Udara di dalam ruangan itu terasa begitu pekat hingga terasa sulit dihirup. Di tengah lingkaran pedang dan senjata yang mengancam, Bara tetap berdiri tegak bagai benteng tak tergoyahkan, memeluk pinggang Melia semakin erat seolah ingin meleburkan tubuh mereka menjadi satu. Tatapannya menusuk tajam ke arah tabib tua bernama Arjuna itu, matanya menyala membara oleh amarah yang meluap serta rasa memiliki yang tak pernah bisa digoyahkan siapa pun. “Kau pikir dengan mengepung kami begini, kau sudah menang?” tanya Bara dengan suara rendah namun bergema, menusuk hingga ke tulang sumsum setiap orang yang mendengarnya. “Ingat satu hal: Melia adalah milikku. Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambutnya, akan membayar dengan nyawa dan aku tidak akan membiarkan kematian itu datang dengan mudah.”

