana. “Itulah jawaban yang ingin aku dengar. Dan untuk memastikan janji itu takkan pernah kau ingkari… aku akan memastikan bahwa di matamu, di pikiranmu, dan di hatimu… takkan ada tempat lain selain aku.”
Suasana ruangan itu kembali hening, hanya diisi oleh suara detak jantung yang saling bersahutan dan suara hujan yang kini mereda di luar. Namun ketenangan itu tiba-tiba terganggu saat suara getaran halus terdengar dari arah meja kerja di sudut ruangan. Wajah Bara seketika berubah dingin. Tatapannya yang semula lembut seketika menajam, seolah seekor harimau yang baru saja diganggu saat sedang bersama mangsanya.
Tanpa melepaskan pandangan dari wajah Melia, Bara meraih telepon genggamnya, lalu melihat nama yang tertera di layar. Rahangnya mengeras seketika.
“Tunggu sebentar,” ucapnya singkat. Ia mengangkat telepon itu, namun suaranya berubah drastis menjadi dingin, tajam, dan penuh ancaman yang membuat bulu kuduk meremang. “Aku bilang jangan ganggu aku malam ini. Kecuali jika kau sudah bosan dengan nyawamu.”
Suara di seberang sana terdengar samar, namun cukup jelas membuat Bara mendengus kasar. “Masalah kecil begitu saja tak bisa kau selesaikan? Bereskan sekarang juga. Jika sampai ada satu pun orang yang berani mendekat ke gedung ini malam ini… pastikan mereka takkan pernah bisa melihat matahari esok pagi. Mengerti?”
Bara menutup sambungan telepon itu dengan kasar, lalu melemparkannya ke atas meja hingga terdengar bunyi dentuman keras. Ia kembali menatap Melia, dan seketika, kilatan dingin di matanya perlahan menghilang, berganti kembali dengan tatapan yang memuja namun tetap penuh kewaspadaan.
“Maaf telah membuatmu mendengar itu,” ucap Bara, tangannya kembali menyentuh wajah Melia seolah ingin menghapuskan rasa takut yang mungkin timbul di hati wanita itu. “Itulah dunia tempatku tinggal. Dunia yang penuh darah, pengkhianatan, dan bahaya yang mengintai di setiap sudut. Tapi kau tak perlu khawatir. Selama aku masih bernapas, takkan ada satu pun bahaya yang berani menyentuhmu. Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani melangkah terlalu dekat, siapa pun yang berani menatapmu dengan pandangan yang salah, dan siapa pun yang berani berbicara kepadamu tanpa izinku.”
Melia menelan ludah. “Apakah… apakah bahaya itu akan terus mengikutiku sekarang, Mas? Karena aku menjadi istrimu?”
Bara mengangguk perlahan, namun tatapannya justru makin tajam. “Ya. Karena menjadi istriku berarti kau menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuhku. Mereka tahu betapa berharganya kau bagiku. Mereka tahu bahwa menyakitimu adalah cara tercepat untuk menghancurkanku. Dan itulah sebabnya… aku harus makin mengeratkan pelindungku kepadamu. Kau takkan pernah boleh keluar dari gedung ini tanpa didampingiku. Kau takkan pernah boleh berbicara dengan lelaki lain tanpa ada aku di sampingmu. Kau takkan pernah boleh membiarkan siapa pun selain aku mengetahui apa pun tentang dirimu.”
Ia kembali mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan. “Aku tahu ini terasa menyesakkan, Melia. Tapi beginilah caraku mencintaimu dengan cara yang takkan membiarkanmu jatuh ke tangan orang lain. Kau milikku, dan aku takkan membiarkan siapa pun mengambil bagian darimu, bahkan sedikit pun.”
Di saat itu, Melia sadar sepenuhnya: menjadi istri Bara Mahesa Pratama bukan sekadar menjadi istri seorang pengusaha kaya. Ia telah masuk ke dalam dunia yang terbagi antara surga yang penuh kasih sayang dan neraka yang penuh bahaya. Dan di tengah-tengahnya, ada lelaki yang akan melakukan apa saja bahkan menimbun mayat demi mayat hanya untuk memastikan wanitanya tetap aman dalam genggamannya.
“Sekarang,” bisik Bara, menarik selimut hingga menutupi tubuh keduanya, seolah ingin memisahkan mereka dari seluruh dunia luar. “Lupakan semua hal buruk itu. Malam ini, hanya ada kau dan aku. Dan aku akan membuktikan kepadamu betapa dalamnya rasa memiliki yang kurasakan terhadapmu.”
Sebelum Melia sempat berkata apa-apa, bibir Bara kembali menciumnya kali ini lebih lembut, namun tetap menuntut, seolah ingin menanamkan rasa itu jauh ke dalam tulang dan jiwa Melia, agar wanita itu takkan pernah sanggup lagi melepaskan dirinya.