Isabella memejamkan mata lebih kuat. Air matanya membasahi bantal satin. Di luar, lampu-lampu London berkedip sinis, menyaksikan penghancuran harga diri seorang perempuan di balik tirau suite mewah. Dan ketika Matteo akhirnya mengeluarkan suara puas, Isabella hanya berbaring seperti boneka rusak—tubuhnya dipenuhi bekas, jiwanya hancur, tapi tekadnya membara lebih panas dari sebelumnya. Matteo menghela napas puas, tubuhnya yang berkeringat berguling ke samping, meninggalkan Isabella berbaring seperti boneka yang patah. Dia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu menatap istri yang masih menggigil itu dengan mata dingin. "Kalau kau berani kabur," ujarnya tiba-tiba, suaranya seperti es yang retak, "aku akan bakar rumah ibu asuhmu sampai jadi abu. Kau ingat 'Panti Bintang K

