Sudah hampir satu minggu, namun tidak pernah sekalipun Justin menghubunginya selama itu. Hana sedang di taman, bersama Madeline yang duduk di atas kursi roda sambil menatap air mancur yang disekelilingnya ditumbuhi mawar merah yang tengah berbunga lebat. Hana senang setiap kali berada di sana, tapi kegelisahannya kali ini membuatnya tidak begitu memperhatikan keadaan sekitarnya. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Madeline, sudah berkali-kali semenjak dia bertemu dengan Hana pagi ini dan menyadari mood perempuan itu. Hana menunduk menatap Madeline, dia tersenyum kemudian menggelengkan kepala. “Kau sedari tadi menjawabnya dengan jujur bahwa kau tidak sedang baik-baik saja, tapi apakah kau mau bercerita, nak? Ceritakan saja.” Hana menatap Madeline lama-lama, dia ragu untuk bercerita. Dia ti

