Tidak ada lagi tertidur pulas untukku, tanganku selalu siaga dengan kunaiku. Bisa saja mereka balik menyerangku dan membunuhku siapa saja bisa melakukan itu. Kami berada di satu-satunya rumah yang perapainnya menyala, kesatria Olexys bisa datang kapan saja menyergap dan memburuku. Aku menyesali diriku yang teramat lemah menghadapi ini, tubuhku yang cungkring dan tidak bisa bertarung. Aku anak dari pemimpin Klan Kwaititi yang hanya punya kunai di kedua tangannya.
Mataku mengerjap, aku terbangun oleh bau masakan yang menusuk hidung. Sudah terik ketika kami merebahkan badan pada lantai rumah yang dingin. Dari posisi berbaring aku dapat melihat Deba sibuk di dapur. Sezarab masih tertidur dengan terduduk di salah satu kursi kayu sambil memeluk senjatanya. Sementara Jon terlentang tubuhnya yang besar menghabisi hampir separuh ruangan. Aku iri dengan Jon yang bisa tidur begitu nyenyak. Aku membutuhkan sebuah tidur yang nyenyak dan dalam untuk bisa melupakan semua yang terjadi semalam.
Kita akan menjadi kelelawar, mahluk malam. Tertidur ketika terik dan terbangun ketika malam tiba lalu melanjutkan perjalanan kami ke gunung batu. Aku tidak tahu persis kemana kami semua berjalan, menurutku kami terus keselatan. Bagaimana orang-orang Syaka bisa sampai ke Altar adalah misteri buatku, karena sifat malas belajarku, aku belum pernah melihat peta Altar sebelumnya. Dan aku belum pernah turun berperang. Pengalamanku menjadi seorang pemimpin nol. Raja ? yang benar saja.
"Kau bangun ?"
Dengan malas aku terduduk
Deba melihat Kunai di tanganku "Hari sudah hampir sore"
Aku mengangguk sekali
"Aku masak sup kentang"
Aku mengangguk dua kali
"Mereka punya ayam, aku ambil" akunya, dia merasa itu salah. Sedangkan aku sudah tidak bisa melihat salah dan benaran, keduanya begitu abu-abu di mataku kini "Aku harap mereka akan mendapatkan ayam lebih banyak, aku lihat induk ayam sedang mengerami telur. Bisakah kau ambil satu telur untukku ?"
Aku mengangguk untuk ke tiga kalinya sambil menegakkan diriku, sekali lagi kulihat Sezarab dan Jon masih tidak bergerak mereka tertidur begitu pulas.
"Apa kau sepenurut itu ketika baru bangun ? padahal aku kira kau akan marah-marah lagi padaku"
Aku tidak menanggapi komentar Deba, aku berjalan ke kandang ayam. Sebelum melewati pintu aku menoleh melihatnya, dia sedang menoleh melihatku. Tatapan kami bertemu, tiba-tiba dia tersipu dan tertunduk. Aneh !
Pagi ini Deba mengenakan pakaian seperti layaknya Klan Kepala Besar, gaun tertutup yang longgar dia menggunakan ikat kain di kepalanya guna menutupi rambutnya yang putih. Yah, aku tidak tahu mengapa itu sangat penting untuk ku jelaskan, bagaimana cara Deba berpakaiayan. Setidaknya dia menutupi bagian tubuhnya yang terbuka menghindari siapapun tidak sengaja bersentuhan dengannya.
Di luar dugaanku, ayam-ayam suami sitri pendatang ini sangat banyak. Dia hanya punya dua domba dan punya ratusan ayam yang di pelihara dengan baik. Aku memotong dua ekor ayam lagi kembali membawakan Deba enam butir telur untuk Deba.
"Kurebus buatmu" Kata Deba mengambil telur yang ku letakkan di dekatnya. Anak ini sangat ceria, apa dia tidak pernah sedih ? Bagaiamana bisa ada orang seperti dia, dia masih terlalu anak-anak kurasa.
"Cepat aku lapar" gumamku
Deba mendengus, aku mulai mengumpulkan barang-barang yang mesti kami curi dari rumah ini. Deba berencana membakar tiga ayam yang bisa kami bawa untuk persediaan dia jalan. Kami punya dua kuda dan cukup persediaan makanan. Kami berencana untuk mencuri kuda si peternak. Untuk mempercepat
Jadi sebelum berangkat kami berkumpul "Katakan padaku bagaimana cara bisa sampai ke negri Syaka"
Sezarab memain-mainkan sisa janggutnya yang tidak bersih dia cukur "Ada dua pilihan, satu Melewati Gunung Mixi atau melewati Gunung Salju Berbisik ? Kau bisa memilih. Kalau kita mengingat apa yang kita perbuatan semelam, melucuti dua orang Klan mereka, kurasa kita tidak akan aman melewati Klan berbisik"
Jon mengasah kapaknya dengan mata awas mengamati Sezarab
"Kalau begitu kita tidak punya pilihan lain. Betul ?" Jon mengangkat alisnya mengkoreksi kalimat Sezarab yang berputar-putar
"Permasalahannya Klan Mixi tidak menyukai kami" aku ingat betul cerita para leluhur, Klan Mixi yang diinjak-injak kaum kami. Dulu mereka percaya bahwa klan kwaititi adalah separuh raksasa.
Jon tertawa "Mereka yang kalah berperang dengan kami, mereka dikalahkan hanya dengan ditendang dan diinjak-injak kan ?" Jon mengedikkan bahu "Kalau tidak salah, seperti itu cerita Met pada kami" lanjutnya merasa tidak yakin akan kebenaran hal itu.
Aku meningedikkan bahu tersenyum kecut "Masalahnya bukan padaku kali ini, masalahnya adalah tubuh besarmu Jon. Aku bisa saja mengakui diriku adalah Klan berbisik untuk mengelabui mixi-mixi itu tapi Kau, sepertinya tidak dengan tubuh besarmu itu..." aku melihat Jon, mencoba menelanja^^nginya dengan lirikan mataku.
"Sial" Jon melihat tubuh jangkung besar padat khas Klan Kwaititi "Paling tidak aku bisa memotong rambutku, benarkan Sezarab ? aku yakin aku benar"
"Kita liat apa yang mereka inginkan" Dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, sekantong Late "Kita bisa menukar ini dengan kepingan Yach"
"Jangan lupa kita harus memberikan suamiistri itu, kepingan Late untuk membayar apa yang kita ambil dari mereka" aku mengingatkan Sezerab
Dia mengangguk sekali menatap sekantong Late ditangannya.
Mixi-mixi itu adalah para penempa besi. Apapun yang berasal dari logam mudah untuk mereka buat. Mereka penggali dan mereka adalah para penempa paling handal di kerajaan manapun, mereka pembuat tiruan uang palsu dari segala penjuru negri di dunia ini. Tapi aku tidak pernah tahu bagaimana cara bernegosiasi dengan mereka. Para Mixi itu terkenal licik dan pintar.
Akhirnya aku mengikuti pendapat konyol jon tentang rambut panjang Klan Kwaititi yang disakralkan. Aku melihat cerminan diriku dari air jernih sumur tua yang dimiliki keluarga ini. Aku membersihkan wajahku, melihat wajah cekungku, rambut panjang yang di kepang terkahir kali oleh ibuku. Dia sangat bangga pada rambutku yang mirip dirinya. Dia memang punya rambut yang indah, aku mewarisinya dan aku sangat benci mengingat rambut seperti ini berasal dari Klan Roga.
Ketika aku memotong rambut panjang yang merupakan keagungan Klan kami, aku keliahatan seperti bocah. Bocah liar yang kelaparan, bocah pembantu di rumah bordir, bocah-bocah miskin yang tidak punya kehidupan dan mengakhiri hidupnya di penjara gelap atau diadu di arena Skula untuk menjadi santapan Singa. Ku pikir hanya aku yang terlihat seperti bocah, Jon lebih parah ternyata. Dia keliatan sepertu kentang dan buntutnya. Ya kepalanya terlihat kecil seperti buntut kecil kentang. Aku berusaha menahan tawaku dan dia paham kalau dirinya keliatan begitu konyol. Dia menyodok perutku
"Diam kau, bocah tengik"
Aku meninju lengan kekar Jon "Kita tumbuhkan, ketika kita pulang kemari lagi"
Dia menaruh tangan di Da*danya "Tentu rajaku"
"Hentikan !" aku tidak suka dipanggil seperti itu "Ngomong-ngomong mereka punya satu kuda"
"Aku memang sudah berencana untuk mengambilnya, bawalah aku akan meninggalkan tigaratus Late buat mereka" Aku menoleh ke satu kandang "Apa mereka di ikat disana ?"
Jon mengangguk,
"Siapkanlah semuanya Jon. Aku akan menemui mereka dulu, panggil aku jika kita sudah siap untuk berangkat"
Aku membuka pintu kandang domba dimana suami istri itu dikurung. Kandang domba dan kandang kuda kebetulan berdekatan. Jon sedang melepaskan kuda mereka. Kuda itu berwarna coklat dan bertubuh kaut. Orang-orang Kepala besar tahu caranya merawat binatang ternak.
Sang suami mengerang ketika satu-satunnya kuda yang dimiliki kami curi. Suami istri itu di ikat terududuk, bersandar diantara tumpukan jerami. Mereka terlihat sangat lelah.
Aku tidak punya kesempatan berkomunikasi dua arah dengan mereka.
"Aku ingin berterimakasih kepada kalian" kataku dengan suara dalam yang aneh "Aku tidak bisa mengatakan siapa aku, tapi dengan memberikan kami makan, mengizinkan kami membawa kuda dan persediaan makanan kalian yang berharga, kalian sudah melakukan hal yang amat berarti untuk Altar" Aku berdaham "Terimakasih, panjang umur kalian berdua" aku menepuk lengan si suami sekali.
Aku meletakkan pisau kecil tidak jauh dari mereka, sudah kuperhitungkan bisa mereka ambil untuk melepaskan diri. Tidak lupa aku menaruh tiga ratus Late untuk membayar apa yang kami ambil. Tentu semunya tidak sebanding, aku berjanji pada diriku bahwa aku akan mengembilkannya berlipat ganda suatu hari nanti.
Sewaktu akan berangkat, sempat kebingungan karena kuda kami hanya tiga dan tubuh besar Jon tidak memungkinkannya untuk membawa Deba. Terpaksa akulah yang berkuda dengan gadis itu. Sezarab memilih untuk memimpin perjalanan. Dia harus bergerak jauh di depan lebih dulu dari pada kami. Untuk memastikan jalan yang akan kami lewati aman. Kami akan memacu kuda setiap kali siulan Sezarab terdengar di depan kami.
"Pegang yang kuat" Bisikku ditelinga deba,
Aku suka bagaimana angin menghembus kulitnya, hingga wangi Deba tercium sangat manis, Tangannya menakan kekang kuat-kuat. Tangannya di tertutup sarung tangan kulit milik sang istri tempat kami menginap. Bisa kupastikan yang terbuka hanya wajahnya saja.
Rasanya Bokrok ini bukit terbanyak dan tidak ada habis-habisanya meliuk-liuk seperti gulungan ombak. Turun dari bukit satu naik ke bukit lain berjalan di celah-celah bukit tidak mungkin dilakukan dengan berkuda "Ini pasti melelahkan buat kuda-kuda ini"
"Apakah itu gunung mixi ?" Deba menunjuk ke depan,
aku tidak menjawab. Dia memegang lenganku. Aku sempat terkejut tapi aku sadar tangan itu dilapisi
"Apa itu gunung Mixi ?" tanyanya sekali lagi, kepalanya menoleh ke arahku.
Dengan gerakan yang kaku aku mengangguk
"Jangan bergerak terlalu banyak, nanti kita bisa jatuh. Aku tidak terlalu mahir berkuda"
Ini merupakan jarak terdekatku dengan Deba. Ketika dia menoleh padaku, aku sempat ingin lompat dari kudaku, tidak tahan melihat matanya yang sewarna langit biru "Aku bisa melihat mereka. menempa baja" wangi nafasnya terhembus di kulitku
"Bisakah kau melihat lurus saja Deba, atau kutinggal kau disini biar berkahir di tiang gantungan Olexys"
Mulutnya merengut tidak pernah menyukai reaksiku, ketika dia berbalik aku mengulum senyum. Dia masih anak-anak. Dia masih terlalu muda, untuk berpergian dengan kami, terlalu muda untuk mempertaruhkan hidupnya untuk menemuiku. Aku masih punya ribuan pertanyaan untuk gadis ini tapi lidahku kelu dan aku memiliki rasa tinggi hati yang aneh hingga membuatku harus menahan semua pertanyaanku.
"Tapi aku tidak a,,,,....memmtni....."
Dia bergumam dan suaranya tertelan oleh laju kuda dan semilir angin malam "Kau bilang apa ?"
"Tkkkdoo0......"
Aku menarik kekang kudaku menahan langkahnya lebih pelan agar bisa mendengar apa yang dikatakan Deba "Kau bicara apa ?" Kalau sampai yang dikatakannya tidaklah penting ku lempar dia dari punggung kuda ini.
"Aku tidak akan meninggalkanmu" dia melihatku lagi dengan mata indah berhias warna biru yang terlihat mengkilat seperti mega di senja itu "Kubilang aku tidak akan meninggalkanmu sampai salah satu dari kita mati"
Aku pernah mendengarnya mengatakan ini, iya kan ? apa aku salah ?
Wajah Deba yang cantik terbingkai bias cahaya senja, nafasku tertahan berberapa detik. Senyum mengembang sekilas, pipinya merah, sewarna dengan bibirnya yang melengkung penuh. Dia lebih indah dari senja ini. Mungkin aku sudah menyentuh bibir itu kalau saja aku tidak dengar suara siulan Jon didepan kami. Aku bersiul menyambut siulannya dan menarik kekang kuda kembali berjalan di antara bukit Bokrok.
Kami menenteng kuda kami memasuki celah gunung batu. Deba menyangga tubuhnya di antara bebatuan, wajahnya beku dan kaku, lalu mata itu berbubah putih. Aku mulai terbiasa dengan warna mata Deba yang tiba-tiba berubah. Jadi mahluk apa dia sekarang ?
Kami menunggu informasi dari Deba, untuk kembali melanjutkan perjalanan.
"Mereka berempat mereka penunggu di pintu masuk, ada tangga berkelok ke luar tebing batu tapi sangat terjal"
Aku begitu terganggu dengan cara Deba melihatku, dia selalu mengakhiri pandangannya ke arahku. Mau ku cong^^^kel saja matanya dan kuahadiahi pada para Mixi ini untuk mempermudah perjalanan kami ke Syaka.
"Kita harus meninggalkan kuda-kuda" lanjut Deba "Bawa perbekalan secukupnya" Dia menunjuk ke sebuah celah batu kecil seukuran setangah lengan tangan Jon "Kita mulai dari sana"
Aku tidak mengantisipasi, akan melewati medan yang begitu sulit seperti ini. Tumbuhhan lumut dan pohon-pohon menjalar memenuhi celah yang haru kami lewati itu "Lebih dulu" Aku mempersilahkan Deba berjalan lebih dulu
Sezarab sepertinya tidak sependapat
Aku mengangkat bahuku "Dia bilang dia tahu jalan" aku membela diri, dengan wajah tanpa dosa
"Tidak mungkin Deba yang memimpin, terlalu banyak tumbuhan Liar. Biar aku saja Deba, kau awasi aku dibelakangku"
Sezarab tidak sependapat denganku. Dan semua orang menyetujuinya. Jon melihatku dengan dagu diangkat seolah bilang "Seperti itu yang seharusnya dilakukan laki-laki, dasar kau bocah !"
Deba tidak keberatan, dia berjalan setelah Sezarab. Sezerab menebas bagian tumbuhan liar di depannya "Hati-hati Sezarab, banyak serangga, dan ada beberapa kalejengking"
Sezerab lebih hati-hati ketika merambas, semak-semak disana.
Kami berjalan di antara gua batu yang sangat sempit. Jon berusaha sekuat tega menahan bernafas di tempat sempit itu. Dadanya memburu turun naik bergerak di dekatku.
"Perhatikan jalan kalian, banyak Kalajengking" Siapa yang bicara,
Aku dan Jon melihat ke bawah kami silih berganti satu demi satu kalajengking berjalan di antara tembok batu yang menghimpit kami.
"Kenapa perempuan ini baru bilang Matiti !? Aku tidak suka binatang ini, demi apapun !" Jon berkeluh di sebelahku semakin menempelkan dirinya di dinding berlumut "Mereka tidak manis sama sekali" Jon terus saja bergumam "Matiti ini menjijikkan, sungguh. Oh..."
Aku memukul perut Jon
"Sialan kau cungkring" umpatnya
"Mulutmu yang lebih sial"
"Sstttsstt" Deba memperingati, aku dan Jon pasti keliatan seperti anak-anak tukang gerutu dimatanya sekarang. Iya kebetulan Jon dan aku baru saja menobatkan Deba jadi ibu kami dan Sezarab jadi ayah angkat kami. Mereka berdua sangat cocok walau terhalang umur ratusan tahun sepertinya.
Kami berjalan cukup lama dalam sempitnya celah itu, dan kupingku mulai ngilu bukan karena kalajengkingnya tapi karena Jon yang terus merengek seperti bayi.
"Tidak-tidak" Aku diam sebentar "Merangkak lagi ?"
Aku menghela nafas sesak, melihat lubang seukuran empat-lima kaki, yang harus kami lewati untuk mencapai tangga yang dikatakan Deba. Tapi diujung goa kecil itu, jelas sudah terlihat seberkas sinar disana.
"Berhenti berkeluh Matiti. Mau jadi raja macam apa kau kalau kerjamu berkeluh saja seperti anak kecil"
"Kalau jalan yang kau tuntun Salah, ku dorong kau ketebing Deba !"
Aku hanya mendengar hembusan nafas kesal dari Sezarab. Tanpa bicara dia sudah lebih dulu masuk ke dalam goa.