Ayah,
Bintang Abimayu itu sempurna.
Ketika kami bertatapan, aku seolah mengenalinya.
Bagaimana bisa aku mengenal seorang pria?
***
Kastil Abinaya.
Bintang memandangi tampilan dirinya di cermin. Ia tampak sempurna dalam balutan celana dan jas hitamnya. Semua orang menginginkan pernikahan ini, kecuali Bintang. Tetapi tetap Bintang lah yang jadi peran utamanya hari ini. Ia terkenang kalimat ibunya tadi pagi. Nama gadis itu, Latifa Bakrie. Ifa, panggilannya. Bagaimana bisa Bintang tidak akan membandingkan Latifa dengan Hanifa, sementara keduanya akan dipanggil dengan satu nama : Ifa.
Bintang keluar dari kamarnya menuju keramaian dan hiruk-pikuk acara pernikahan itu. Bintang akan menikah. Ia akan kehilangan kebahagiaannya. Kini ia harus melepaskan cinta Hanifa selamanya. Ia akan hidup sebagai suami dari wanita yang tidak dikenalnya, melindunginya dan memenuhi segala aspek kehidupannya secara menyeluruh, termasuk dalam kata mencintainya. Bintang berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa ia akan sepenuhnya menempatkan Latifa sebagai istrinya.
“Anda, Bintang Abimayu?” tanya seorang pria mendekat.
Bintang menghentikan langkahnya. Ia tersenyum ramah. “Ya. Saya Bintang.”
Pria itu mengulurkan telapak tangannya, “Kenalkan saya Bakar Ramadan. Saya adalah Paman Ifa, yang akan menikahkan kalian.”
Bintang menyambut jabat tangannya. “Salam kenal, Paman.”
“Kalian dijodohkan?”
“Ya.”
“Apa kalian sudah saling bertemu?”
Bintang punya pemikiran kalau pertanyaan ini cukup aneh untuk ditanyakan. Selayaknya seorang pria akan bertemu beberapa kali dengan gadis yang akan dinikahinya, kecuali dalam kasus Bintang ini. “Mengapa Paman menanyakan hal ini?”
“Jujur kukatakan kalau keponakanku sepertinya bukan gadis yang akan menarik untukmu. Ibunya selalu mendominasi mereka. Dan setelah banyaknya pria yang mundur untuk menikahinya, aku terkejut keluarga Abinaya yang malah mengambilnya. Ini sedikit mencurigakan. Aku kenal Ifa meskipun hubunganku dengan ibunya tidak layak disebut baik-baik saja. Ifa gadis yang baik, tetapi Nyonya Naraya bukan.”
“Jadi?”
“Mungkin sebenarnya kau tidak ingin menikah dengannya?” tanya Tuan Bakar sepenuhnya curiga.
“Aku ingin menikah dengannya,” jawab Bintang tenang.
“Benarkah?”
Bintang heran sekali dengan inti percakapan ini. Seolah dirinya tak seharusnya menikahi gadis itu. “Apa yang salah kalau aku menikahinya?”
“Tidak ada. Ini bukan salah atau benar. Yang kutanyakan, apakah kau menikahinya sekedar memenuhi perjodohan?”
Bintang kurang nyaman atas pertanyaan itu. Tadi pagi ibunya juga memastikan hal yang sama. “Anda seperti meragukan keluarga Abinaya, Tuan Bakar.”
“Dengar, Nak. Aku di sini berbicara denganmu sebagai pengganti ayahnya.” Tuan Bakar tampak sangat serius. “Dia putri yang paling disayang oleh Bakrie, Kakakku. Aku tidak bisa menikahkan kalian begitu saja lalu membiarkan kau membuatnya menderita. Ifa bukan gadis yang akan memilih seorang pria dari hartanya. Aku tidak peduli kau seorang Abinaya atau siapa pun. Yang penting, bagaimana kau akan memperlakukannya nanti setelah dia menjadi istrimu.”
“Anda bisa melihatnya nanti, setelah dia benar-benar menjadi istri saya.”
Tuan Bakar terdiam mendengar kalimat balasan Bintang. “Ya Tuhan. Kau benar-benar keturunan Abinaya.”
Itulah Bintang. Ia bisa bersikap tegas dan menindas saat sangat ingin melakukannya. “Nikahkan kami. Aku akan memperlakukannya sebagaimana seorang suami memperlakukan istrinya, dengan cara yang baik.”
Tuan Bakar berdeham sambil mengantongi tangannya di saku celana. “Kau tahu, aku berusaha menemui Ifa beberapa kali. Ibunya sama sekali tidak mengizinkanku berjumpa dengannya. Aku yakin Nyonya Naraya sepenuhnya memaksakan pernikahan ini demi nama atau harta keluarga kalian. Tetapi keponakanku sepenuhnya patut untuk dibahagiakan.”
Bintang pernah berjumpa Nyonya Naraya, dan ia yakin sekali kalau perkataan Tuan Bakar bukan sekedar menjelek-jelekkan semata. Wanita itu aslinya memang jelek secara karakter. “Aku tidak bisa menjanjikan dia akan bahagia. Tetapi aku akan berusaha sebaik-baiknya, sebagai suaminya.”
***
Ifa bergerak sesuai perintah ibunya. Menuruti semua yang orang-orang katakan. Ia tak merasakan apa pun kecuali risi. Ifa sepenuhnya mendapatkan ucapan selamat yang berbahagia dari kedua kakaknya. Mereka yang berbahagia, bukan Ifa. Ifa hanya boneka untuk kebahagiaan ibunya, itu saja. Mereka disambut dalam pekarangan rumah mewah, mungkin sebut saja tempat ini istana, kastil semacam itu. Halaman luasnya di penuhi lima kursi yang di susun melingkar dalam setiap sebuah meja bundar. Banyak undangan tampaknya yang akan datang. Ini akan jadi hari paling menyesakkan bagi Ifa.
Nyonya Rani terlihat. Satu-satunya orang yang Ifa kenal selain yang ikut bersamanya. “Kau begitu memesona,” puji Nyonya Rani sesaat setelah Ifa bersalaman dengannya.
“Anda juga,” balas Ifa datar. Ia tidak mendapatkan pujian seperti itu dari ibunya sendiri.
“Baik sekali dirimu.” Nyonya Rani berjabat tangan dengan Nyonya Naraya. “Akadnya di dalam. Sebagian besar keluarga kami sudah datang.”
“Apa pamannya juga sudah?” tanya Nyonya Naraya tampak khawatir.
“Tuan Bakar?” Nyonya Rani mengangguk. “Beliau di dalam.”
“Para pelayan kami membawa barang-barangnya,” kata Nyonya Naraya. Beliau menunjuk beberapa koper yang berserakan di halaman berdampingan dengan pelayan yang menjaganya. “Tidak bagus mereka di sana.”
Nyonya Rani mengangguk. “Tentu saja. Barang-barang itu segera akan dipindahkan ke kamar Bintang.”
Ifa diapit dua wanita. Berjalan di tengah-tengah sambil tak tahu harus berpikir apa. Ia hanya bisa menyayangkan ekor gaunnya yang panjang tiga meter terseret. Warnanya putih, tentu akan sulit sekali mencucinya nanti. Syukurlah itu bukan tugas Ifa. Mereka segera menjadi pusat perhatian. Nyonya Naraya tentu sangat gembira dan ceria menerima semua perhatian orang-orang. Sementara Ifa bersyukur Tuan Bakar mendekatinya.
“Apa kabar, Paman?” sapa Ifa bersalaman kepada adik ayahnya. Pria yang akan menggantikan Tuan Bakrie sebagai wali nikah Ifa sesaat lagi.
Tuan Bakar membawa langkah Ifa sedikit menyepi dari ibunya. “Apa Ibumu memaksamu menikah? Aku bisa membantumu. Kau tak perlu takut sama sekali untuk menolak. Pernikahan ini tidak akan berlangsung kalau aku tidak bersedia menikahkan kalian. Katakanlah, Nak. Ayahmu menitipkan pesan khusus kepadaku. Bahwa, jika dirinya meninggal lebih dulu dan aku harus menjadi walimu, maka kau tidak boleh menikah karena dipaksa oleh siapa pun.”
Ifa tahu ini kesempatannya. Andai ia bertemu Tuan Bakar sepekan yang lalu. Namun, keluarga Abinaya bukan sembarangan keluarga. Mereka keluarga besar dari orang terpandang. Mundur sekarang sama saja mempermalukan dua keluarga. “Paman, kau orang yang baik.”
“Inilah sebabnya kau lebih disukai saat diam. Kata-katamu seolah menunjukkan kalau kau selalu memikirkan sisi terburuk dari orang lain. Aku tahu aku orang baik. Maka dari itu, beri aku jawaban. Apakah kau ingin menikah, dengannya?”
Pria ini pengganti ayahnya. Tidak ada yang perlu Ifa pikirkan lebih matang sebelum membicarakan suatu hal dengannya, terlebih saat ini. “Aku sudah coba menolak, dan aku gagal melakukannya. Paman lebih tahu jawabanku. Aku harus meneruskan pernikahan ini.”
“Tak kusangka kau sebijak ini.” Tuan Bakar tersenyum, senyuman yang begitu mirip dengan mendiang Tuan Bakrie. “Aku bertemu pengantinmu tadi. Dia sama sekali tidak buruk. Menurutku dia akan memperlakukanmu sangat baik. Jangan khawatir. Jalani saja sebisamu.”
“Aku bisa apa lagi selain itu,” jawab Ifa pasrah.
“Aku berharap kau akan bahagia.”
“Itu juga yang kuharapkan.”
Setelah percakapan singkat yang harus dilakukan sambil curi pandang kepada Nyonya Naraya, akhirnya ibu Ifa tersebut tidak bisa menahan dirinya lagi dan mendekati mereka. “Adik ipar, terima kasih karena mau menikahkan Ifa.”
Aura permusuhan begitu jelas terasa. “Ifa keponakanku.”
“Dia anakku.”
“Yah, memang begitulah.” Tuan Bakar menunjuk arah lain, memberitahu Ifa. “Aku perlu ke sana. Sampai jumpa sebentar lagi, Ifa.”
Ifa mengangguk. Baru dua langkah Tuan Bakar menjauh, Nyonya Naraya langsung mencecar Ifa dengan pertanyaan. “Apa yang dia bicarakan? Apa katanya?”
“Paman bertanya kabarku. Itu saja.”
Nyonya Naraya menampilkan ketidakpercayaan, tetapi tidak membahasnya lebih lanjut. “Bagaimanapun juga kau akan hidup lebih baik dalam keluarga ini. Kau tidak akan mengkhawatirkan uang, makanan, rumah dan pakaianmu. Kau sangat beruntung.”
Ifa rasa Nyonya Naraya lebih beruntung dalam pernikahannya. Dia sepenuhnya dicintai Tuan Bakrie jiwa dan raga. Ayahnya tak pernah berlaku kasar kepada ibunya meskipun segala hal yang Nyonya Naraya lakukan adalah untuk menjauhkan ayahnya dari keluarga yang beliau miliki. Model keberuntungan yang langka. Setiap hal yang diinginkannya selalu jadi prioritas bagi Bakrie Ramadan.
Bintang tetap di tempatnya berdiri saat kepala orang-orang beralih ke satu arah. Pintu masuk disesaki mereka yang ingin tahu seperti apa gadis itu, yang akan dinikahi Bintang. Kata ibunya, dia cantik dan tidak banyak bicara. Bintang hanya bisa memperhatikan bagian belakang wanita itu yang sedang berbicara dengan pamannya, Tuan Bakar. Dari cara gadis itu berdiri dia tampak sebagai pribadi yang tenang, anggun, bersahaja. Gadis itu tak menunjukkan sikap bahagia yang layak dalam situasinya. Menurut Bintang, dia perlu bersuka cita menjadi menantu pilihan Nyonya Rani. Tak semua orang seberuntung dia. Tidak akan ada gadis mana pun yang akan menyamai keberuntungannya itu.
“Kau cukup beruntung dengan wanita, Anakku.” Tuan Abim menyodorkan segelas minuman kepada Bintang. “Dari parasnya, dia mengungguli semua wanita yang pernah aku lihat. Pernikahan yang ibumu atur tidak seburuk ketakutanku.”
“Ketakutanmu, Abah? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Bintang ragu.
“Aku takut kau menyakitinya,” jawab Tuan Abim santai. “Kemarahan bisa menguasaimu. Perasaan kadang mempengaruhi karakter kita. Perasaan sombong telah mendorong Iblis untuk menyusahkan dirinya sendiri.”
“Apa maksudnya itu?”
Tuan Abim membenturkan gelasnya ke gelas yang Bintang pegang hingga bunyi terdengar dan cairan di dalamnya bergejolak. “Kau bisa membencinya. Itu maksudku. Gadis ini bisa menjadi benalu bagimu. Banyak alasan dan banyak cara untukmu menyakitinya.”
Bintang lelah dengan semua orang yang meragukan dirinya. Pertama ibunya, lalu Tuan Bakar dan sekarang, ayahnya. Bintang jadi berpikir ada yang salah dalam pernikahan ini. Entah dirinya, atau gadis bernama Ifa itu. “Abah, saat aku mengambil keputusan ini, aku sudah meneguhkan hatiku. Aku tidak akan menyakitinya.”
“Kita selalu menyakiti orang yang paling dekat dengan kita. Kau tahu, aku sering menyakiti ibumu. Tetapi, aku tidak terus melakukannya, karena itu bukan kesengajaan,” jelas Tuan Abim bijak.
“Aku mendengarmu. Aku paham yang kau maksudkan.” Bintang mengangkat tangannya sambil mengakhiri perang kata diantara mereka. “Kita selesaikan pembahasan ini.”
Tuan Abim tersenyum lebar lalu menepuk pundak putranya. “Semua yang terlepas darimu sudah ditakdirkan. Semua yang mendatangimu juga sudah ditakdirkan.”
Bintang menyimak karena tak bisa menemukan kata bantahan. Ia memang sudah menerima seseorang sebagai takdirnya. Ia menerima Latifa Bakrie, sebagai istrinya. Entah seperti apa rupa gadis itu.
“Gadis ini, kalau boleh kukatakan, dia akan membuatmu sangat bersemangat menunggu malam,” bisik Tuan Abim di telinga putranya.
Bintang ingin menanyakan maksud ayahnya. Namun ia tak bisa melakukan itu karena Bintang diharapkan untuk bersiap di sisi penghulu. Kini ia bisa secara jelas memandangi mempelainya. Gadis ini menakjubkan. Sungguh, hanya kata itu yang mampu mewakili betapa menakjubkan paras miliknya. Bintang menilai sebagai pria, beberapa orang di sisinya termasuk penghulu dibuat terkesima. Wajah itu yang akan menjadi sambutan bagi Bintang setiap hari. Paras itu akan menemaninya sebelum dan ketika bangun dari tidur setiap malamnya. Bintang telah bersemangat menunggu malam sejak mata indah gadis itu menatapnya.