Tiga puluh empat

1928 Kata

Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh saat Ratu Intan Wijaya Kusuma baru saja kedapatan melakukan panggilan lewat ponsel. Alisnya tampak keriting dan jidatnya berkerut. Ia menghela napas berkali-kali. Sahabat lekatnya, Lisa Suharyana, memandangi Ratu dengan tatapan prihatin. " Kawin, kali. Dia kan suka gitu, ngilang berhari-hari. Lo kayak ga tau aja kebiasaan Broto. Biar udah bijikless, dia kan masih laki. Pistolnya masih bisa nembak biar kata pelurunya kosong." Ratu mendelik dan balas menatap Lisa dengan garang. Ponsel miliknya sudah tergeletak pasrah di atas meja, dekat botol minum kesayangan yang kini stikernya sudah ditambahi coretan spidol permanen, " Ratu cantik siapa yang punya? Damar ganteng, dong!" Mengabaikan tulisan tangan Prabu yang ternyata jauh lebih rapi ketimbang tulisann

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN