Ayah, Gilakah aku? *** Pelukannya hangat. Keberadaannya menenangkan. Namun Ifa takut sekali tiap Bintang mengeluarkan satu suaranya. Ia takut Bintang meminta lagi. Takut pula Bintang memikirkan dengan cara mengerikan luka-lukanya yang terlihat. “Anda melihatnya, bukan?” “Lencana jihadmu melahirkan Khumaira?” tanya Bintang pelan. “Begitu indah.” Ifa menegakkan tubuh melihat suaminya. “Saya tak suka begini. Saya benci putri Anda! Saya kehilangan diri saya yang sebelumnya.” Bintang menundukkan mata, biar Ifa lega melepaskan keresahannya. “Kau bisa mengatakan apa pun. Silakan katakan.” “Saya tidak ingin mengalami semua ini lagi, Tuan. Demi Tuhan! Saya jadi membenci Anda juga yang menjadi sebab utama saya harus melalui semuanya.” Bintang menghela napas demi mengurangi rasa tusukan tak

