Kecemburuan Prita

1134 Kata
Prita tengah duduk termenung di rumah mertuanya. Malam semakin larut tapi suasana rumah itu masih sepi. Mertuanya yang seorang dokter belum menampakan batang hidungnya. Malam itu Prita sengaja datang kerumah mertuanya untuk menemui Nina. Ia pikir, Nina akan tinggal disana saat ia mendapatkan kabar bahwa Nina bekerja di Jakarta, bahkan kini berada satu kantor dengan Jo dan Ben. Hati Prita tengah merasa kesal. Baru hampir dua bulan menikah dengan Jo, tapi sikap Jo sudah berubah total dan itu semua karena Nina. Jo tetap bersikap baik padanya, perhatian tapi tak lebih. Jo seperti tak ada rasa untuk menyentuh Prita. Kadang saat dirumah, ia sering keceplosan bertemu Nina, makan siang bersama Nina, Nina dan Nina. Prita tahu, Nina memang sangat dekat dengan Jo, bahkan sahabatnya itu jatuh cinta pada adik iparnya sendiri. Tapi sejak Nina tahu bahwa Prita dan Jo berpacaran dan menghilang dari kehidupan Jo, kisah cinta mereka baik-baik saja. Kini ketika Nina kembali berada disekitar Jo, seolah mengalihkan perhatian Jo pada Prita. Kini ia tengah emosi, karena sudah seminggu ini Jo selalu pulang larut malam. Entah mengapa Prita ingin memergoki Jo yang mungkin tengah bersama Nina. Sayangnya ternyata Nina tak ada disini. Di tempat lain, Nina tengah membereskan apartemennya. Ia merasa senang sekali bisa memiliki tempat sendiri. Hatinya merasa senang saat mengingat bahwa Ben yang menyewakan untuknya. Ia merasa senang karena mantan suaminya berhati baik dan perhatian padanya. Andai, semua itu Ben lakukan sebelum mereka bercerai, mungkin saja Nina sudah jatuh cinta padanya. Lamunan Nina terhenti saat handphonenya berdering nyaring. Dari Prita. “Halo, Ta?” “Mana Jo?” tanya Prita gusar tanpa basa-basi. “Jo? Kok tanya aku? Dia tak ada disini,” jawab Nina bingung, tapi perasaannya terasa tak enak. “Kamu seharian ini bersama Jo kan?” tanya Prita ketus “Nggak lah, kamu pikir aku gak punya pekerjaan dan kehidupan? Kenapa musti seharian ini aku bersama Jo?” jawab Nina mulai gusar. Tak ada balasan. “Ta?” tanya Nina saat yang ia dengar hanyalah deru nafas. “Ta, ada apa?” tanya Nina lagi. “Nin, aku bisa minta tolong?” pinta Prita tiba-tiba. “Boleh, minta tolong apa?” tanya Nina spontan mengiyakan. “Tolong jauhkan dirimu dari Jo, bisa? Sejak kalian sering bertemu, sikap Jo berubah Nin. Aku tahu, kalian berdua sangat dekat. Tapi boleh hargai perasaan aku? Biarkan aku menjadi istrinya, tempat dia bercerita, mengadu dan melakukan semua.” Ucapan Prita seolah palu yang memukul d**a Nina keras. “Ta, kok kamu bicaranya begitu?” tanya Nina ragu. “Karena sejak ada kamu, sikap Jo berubah Nin! Aku tahu kalian dekat lebih lama dari pada diriku, tapi bukan kamu istrinya Nin, tapi aku!” Nina terdiam. Ia mendengarkan suara Prita yang berubah parau menahan tangis dan kesal. Ia tahu sahabatnya yang satu itu. Prita bukan perempuan yang mudah menyembunyikan perasaannya. Ia akan bersikap spontan sesuai dengan perasaannya. “Bisa gak Nin, aku minta itu dari kamu?” tanya Prita lagi. “Aku tak lakukan apapun untuk membuat Jo menjauh darimu ta…,” “Bisa gak aku minta itu Nin?!” Prita mengulang pertanyaannya lagi tak menggubris pernyataan Nina. “Iya, tenang saja! Lagi pula aku dan Jo tak ada apa-apa! Kamu gak usah khawatir!” jawab Nina kesal dengan tuduhan Prita. Tak ada jawaban, yang ada suara nada yang menunjukan bahwa komunikasi mereka terputus. Nina berjongkok di lantai, tiba-tiba saja perasaannya tak enak. Ia tak bisa membela dirinya sendiri, karena sebenarnya, sejak ia bekerja di kantor yang sama dengan Jo, hampir setiap hari Jo mengajaknya makan siang bersama. Bahkan saat pulang kantor, Jo selalu mengajaknya makan malam bersama. Dan tentu saja Nina terima, karena bersama Jo, ia tak pernah lagi merasa kesepian. Tapi suara Prita yang memintanya menjauh, menyadarkannya, bahwa Jo yang sekarang bukanlah Jo yang dulu, ia sudah jadi suami orang dan sikap mereka berdua menyakiti perasaan Prita. Kemarin, Nina masih mencoba mencari pembenaran bahwa kebersamaan mereka berdua hanya sebagai sahabat, teman dan tak mengganggu siapapun. Nyatanya, belum sebulan Prita sudah meradang tak suka. Ada perasaan sedih dihati Nina untuk kembali menjauhi Jo, karena kehadiran Jo, seolah melengkapi dunia Nina. *** “Nin, kamu dimana? Aku sudah di foodcourt,” tanya Jo sambil berkeliling memilih makanan. “Aku sedang diluar kantor Jo, kamu makan duluan aja,” jawab Nina cepat. Sejak percakapannya kemarin dengan Prita, mulai hari itu Nina berniat untuk menghindari Jo. “Kembali jam berapa?” tanya Jo lagi suaranya terdengar kecewa. “Mungkin sampai sore, aku sedang di site bersama mas Wisnu.” “Baiklah, kabari aku jika kamu sudah kembali,” ucap Jo menyudahi pembicaraan. “Site apa Nin?” tanya mas Wisnu yang tengah berada di samping Nina dan tak sengaja mendengar pembicaraan Nina. “Ih, mas Wisnu nguping aja…,” ucap Nina sambil mencubit rekan kerjanya. “Kamu selingkuh sama suami orang ya?” goda mas Wisnu setengah berbisik ditelinga Nina. “Apaan sih mas! Dosa nuduh begitu!” ucap Nina lalu memukuli mas Wisnu dengan tangannya pelan. Ia pun segera beranjak dari duduknya dan kembali ke dalam ruangan untuk menenangkan diri. Entah mengapa, ucapan mas Wisnu, walau bercanda membuat hatinya kalang kabut. Waktu sudah semakin senja, tapi Nina masih sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan mas Wisnu dan mas Sayid sudah pergi keluar kantor untuk mencari material bahan untuk menjadi sampel. Tinggalah Nina sendirian dalam ruangan, merapikan pekerjaannya. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk, Nina pun menoleh dan melihat Jo berdiri didepan pintu ruangannya. “Jo?” “Kamu sudah kembali tapi tak memberitahuku.” ucap Jo sambil masuk ke dalam ruangan Nina. “Aku benar-benar sibuk, merapikan data di excel ini butuh waktu,” Tiba-tiba saja ia merasa gugup saat berduaan dengan Jo. Jo segera duduk dihadapan Nina dan menyuruhnya melanjutkan kembali pekerjaannya. “Sudah sana selesaikan,” suruh Jo. “Trus kamu ngapain?” tanya Nina kikuk. “Mau memandangi wajah cantik kamu saja, wajah itu tak pernah membuatku bosan,” puji Jo sambil mengusap lembut rambut Nina. Nina tersipu malu. Akh, Jo selalu tahu bagaimana mencuri perasaannya. Salahkan jika ia menikmati rayuan picisan yang Jo ucapkan? Tanpa Nina dan Jo sadari, Ben tengah masuk kedalam ruangan kantor tempat tim Nina bekerja. Melihat ruangan itu kosong Ben bergerak mundur untuk keluar, tapi langkahnya terhenti saat mendengarkan ada percakapan di ruangan dalam. Ben pun kembali masuk kedalam ruangan. Lalu ia memundurkan langkahnya saat melihat ada Jo dan Nina di dalam sana. Melihat Jo membelai rambut Nina membuat Ben mengerutkan keningnya. Gesture mereka begitu berbeda. Gesture itu bukan milik dua orang yang bersahabat dan berteman dekat. Nina tampak sibuk bekerja sambil menimpali ucapan Jo asedangkan Jo memindahkan duduknya dan memeluk Nina dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Nina. Begitu manja. Ben baru saja hendak membuka pintu ruangan itu, tapi ia menahan dirinya lalu bergerak mundur keluar dari ruangan. Ada pertanyaan mengganjal di hatinya, tapi ia ingin membuktikannya terlebih dahulu. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN