Dua

1108 Kata
Menjelang makan siang, Damar menjadi orang pertama yang menjulurkan kepala mencari sesosok mahluk berambut abu-abu yang sejak kepalanya muncul di ruang staf, tidak berhasil menemukan apa yang dia cari. Damar mesti celingak-celinguk menyusuri satu persatu kubikel dan mendapatkan hasil negatif untuk usahanya barusan. Tidak ada Ratu sepanjang matanya menjelajah dan Lisa, teman sebelah kubikel wanita itu kemudian jadi sasaran sumber informasi yang bisa Damar andalkan untuk waktu kepepet ini. "Ratu ke kamar mandi, Pak. Sakit perut katanya. Masuk angin gara-gara begadang." Damar yang tadinya terlihat santai mendadak menoleh ke arah kamar mandi yang berada dekat dapur. Sayang, satu filing cabinet besar berisi folder penjualan menghalangi pandangan dan yang bisa ia lakukan hanyalah kembali menatap Lisa, si hitam manis berkacamata yang hobi nonton acara makan-makan di channel youtube sampai muntah. "Kenapa dia begadang?" Damar mulai menginvestigasi. Lisa yang tahu masa lalu sang atasan dengan sobat kesayangannya itu mulai memainkan alis naik turun seolah menggoda tapi ia tidak buka suara. Akibatnya, Damar yang penasaran kemudian memutuskan untuk berjalan ke arah kamar mandi dengan harapan bakal menemukan yang dia cari sementara Lisa hanya menatap kepergian atasan mulai meraih ponsel miliknya dan mulai mengetik sesuatu dengan amat cepat. Dicariin ama laki lu. Centang dua. Lisa memandangi layar ponsel sembari menghela napas. Saat seperti ini tentu saja Ratu tidak memegang benda itu bersamanya, dia pasti terlalu sibuk... "Kamu serius bilang Intan ada di kamar mandi? Kosong, loh." Kembali suara berat milik Damar mengetuk pendengaran staf kantor ekspor impor itu. Lisa lagi-lagi tidak bisa menjawab dan hanya mampu mengedikkan bahu. Bisa apa dia kalau kejadian seperti ini terus terulang selama beberapa kali dalam sehari dan yang paling bertanggung jawab untuk itu lebih penting dari siapapun di dunia. Merasa respon Lisa hanyalah sebuah senyuman kebingungan, Damar bicara lagi, kali ini dengan nada sedikit mengancam agar wanita itu mau buka suara, "Saya nanya, ya. Urusan setelah ini penting banget karena ada barang kita ketahan di bea cukai dan saya mesti pergi sama dia sekarang. Kenapa kamu gugup begitu? Intan ke mana memangnya?" Di perusahaan ini, hanya Damar yang memanggil Ratu dengan panggilan Intan, satu hal yang kemudian dijadikan olokan oleh sebagian besar pegawai. Belum menikah saja sudah punya panggilan sayang. Padahal setelah sekian lama, Ratu amat menghindari dirinya berdua-duaan saja dengan Damar meskipun sekarang pria itu tidak menolak ikut ambil bagian menggoda dirinya. Terutama setelah skandalnya di masa lalu dengan pria itu dibongkar habis-habisan oleh para pegawai yang penasaran bukan main. "Itu, Pak. Biasanya jam segini Ratu nongkrong di belakang, di luar deket tempat sampah." Suara Lisa mencicit ketakutan melihat mata sang bos yang terpicing tanpa ragu bak pisau siap ditikam. Alis Damar lagi-lagi naik. "Ngapain dia nongkrong deket tempat sampah?" Belum sempat Lisa menjawab, Damar sudah lebih dulu bergegas meninggalkannya menuju pintu belakang kantor yang berada di lantai bawah. Lepas Damar berlalu, kembali Lisa meraih ponsel, coba menghubungi sobat sintingnya itu namun seperti sebelumnya, tidak ada sahutan hingga akhirnya dia menyerah dan kembali fokus pada deretan barisan excel di hadapannya dan mulai memasukkan sejumlah angka sambil menggerutu. Kalo lo kena marah, bukan urusan gue, ya. *** "Kang, jangan bengong. Makan dong. Udah mami beliin yang banyak, wetfood kesukaan kakang." Suara Ratu yang sedang menyendok makanan kucing basah kemasan kaleng ke sebuah wadah styrofoam terdengar sedikit memerintah. Kucing jantan berwarna hitam dengan totol-totol putih di beberapa bagian di hadapan wanita itu hanya mengeong pelan lalu mulai makan saat Ratu mulai  bicara lagi. "Ntar ikut mami ketemu pak dokter ya, Kang. Biji kakang mau mami tebas, biar gak nebar benih ke mana-mana. Besok mami gajian, kakang ga boleh nolak. Buat masa depan kakang sendiri. Walo biji kakang ilang, mami tetap cinta kok." "Biji siapa yang mau kamu tebas?" Ratu yang masih sibuk menyendok wetfood pada kucing jantan itu nyaris tersungkur saat mendapati Damar berjalan mendekat dengan raut wajah keruh. Ratu kemudian membalas dengan gelengan sambil menyudahi urusan menyendokkan makanan kaleng si kakang dan berdiri dengan kikuk ketika melihat Damar berdiri di hadapannya seraya bersedekap. "Kakang mana lagi yang kamu punya? Banyak banget." Dia bertanya lagi. Tetap saja, Ratu menggeleng dan berniat hendak kabur saat Damar menarik lengan kanannya. "Apa itu juga jadi penyebab kamu tidak lagi memanggil saya kakang? Karena sudah punya kakang lain dalam hidup kamu?" Ratu mendengus kegelian mendengar kalimat itu. Tanpa ragu dia menunjuk kucing yang kini asyik makan tidak peduli sejoli dihadapannya sedang bernostalgia. "Itu kakang aku, Mas. Kang Broto namanya. Emang sejak pertama kali ketemu aku sudah kesengsem dan jadiin dia solmet aku. Ada masalah?" Wajah cantik tanpa dosa milik wanita yang di masa lalunya begitu slebor itu mengedip beberapa kali, membuat Damar melepaskan pegangan tangannya. Ia ikut tersenyum lalu memperhatikan si kucing yang kini tampak lahap makan. "Biji maksud kamu itu apa?" "Dia mau di steril biar nggak sembarangan kawin." Wajah Damar menyiratkan kalau dia tidak paham namun Ratu tidak ambil pusing. Ia memutuskan untuk masuk kembali ketika pria tampan itu memanggilnya kembali. "Kamu temani saya ke kantor bea cukai, ya. Tapi kita makan siang bareng dulu. Bentar lagi jam istirahat." Damar tahu, Ratu sudah hendak menggeleng ketika mendengar kalimat makan siang bareng disebutkan. Dia sudah paham karena hal yang sama terjadi tidak hanya sekali dua. Wanita itu kelihatan sekali hendak menghindarinya. Dua bulan ini dia sudah memperhatikan dan untuk seorang gadis berusia dua puluh tujuh tahun, belum punya pasangan hingga detik ini, menghindari mantan gebetan yang sudah dia buat jatuh cinta mati-matian adalah hal yang aneh. Apalagi karena Ratu tahu, Damar kini terang-terangan mengejarnya bahkan tidak malu menggoda wanita itu di depan rekan kerja mereka. "Nggak ada orang lain, Mas? Kok mesti saya?" Damar menggeleng, "Kenapa? Ada masalah? Kamu jomblo, kan? Nggak bakal ada pacar yang bikin kamu marah." "Jiaaah. Ngapain nanya-nanya pacar saya, Mas? Kepo, ya? Mau tau aja apa mau tau banget?" Seringai tipis di bibir Damar menjawab segalanya, sesuatu yang membuat Ratu menjadi salah tingkah lalu dengan gugup melirik langit yang dia kira bakal memberikan bala bantuan, minimal ada burung yang buang air lalu nemplok di jidat mulus milik mantan gebetannya itu hingga dia bisa melarikan diri. "Ngapain saya nyari tahu? Muka kamu menjawab semuanya, kalau nggak ada pria lain selain yang sedang berdiri di hadapan kamu sekarang. Betul, kan?" Mati kutu, Ratu hanya bisa tergagap saat Damar menarik jemarinya dan membawa wanita itu kembali masuk kantor sebelum ia berusaha kabur lagi. Kakaaaang, bantuin mami dong. Sayang, Broto yang tahu hari ini adalah hari terakhir dia bisa bercengkrama dengan dua biji yang akan dimutilasi hanya memandangi maminya dengan cuek sambil mengunyah wetfood. Barangkali juga dibarengi dengan doa semoga pria tampan itu menyekapnya dalam gudang sampai gajah memakai rok tutu, hingga niatnya untuk mengebiri sang kucing akan lenyap seiring waktu berlalu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN