Ketujuh peleton berjalan menembus pagi yang senyap, bersalju dan dingin. Kami membawa persediaan makanan dan senjata. Aku berdiri di barisan terluar untuk memperhatikan kelompokku. Sementara prajurit elit di ketuai oleh Kapten Viz berkuda di belakang kami.
Aku seringkali berjalan sambil berkeliling melewati barisan anggota peletonku. Kali ini aku sengaja berdiri paling belakang dekat dengan prajurit yang berkuda. Mataku meruncing selalu tertuju pada Kapten Viz, dia berkuda dengan sangat gagah di belakang kami. Laki-laki itu sulit sekali tersenyum, dia hanya tersenyum ketika dia mengejek atau mencemooh seseorang.
"Kau liat apa bodoh ?" tanya Kukuta di sebelahku
Aku berjalan bersisian dengannya "Sehebat apa Kapten Viz ?"
"Dia mengerikan, bukan hebat. Dia memenangkan peperangan sepuluh tahun lalu dengan membunuh lebih dari seribu pemuda Kursukula. Semenjak itu Negri Syaka tahu, bahwa dia meimiliki banyak musuh tersebar di luar benteng istana ke tujuh. Atas bujukan Vilagit Raja Zamir membuat pertahanan berlapis-lapis dia setiap istananya"
Terdengar mengerikan, tidak heran. Luka-luka di wajahanya menceritakan semua itu. Menggambarkan bagaiman keras hari-hari laki-laki ini.
"Kau mau mengobrol saja, Tikus ?"
Aku akan terbiasa di panggil Tikus. Tapi itu lebih baik, dari pada banyak orang mengetahui nama asliku. Aku yakin Kerajaan Negri Syaka masih menaruh minat pada buku leluhurku.
Aku menoleh, dan aku masih ingat wajah prajurit berkuda di sebelah Viz, dia laki-laki yang hampir ku serang di depan benteng kerajaan. Kini dia tidak menggunakan pelindung kepalanya, aku lebih jelas melihat wajahnya. Dia terlihat bertolak berlakang dengan Viz, Viz dengan parutan di wajah, dan yang satu ini bisa dibilang tampan dan flamboyan.
Aku terlalu malas meladeni si flamboyan ini. Aku memilih berjalan membuat jarak dengan pasukan berkuda. Aku berjalan menuju barisan paling depan.
Dan aku terjebak ketika melihat di sisiku ada si cebol
"Kau keliahatan lebih sehat, kawan ?"
Aku berjengah, tidak mau mengorol dengannya juga. Kayaknya kalau aku tenang, gak bisa ! Selalu ada ruang untuk bermasalah. Aku sengaja mundur beberapa langkah. Jujur aku tidak mau lagi di tegur oleh prajurit elit yang berkuda di sisi Viz. Aku mau berjalan mengawasi teman-temanku.
Kami berjalan melewati Istana kedua, Istana itu hitam. Didominasi oleh segala sesuatu yang hitam, batu-batu hitam. Dari kejauhan aku seperti melihat batu yang ditumpuki salju.
Kami hanya melalui istana kedua. Kapten Viz menyapa para penjaga pintu istana untuk menyampaikan gulungan partchmant dari Raja untuk Kapten kapten di istana kedua.
Untuk apa Negara Syaka memiliki banyak sekali istana ?
Aku menanyakan itu pada Kukuta ketika kami beristirahat. Kami membangun kamp pada satu satunya jalur air yang terlihat di dataran Luit. Dataran rendah yang mulai kehilangan salju-salju tebal menyisakan salju-salju tipis, tapi angin yang bertiup disini dinginnya melebihi berendam di danau es.
"Pada Zaman Raja Fandes, Kakek buyut Raja Zamir. Istana-istana itu diperuntukkan untuk istri-istrinya" aku memeluk diriku mendengar Kukuta, karena jujur rasanya kerjaan Syaka membuang-buang kepingan yach saja. Membangun istana sampai tujuh.. "Raja Zamin beristi dua, Istri keduanya tinggal di istana kedua, sedangkan ratunya. Ratu Monika, tinggal di kerajaan di Pasataria"
Jon menyikutku "Seperti nama ibumu. Agnes"
Aku tidak menanggapinya. Jarang ada yang memanggil ibuku dengan nama yang dibawa dari Klannya. Dia lebih sering di panggil Nyonya Kwaititi.
"Istana pertama di tempati putra mahkota dan sebagian istana digunakan sebagai tempat penyimpanan Quela-Quela yang berumur hingga lima ratus tahun"
"Oh pantas saja kalau begitu acara lelang di adakan di istana pertama tanpa kehadiran Sang Raja Tungga" Sembur Jon
Ini pertama kalinya aku berbincang dengan orang lain tentang Negri Syaka. Jirit di sebelahku. Jauh disana Gili mamandangiku kepingin menggorkku, mungkin. Aku tidak suka menyapukan pandangku ke arah barat.
Prajurit elit, seperti biasa memisahkan diri dari kami. Aku duduk bersama semua peleton Tikus. Kami diberikan makanan satu ekor kelinci di bagi kira-kira untuk dua puluh orang dengan sekepalan nasi. Aku berusaha sebisaku untuk adil. Masing-masing mendapat sehelain. Kalau makanan kita terus seperti ini, kemungkinan orang-orang ini akan mati sebelum perang.
Aku berbisik pada Jon "Sepertinya aku akan berburu, kira-kira aku bisa lolos tidak ? Apa mereka akan membiarkanku ?"
Jon menggeleng "Kau akan di gorok si cantik itu" maksudnya si cantik adalah prajurit yang selalu menjaul mukanya di depan Kapten Viz, alias dia yang hampir ku serang di depan benteng kerajaan. Karena jujur saja wajahnya yang tampan itu tidak pantas berada disini.
"Kalau terus seperti ini, belum juga sampai istana ketujuh satu persatu dari peleton kita akan mati kelaparan, atau kehabisan tenaga"
Jon tidak ada pilihan dia mengelilingi pandangan pada masing-masing peleton orang di peleton kami. kalau kuberitahu mereka semua, ada yang akan mendukung dan ada pula yang akan mengadu. Tapi tidak bisa begini, ini tidak adil buat mereka. Bertahan seperti ini salah.
Aku mengedarkan pandanganku. Sebelah barat tidak jauh dari tempat kami adalah sungai yang mengalir menuju lembah Hanuin. Setelah perjalan yang lumayan melelahkan ini, kepalaku memetakan lokasi yang pernah kulali Dari Altar-Pasataria-Luit sampai nanti kami semua akan sampai dataran rendah Alfold. Ke timur sana adalah kerjaan nomor nomor tiga, empat dan enam. Istana itu melewati wilayah orang-orang Syabir. Jadi kami tidak bisa kesana. Yang paling aman buat kami adalah istana nomor lima yang memang satu jalu dengan istana nomor tujuh. Lalu disanalah nanti kami akan membangun barak-barak militer.
"Aku sudah tidak tahan lagi. Kalau aku menunggu waktu mereka beristirahat, aku akan ketahuan " Saat ini hanya beberapa pasukan elit yang berjaga. Dan satu ketua peleton Katak. yang kurus menjulukan kepalanya ke sana kemari "Kau tutupi saja aku, biar aku yang pergi. Kalau mereka mencariku katakan aku ke sungai"
"Aku ikut" Kukuta bergumam
Jirit menoleh pada kami, mereka duduk paling dekat mengapit aku dan Jon "b******k ! Mereka memang ingin kita mati" desahnya kesal.
"Mereka tidak mengambil orang-orang miskin di sekitar istana nomor dua karena mereka mau menukar posisi kita" Aku menggelengkan kepala, tidak mungkin. Tapi Kukuta terlihat sangat marah "Kau lihat saja, Raja tidak ingin melihat Pasataria mengalami kebangkrutan, dia terus menginginkan pajak. Dan menurutmu apa yang bisa menjalankan Pasataria lagi selain mendatangkan orang dengan jumlah sama dengan orang yang dikirim mati ke medan perang"
Aku tidak tahan mendengarnya
Suara Kukuta terdengar penuh amarah. Dia melempar gumpalan nasi ke dalam api unggun "Anak dan istriku, akan berkahir bagaimana mereka"
Jirit tidak berkata-kata anak itu jadi lebih pendiam. Dia masih terlalu muda untuk berada di situasi seperti ini. Seharusnya dia memanggang roti dan melakukan pekerjaan kotornya di bar milik siapa ya namanya aku tidak tahu. Orang itu tidak ada disini karena ku kira umurnya lebih dari empat puluh tahun "Apa yang akan dilakukan istriku untuk tetap membayar pajak pada kerjaan ? kalau mereka diusir-i, Rumah itu adalah rumah nenekku. Aku mempertahankannya sebisaku, bekerja serabutan. Binatang memang mereka !"
Jon menggelng-gelengkan kepalanya, dia ikut prihatin dengan Kukuta, dia berdecak putus asa "Setelah itu mereka mengatakan aku pahlawan. Dengan ini ?" Dia menoleh padaku "Bukan ini lucu Tikus ?"
Panggilan "Tikus" kini terdengar sangat akrab di telingaku "Membuatku ingin terbahak di depan wajah Zamir" Aku terdiam "Aku tidak akan mengorbankan kalian, aku tidak akan menghancurkan harapan.."
"Jangan lucu Tikus, kita semua sudah tidak punya harapan" Mungkin menurut Jirit panggilan Tikus itu cukup cocok buatku. Karena itu dia memanggilku begitu meski dia tahu nama asliku.
Aku tetap menggeleng. Pedangku kusiapkan. Aku menunduk. Aku memegang lutut Jon yang dalam jangkauanku, kode untuknya agar aku bisa melarikan diri sejenak, lebih dekat ke timur. Disana sepertinya tempat berburu. Aku membutuhkan apa saja untuk dimakan peletonku. Bukan nasi kepal sialanan itu lagi.
"Tikus..." bisik Jirit di sebelahku, takut sesuatu terjadi padaku
"Tenang aku sudah di ramal berumur panjang" kataku sebelum menunduk, bergeser ke belakang pelan-pelan menyusup di kegelapan dan hilang di semak-semak.
?
Ternyata tidaklah semudah itu kawan ! Aku memang berhasil membawa tiga tangkapan burung untuk kami makan. Tapi di tengah hutan aku ditangkap tiga orang prajurit prajurit elit. Mereka memang mencariku. Aku di geret menuju perkemahan.
kapten Viz melihatku, aku sudah dalam posisi meringkuk. Dia menendang bahuku hingga tubuhku mundur kebelakang, tapi kembali tetap bisa terduduk "Apa dengan begitu kau merasa jadi pahlawan Tikus ?"
Prajurit siap mati rata-rata sudah tertidur di delam tenda mereka, kembali dibangunkan untuk menyaksikan penyiksaanku. Kapten Viz mau semua tahu kesalahan yang kuperbuat. Peletonku keliatan ketakutan. Kukuta dan Jirit mengerang tak percaya.
"Memang" jawabku tanpa takut. Aku memang bodoh, tahu ? aku itu bukan orang yang mengikuti permainan. Kayanya darahku adalah darah seorang pembangkang.
"Kau" si cantik, yang sepertinya dendam sekali padaku, dia ingin melibasku detik itu juga. Tapi Kapten Viz memintanya untuk menahan diri.
"Boleh aku bicara, sebelum aku mati bodoh di depan orang-orang, aku ingin bicara !" kataku menantang maut.
"Kau tidak berhak bicara Tikus bau" dia menunduk, parut-parut diwajahnya keliatan begitu jelas dari jarak sejengkal ini. Di tangannya ada belati kecil, tidak jauh berbeda dengan belati yang kugunakan untuk berburu. Dia mendekatkan belati ke wajahku, dengan gerakan bebas merobek kulit pipiku.
Robekannya terasa hanya sentuhan pada awalnya lalu semakin terasa membara, dan membuat pandanganku menjadi kabur. Belati itu menyayatku, membentang dari pelipis ke ujung bibirku. Aku mengerjab, mataku jadi berair. Sakit terasa sampai tubuhku jadi lemas. Darahku menetes. Aku mendengar decakan beberapa orang.
Kapten Viz membelakangiku "KALIAN LIAT APA YANG TERJADI KALAU KALIAN MELAKUKAN SESUATU TANPA SEIZINKU ? AKU BUKANNYA TIDAK MENGIZINKAN KALIAN BERBURU, AKU MENCOBA MENJAGA KITA SEMUA TETAP BERADA DALAM SATU KELOMPOK KAWANAN, KITA TIDAK TAHU ADA APA DI LUAR SANA..."
"KALAU BEGITU BERIKAN KAMI MAKAN DENGAN LAYAK" Teriakku berang, aku mau bangun . Tapi rambutku di jambak seseorang dari belakang "Kalian tidak memberi kami makan dengan layak. MEMANG KAMI BINATANG ? KALIAN LEBIH BINATANG TAHU !!"
Kapten Viz menoleh dengan gerakan dramits, alisnya tertaut "Libas dia Khamer !"
Si cantik itu bernama Khamer, dia trersenyum menjengkelkan lalu menendang perutku dengan talak. Aku langsung terpakar aku merasakn tendangan lain. Luka di wajahku cukup membuatku kehilangan tenaga dan banyak darah. DI tambah lagi pukulan-pukulan yang membuat tubuhku kesakitan hampir di seluruh bagiannya.
Apakah ada yang patah ? semoga tidak ada. Aku masih berharap separah apapun lukanya, semoga bisa disembuhkan dengan minyak rubah.
"KAU BUTUH ORANG TUAN, DIA PANDAI BERTARUNG..DIA PANDAI..." Teriak Jon.
Oh, kasiannya kau Jon harus turut campur masalah ini. Selalu bersamaku bukan berati kau harus ikut mati denganku. Aku melihat bayang bayang Jon. Pengeliatanku semakin kabur.
"DIA..." Jon pasti ketakutan, bukan pada orang-orang ini. Dia ketakutan kalau aku akan mati. Akulah satu-satunya yang dia miliki. Begitupula aku. Jonlah satu-satunya temanku, Klanku yang masih bersamaku. Aku berdoa dia tidak membongkar rahasiaku, seperti aku yang membongkar ceritaku pada Igor "Dia..."
"BICARA OTOT TAK BEROTAK" teriak Viz kehilangan kesabarannya
"Dia mengalahkan beruang beberapa hari lalu, dia cukup tangguh. Kalian membutuhkannya dia garis paling depan" Jon menelan ludah
"Benarkah ?" Viz kembali menoleh ke arahku. Dia membungkuk untuk melihatku yang sudah meringkuk seperti anak kucing yang tak bisa jalan "Tubuh sekecil ini ?"
"Di Pasataria kami pencuri, dia pintar mengendap-endap dia...., dia murid Sezarab" Jon. Oh Jon. Kau sebut manusia itu.
Tapi kalimat itu menimbulkan Jeda pada tiap pukulan yang terus menerus. Sampai aku sadar, Viz memerintahkan prajurit elit untuk berhenti menganiaya aku.
"Obati dia" itu kalimat terkhir yang ku dengar malam itu sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaran.
Obati dia !
Sudah kubilang, aku tidak akan mati semudah itu.
?
Minyak Rubah, si penolong. Aku tidur seperti tidur di istana paling megah. Apabila sudah terkena minyak rubah. Aku akan seperti tewas dan terbangun kembali dalam keadaan yang seribu kali lebih baik. Tapi sepertinya tidak karena yang pertama kali kulihat adalah Viz.
Aku di dalam tenda Kapten Viz, aku tertidur di ranjang Viz. Apakah ini bisa dikatakan keberuntungan ?
Dia terduduk di atas kotak kayu yang di gunakan untuk persediaan makanan "Cepat bangun !"
Aku mendesah, bangun berlahan. Dan duduk. Menegakkan diri. Seperti prajurit
"Matiti ?"
Dia tahu namaku
Dia terkekeh, merendahkanku. Aku berusaha menjaga mulutku agar tidak berakhir seperti tadi malam. Aku meraba wajahku. Bekasnya menonjol, seperti parutan persis seperti wajah Viz, masih ada di sana. Ku rasa tidak akan lama sampai akhirnya aku akan berwajah sama seperti Viz.
"Aku tidak percaya aku dititipi seorang anak d***u oleh sahabatku"
Oh mereka bersahabat, ini pertanda baik rupanya. Aku beroda begitu
"Tapi aku orang yang suka berhianat, suka melakukan sesuatu sesuai mauku sendiri, Bahkan Raja tidak bisa menentangku. Aku hanya berhutang budi pada Sezarab mangkanya aku menyetujuinya. Kau tahu waktu itupun aku mabuk" setelah perpisahan kemarin di depan kerajaan, ini pertama kalinya aku mendengarnya banyak bicara, dia masih menakutkan "Aku hanya memaafkanmu sekali saja ! kalau kau membangkang sekali saja, atau menyela aku. Aku akan libas kau, aku akan menusukmu dengan pedangku sendiri. Persetan Sezarab"
Rupanya perjanjian itu hanya berdasarkan rasa terima kasih belaka
"Yang kau hadapi nanti bukan beruang, mungkin sanga atau macan. Kita akan bertarung di Safana dan senjata mereka adalah mahluk buas. Selain terlibat janji sialan itu, aku membutuhkanmu untuk melawan hewan buas"
Aku hanya mendesah, senyum kecut terangkat. Melihat itu Viz terbahak "Darimana pula Sezarab mendapatkan kau"
Dari Altar, dari Kwaititi..., itu adalah rumahku. Kau tahu !!