Sebuah mobil hitam menepi ke pinggir jalan, di depan sebuah café dengan tulisan Basmala di kacanya. Hana menahan napas ketika dia mengintip melalui jendela dan melihat burung-burung dara yang biasa ada di sana menepi dan terbang menjauh. Pemandangan itu membuatnya terkagum-kagum. Namun tidak lama, karena selanjutnya pintu di samping Hana terbuka lebar. Roland yang membukakan. Di belakangnya, berdiri Silia yang tampak gugup. Gadis itu tadi duduk di depan bersama Roland, sedangkan Justin dan Hana di belakang seperti biasa. “Akhirnya kalian datang juga.” Ahmad, yang berdiri di ambang pintu cafenya langsung menghampiri Justin dan memeluknya sangat erat. Setelah apa yang Justin utarakan padanya di telepon tadi, Ahmad tidak lagi tahu harus mengatakan apa selain ucapan syukurnya kepada yang Ma

