DUA PULUH

2209 Kata
"ULAR" terdengar teriakan dari arah bangunan di mana para pekerja tinggal.  Deba ?  "KEBAKARAN" terdengar teriakan dari arah yang sama  Aku bisa melihat nyala samar-samar di sudut bangunan. Rupanya Deba berusaha untuk mengalihkan perhatian para penjaga. Ketika semua orang disibukkan dengan asrama para pekerja, aku melihat Jon berhasil melarikan diri. Dia keluar lewat gerbang utama dengan kantong-kantong yang dibawa di punggungnya. Aku menghela nafas lega. Dia berhasil keluar.  Tinggal aku.   Tempat penyimpanan senjata tidak memiliki Jendela, jadi satu-satunya jalan untuk kesana adalah melewati selasar utama.  Penyimpanan senjata berada satu lorong dengan ruangan putri sang gubernur. Tepatnya di sisi tangga, ruangan paling pojok dilantai dua.   Aku mengendap-endap masuk, menjulurkan kepala untuk melihat ke koridor. Aku beryukur sudah tidak ada penjaga di depan pintu. Mungkin mereka pergi ke asrama pekerja. Aku harus cepat, sebelum mereka kembali berjaga.  Aku melewati koridor tertunduk-tunduk menghindari sinar-sinar berasal dari kebakaran di luar sana. Aku langsung menyelinap ke pinyimpanan senjata. Membuka pintu dengan kawat ajaib yang ku punya dan. Deng !  Ini dia yang kucari.  Aku mencuri beberapa bubuk mesiu yang digunakna untuk bahan peledak, aku mengambil anak tombak Klan Mixi. Setiap kali melihat ujung tombak ini, aku dapat merasakan kembali rasa sakit di pinggangku.  Aku melihat deretan tombak, pedang, kapak,trisula, palu, belati tertata begitu rapih, berderet di rak seperti di ruang penyimpanan makanan. Aku hanya membawa senjata yang kiranya mungkin untuk ku bawa. Bubuk mesiu,  satu bola baja  yang memiliki jeruji-jeruji besi tajam dan beberapa belati. Kuselipkan sebisaku. Kubungkus dengan layak agar aku tidak mengerat diriku sendiri.  Aku bersyukur ketika keluar dari ruang senjata, orang-orang rumah ini masih disibukkan dengan kebakaran.  Dasar aku ! aku selalu saja baik. Kadang-kadang jadi terlalu bodoh karena selalu ikut campur urusan orang. Aku membukakan pintu kamar sang putri gubernur.  Gadis itu duduk di atas kasurnya, membaca selembar Patchmant, dia melirikku dengan bingung. Alisnya terangkat bak sabit berlawanan arah, hitam pekat, dia punya mata yang dalam nan indah, bulu matanya panjang-panjang ketika mengerjibkan mata, bulu mata itu menyapu kulit pipinya. kulitnya yang putih berbintik-bintik, membuatku seakan tahu suhu kulitnya pasti hangat. Dia pasti nyaman apabila di peluk. Pikiran macam apa yang kupikirkan ?  Pokoknya dia cantik Aku mengedipkan mata "Kau terlalu manis buat terkurung disini, bebaskan dirimu cantik" kataku sebelum meninggalkan lorong itu tanpa suara.  Gadis itu terlalu kaget untuk langsung breaksi dan aku tidak punya waktu lagi hanya untuk menunggunya mengatakan terimakasih.  ? Aku tidak bisa membawa semua yang kucuri ke gubuk Sezarab. Sewaktu menyelinap kemarin aku menemukan sebuah tempat terbengkalai di tengah hutan cemara. Tempat itu di kelilingi batu-batu besar seukuran tubuh Jon. Batu-batu itu saling berhadapan berbentuk lingkaran. Sepertinya tempat ini dulunya digunakan sebagai ritual tertentu. Karena kulihat sendiri ada pahatan-pahatan bergambar hewan dan manusia.  Aku mengambil racun Wezxkur, beberapa belati ku selipkan di bawahanku dan bubuk mesiu. Sisa barang curianku, ku sembunyikan di balik batu. Ku kubur di tempat yang tidak terlihat oleh siapapun. Aku juga mengganti bajuku. Menggulung baju seragam mencuriku, menyimpannya di tempat yang sama dengan senjata-senjata tadi.  Aku berjalan menuruni hutan cemara, berbelok melewati sisi danau. Aku biasanya lewat desa Morgot. Desa itu sangat sepi. Tapi malam itu tiba-tiba saja salju turun, dan nuluri bodohku mengatakan aku lebih baik lewat hutan. Udara menjadi dingin. Aku memeluk diriku dalam luaran kulit domba. Aku seperti bocah pengemis tidak punya rumah yang mencari-cari goa di tengah hutan untuk menghangatkan diri.   Aku mendengar suara rubah melompat-lompat dan berkikik. Kebanyakan hewan-hewan yang hidup di daerah dingin akan tertidur selama musim dingin. Tapi beberapa  dari mereka yang tidak cukup makan akan terbangun, dan sialnya mereka akan jadi buruan. Karena dingin yang ekstrim di malam hari, sangat jarang pemburu hewan di Pasataria berkeliaran pada malam hari. Mereka biasanya berburu pada siang hari. Aku beberapa kali melihat mereka ketika aku sedang berlatih pedang di pinggir danau.  Ada suara langkah kaki ! Aku lantas menoleh kebelakang, kekiri dan kekanan.  Mencari-cari, manusia atau hewan yang ada di sana selain diriku.  Aku tidak melihat siapapun.  Aku baru menuruni bukit, dengan boot yang terus-terusan tertanam di dalam tumpukan salju. Salju turun semakin banyak, membebani daun-danu cemara.  Perasaanku jadi semakin aneh, seperti ada yang mengikutiku. Aku terlonjak, ketika ada suara tumpukan salju yang terjatu. Aku menoleh, satu pohon cemara berayun, aku menengadah ke atas dahan-dahan di atasnya, tapi aku tidak melihat binatang apapun yang membuat pohon itu bergerak sendiri.  Huh, aku pasti di-ikuti.  Aku memegang dua kunaiku erat-erat. Aku ragu untuk menggunakan pedang, karena belum cakap. Apalagi kaki yang kata Sezarab tidak boleh sejajar kini tertanam sampai ke mata kaki.   Begitu melihat mahluk apa yang dari tadi mengikutiku, ku selipkan lagi kunaiku. Aku butuh pedang ! Dia seekor beruang. besarnya seperti Jon. Tapi Jon sekali ku tebas pasti sudah keliatan dagingnya beda halnya dengan beruang ini. Dia punya kulit yang disembunyikan bulu-bulu tebal. Otot kulit pasti  kuat karena pekerjaannya selama musim semi hanya bisa makan saja "Oh manis yang benar saja, kau harunya tidur kan ? Musim ini terlalu ekstrim buatmu"  Dia malah mengaung.  Aku naik ke atas batu dan bersiap dengan pedangku, aku mengambil ancang-ancang berdiri yang benar versi Sezarab. Aku masih berfikir bagaimana caraku mengerat mahluk ini. Lihat saja, kakinya yang bertelapak besar membuatnya mudah untuk bergerak di atas tumpukan salju, sementara tidak denganku.  Beruang itu berlari menerjangku. Aku tidak mungkin lari. Aku pasti kalah cepat dengannya, satu-satunya jalan untuk bisa bernafas lagi besok adalah membunuh mahluk buas ini. Aku mengarahkan pedangku pada mata pedang yang bergerigi untuk mengeratnya dengan luka lebih dalam.  Ketika dia menerjangku, aku lompat menghindar dan berhasil menancapkan gigi pedangku di lengannya, tapi kurasa juga itu tidak menembus rambut-rambut tebal beruang itu. Aku salah mata pedang  Dia mendengus kesal. Aku cepat-cepat bangkit dari tumpukan salju, berjalan menjauh. Dia menyibakku dengan lengannya hinga aku terpental,  punggungku membentur pehonan sedikit berguling. Aku melihat sobekan di lenganku. Dia mencakarku.  Aku harus bertahan, mau minta bantuan pada siapa ? Babaku ? Haha..., sudah tidak bisa lagi seperti itu. Aku bukan lagi anak pemimpin Klan yang dilindungi semua orang. Disini aku cuma pencuri dan aku seorang diri.  Jangan-jangan Deba berbohong kalau aku akan jadi raja. Jangan-jangan aku mati mengenaskan di potong-potong binatang buas ini. Itu tidak akan terjadi. Dia berlari cepat ingin menerjangku lagi. Aku mengingat pelajaran Sezarab. Tumpuan ada di bisep bagian belakang. Aku merasakannya dorongan untuk menghancurkan sesuatu, dorongan untuk bertahan hidup.  Aku biarkan dia mendekatiku, tapi detik ketika dia mengangkat tangannya dan meraung aku menggores dadanya. Darah merah segar keluar dari dadanya. Dia meraung lebih keras , semakin marah. Aku menghindar darinya aku beralir kebelakangannya dengan gerakan yang cepat. Tapi terjatuh.  Brengsek  Dia menindihku. meraung dia atasku, lendirnya turun kewajahku. Aku melepaskan pedangku mengambil belati yang ku sembunyikan di celanaku. Dan ku tusung lehernya. Darah segar jatuh deras ke wajahku. Beruang itu tidak bisa menegakkan dirinya lagi. Tubuhnya bergetar di atasku. Aku masih punya celah untuk berguling menghindarinya.  Aku berdiri. Ku ambil pedangku. Beruang itu masih mau menggapaiku. Aku menendang wajahnya. Dan ku sobek tangannya. Ku sebek punggungnya hingga menganga diapun tidak bisa langi berdiri dia limbung dan jatuh ke tanah. Putihnya salju berubah merah karena darah beruang.  Aku menghela nafas. ikut terjatuh di dekat beruang. Aku bersandar di bebatuan yang terasa dingin di punggungku. Baba aku masih hidup.  Aku mengehela nafas lega ke udara dingin Beruang disebelahku megap-megap kehabisan darah "Kau menyerang duluan, badan besar !" kataku terangah-engah. Aku mengusap wajahku, bau amis darah beruang itu memenuhi udara dingin.  Ku lihat sekujur tubuhku penuh darah beruang "Aku kayak pembunuh" aku merasa miris harus memenuhi diriku dengan darah. Bila aku sudah jadi prajurit pasti lebih parah dari ini, aku akan membunuh lebih banyak lagi. Bukan hewan tapi manusia. Orang tuaku. Mendadak merak muncul lagi di kepalaku.  Entah kenapa aku menjadi haru.  Beginikah rasanya bertahan hidup ? tanpa siapapun yang bisa aku percaya. Dan aku dituntun untuk menjadi seorang raja. Aku menangis.  Itu kali pertamanya aku menangis, meratapi nasibku sendiri. Bisa-bisanya aku terdampar di negara ini dan menjadi pencuri. membahayakan nyawaku. Kadang ku rasa aku terbebas dai ibu dan keluargaku yang suka mengatur. Lalu aku tiba-tiba jadi sangat merindukan mereka. Hariti, aku rindu kakak bodohku itu berlari di sampingku merangkulku dan mengataiku. Aku rindu tidur di pangkuan ibu, membiarkan dia mengatur hidupku, mengatur pakaianku, mengatur makananku , mengatur kepangan rambutku.  "ehe....he....he...." malam itu makin terasa dingin karena tangisku "Ba..ba..." bisikku pilu "Kenapa kau bawa aku ke tempat ini ?"  Tapi tidak ada jawaban kecuali suara nafas tersengal sengal sang beruang yang sedang meregang nyawa, suara darah yang terurai habis dari tubuh besarnya.  ? Aku membawa pulang kulit beruang dan kepala besarnya di bahu kecilku. Jon menganga melihat tubuhku yang penuh darah. Deba hampir-hampir berlari menghampiriku tapi entah apa yang membuatnya tertahan dan hanya melihatku dengan wajah tidak percaya bahwa aku bisa melumpuhkan seekor beruang. "Dia menyerangku sewaktu pulang" gumamku pelan, hampir-hampir tidak terdengar. Aku meletakkan kepala beruang dan kulit-kulitnya di selasar gubuk Sezarab.  "Kua terlihat berantakkan"  Aku hanya memainkan alisku, menyetujui Jon. Aku meletakkan Wezxkur di atas meja "Kau berhasil lolos tanpa cedera ?" tanyaku pada Jon  "Buka pakaiayanmu ! apa kau terluka ?" Sezerab mencoba menggapai tanganku tapi aku menepisnya terlewat kasar "Tidak" aku menjauh "Aku tidak terluka, ada..." aku mengambil sekantong besar bubuk mesiu yang ku kaitkan di belakang celanaku "Aku mencuri ini juga, bubuk mesiu" Aku menghela nasaf, mengambil tempat duduk pada kursi yang diletakkan dekat meja.  "Kau harus membersihkan diri, ku ambilkan air" Deba meninggalkan gubuk untuk menyalakan api di dapur sana.  Sezarab melihatku dengan wajah penuh tanya "Sebaiknya kau mendengarkan rencana-rencanaku Matiti !"  "Cih" aku tersenyum mengejek "Kalau aku menggunakan rencanamu kami pasti sudah tertangkap tadi" aku menghela nafas.  "Kau pikir siapa yang menyalakan api ?"  Oh, jadi itu perbuatan Sezarab. Kupikir kebetulan yang menyelamatkan kami.  Deba datang dengan nampan berisi air hangat dan satu kain pembasuh "Bersihkan dulu..."  Aku melihatnya dengan tajam "Aku tahu !"  Dia tidak banyak bicara setelah itu. Dia melihatku dari salah satu kursi lain di gubuk itu. Tangan Deba tertumpu pada sebuah nakas sepinggang yang digunakan Sezarab untuk meletakkan gulungan-gulungan partchmant.  Aku tidak membuka pakaianku, aku tidak menyentuh air yang di ambilkan Deba. Sejujurnya punggungku tergores batang cemara dan juga lenganku terkena cakaran beruang. Tidak apa-apa aku tidak mau membasuh tubuhku dan ditonton mereka semua. Lebih pada aku tidak sudi diperhatikan, dan tidak sudi merengek-rengek hanya karena secuil luka di hadapan mereka.  "Jadi apa rencananya untuk pencurian kedepan ?" tanyaku  Wajah Jon menegang "Kau tidak liat penampilanmu ? Mau mencuri bagaimana kau ini ?"  Sezarab menggeleng "Kau akan berlatih Matiti, berlatih tanpa henti selama beminggu-minggu ini"  "Kenapa begitu ?"  Sezarab mengambil satu gulungan Partchmant. membukanya di tempat tanganku bersandar "Pustinya mengibarkan bendera perang" Sezearab menggeleng lagi "Bukan cuma itu, di dataran rendah dekat Syabir, di sana disana terjadi perlawanan besar-besaran terhadap pemirintahan Raja Zamir"  Raja Zamir adalah Raja yang memerintah di Negri Syaka sekarang, sejujurnya aku belum tahu seperti apa Zamir ini atau kenapa tepatnya orang-orang negri ini memanggilnya Sang Raja Tungga. Raja yang memerintah seorang diri. Aku juga tidak mengerti kenapa dia dikatakan memerintah seorang diri padahal dia menaruh Gubernur di setiap daerah berpajak tinggi.   "Raja Zamir menginginkan daerah bukit Pooipo yang merupakan tempat para Syabir menggantungkan hidup dengan menanam buah-buah yang menjadi bahan dasar pembuatan Quela, Raja Zamir ingin membuat penampungan air terbesar di Negri ini. Arsitek dari Negri Utara di datangkan untuk penampungan itu. Tapi Rakyat di Syabir tidak sependapat karena menurut mereka itu adalah lahan pertanian untuk mereka mencari makan"  Tidak bisa di salahkan "Kita harus memposisikan diri bukan sebagai hakim, atau yang paling tahu benar yang salah. Kita posisikan diri kita sebagai prajurit. Artinya sebentar lagi Negri Syaka akan merekrut mileter besar-besaran"  Aku tersenyum  "Itulah waktuku masuk"  Sezarab mengajungkan telunjuknya padaku "Benar sekali, itulah waktunya kau menunjukkan taringmu"  "Aku tidak punya taring"  "Iya gigimu gigi s**u semua" Tawa Jon membahana, terdengar pilu ketika hanya dia saja yang menertawai hal-hal tidak lucu. Jon mengahiri tawanya dengan suara dahaman "Ada apa dengan kalian ?"  "Setelah itu kita akan berpisah" Sezarab bangkit dari duduknya "Aku harus mencari banyak informasi, berkeliling dari satu bar ke bar lain. Kau mau ikut Jon ?"  Jon terdiam "A..."  Aku mengedikkan bahu  "Owh baiklah, kau belikan aku sepotong roti. Bolehkah kita ke bar yang ada di dekat istana pertama. Aku mengincar seorang gadis penghibur disana"  "Terserah kau saja" Sezarab mengambil dua gulungan partchmant dari atas nakas di sebelah Deba, sebelum pergi dari gubuknya.  Meninggalkan aku dan Deba  Deba melihatku dengan tatapan penuh tanya "Kau terluka kan ?" suaranya pelan sekali, seperti bisikan angin malam  "Iya"  "Bersihkan lukamu sendiri, kalau kau tidak suka aku melakukannya untukmu" Dia mengeluarkan satu botol minyak rubah "Kita beruntung Jon mengambil banyak sekali minyak rubah"  Jon mengambilnya karena dia tahu aku akan banyak terluka, dia mengejekku waktu itu.  Aku diam saja, sebelum Deba beranjak untuk berisitirahat di tempat tidurnya yang hanya terhalangi kelambu menggantung,  aku menahan tanganya "Deba"  "Hmmm"  "Ini untukmu" aku mengeluarkan sebuah lukisan dari dalam bajuku dan sebuah cet berwarna biru  Deba melihat lipatan partchmant yang sudah sangat kusut dan hampir terbelah-belah karena pertarunganku dengan Beruang tadi.  Deba melihat partchman itu dengan sendu "Lain kali aku boleh minta di bawakan bunga ?"  Aku tidak menjawab. Aku hanya bisa terdiam. Aku mulai membuka pakaianku dan dia mendengus meninggalkanku. Sebelum tidur dari balik biliknya aku dengar dengan lembut dia mengatakan "Terimakasih Matiti aku suka lukisan ini"  Aku tersenyum, sambil berhati-hati melepasi bajuku. Kulitku terasa sakit tersayat-sayat ketika aku bergerak sendikit saja. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN