Tentang Abinaya

1721 Kata

Ayah, Kau tidak pernah memberitahuku, kalau aku terlahir untuk hal yang besar. *** Ifa masih hanya bisa menggunakan panca indranya selain mata. Ifa masih merasakan Bintang di sisinya. Ifa masih merasakan kedutan nyeri di sekitar kedua pahanya juga bagian tubuh diantara dua lengannya. Bintang menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut lalu menarik syal yang menutupi mata Ifa. “Kau baik-baik saja, ‘kan?” Ifa mengerjap beberapa kali untuk membiasakan matanya dengan cahaya. Ia lalu menatap senyuman Bintang yang lebar dan sangat dekat. Ifa menggigit bibirnya agar ia tak mengatakan kalimat yang tentu tidak ingin Bintang dengar. Ifa ingin berteriak atas semua rasa sakit yang baru saja dialaminya. Sebenarnya sampai saat ini pun rasa berdenyut itu masih sangat jelas terasa di sekujur tubuh If

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN