"Dasar anak Nakal, kamu mau Mami kutuk jadi batu kalau berani memotong pembicaraan Mami lagi?"
"Iya Mi, ampun. Jadi Ibu kok galak banget sih." ucap Darren seraya mengusap kepalanya.
"Mami dengar kamu sedang mencari sekretaris baru, jadi Mami sudah mencari yang pas untuk kamu." Bu Windy menarik paksa Riana yang saat ini tengah gemetar ketakutan.
"Bu, bisa tidak kita batalkan saja perjanjiannya." ucap Riana dengan wajah memelas.
"Tidak bisa, kamu sudah tanda tangan kontraknya, kalau kamu membatalkan kontrak itu, saya jamin kamu tidak akan mampu menanggung akibatnya." ancam Bu Windy.
Mau tak mau Riana mengikuti langkah Bu Windy memasuki ruangan milik Darren, Riana berusaha menyembunyikan diri dibelakang Bu Windy. Namun, masih tetap saja terlihat karena tubuh Riana lebih besar.
Lalu Bu Windy menggeser posisinya dan nampaklah Riana berdiri mematung sambil menundukan kepalanya.
"Mulai hari ini dia yang akan menjadi sekretaris kamu"
"Dia!!! Mami yakin mau menjadikan ikan buntal itu menjadi sekretarisku? Dia bisa melakukan apa dengan tubuh sebesar itu? Biar Darren saja yang mencari sekretaris lain, Darren tidak suka perempuan itu." jelas Darren sangat membenci Riana karena ulahnya kemarin. Baru melihat wajahnya saja burungnya seketika terasa linu.
"Kemarin Riana sudah menolong Mami dari jambret, meskipun tubuhnya gemuk tapi Mami yakin dia memiliki semangat juang yang tinggi, buktinya kemarin dia berhasil mengalahkan jambret itu."
"Tapi tugas seorang sekretaris itu beda Mi, pokoknya Darren tetep tidak mau, masih banyak orang yang lebih layak diluar sana." kekeh Darren.
"Pokoknya Mami tidak mau tahu, dia tetap harus jadi sekretaris kamu, tidak ada alasan lain lagi. Kalau kamu tidak menurut, Mami tidak akan menganggap kamu anak lagi." ucap Bu Windy tak kalah kekeh.
"Ah Mami, pasti seperti itu terus ancamannya." jawab Darren kesal.
"Pokoknya Mami tetap tidak mau tahu, keputusan Mami sudah bulat."
"Oke .. oke .. tapi dia tetap harus berkerja sesuai prosedur, tidak ada perlakuan istimewa karena wanita itu sudah menolong Mami. Aku akan tetap melakukan masa uji coba padanya selama tiga bulan. Jika, selama tiga bulan itu dia masih belum bisa mengimbangi pekerjaan dikantor ini. Dia akan dikeluarkan saat itu juga."
Namun, Riana masih berdoa dalam hati agar pria itu menolak keinginan Maminya, dengan begitu perjanjiannya dengan Bu Windy otomatis batal karena putranya sendiri yang menolaknya.
Dia tidak mau mati berdiri jika harus terus berkerja bersama pria mengerikan itu.
"Oke, Mami juga setuju kalau seperti itu, tapi kamu harus mengambil keputusan sesuai kemampuan Riana, kalau dia memang mampu, kamu tidak boleh macam-macam."
"Siap Mi!!" Jawab Darren seraya menarik sudut bibirnya.
Tentu saja Darren tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia memiliki segudang rencana untuk membuat wanita itu kabur dengan sendirinya.
"Besok dia harus datang pagi-pagi sekali untuk hari pertamanya berkerja, dan Rendi yang akan menjelaskan semua tugasnya."
"Baiklah. Ayo Riana, biar saya yang mengantar kamu pulang." Bu Windy menggiring Riana untuk meninggalkan ruangan Darren.
Setelah Riana dan Bu Windy menghilang dibalik pintu, Darren mulai menggerutu dihadapan Rama.
"Kamu bisa bayangkan betapa malunya aku jika harus membawa dia kesetiap acara yang harus aku hadiri? Orang-orang pasti akan menghinaku karena memperkerjakan ikan buntal untuk menjadi sekretaris." Darren mengacak rambutnya frustasi.
"Tenang Pak, Bapak tahu kan kalau ikan butal bisa saja menjadi kempis dan menjadi ikan lucu pujaan Bapak." dengan cepat Rama meninggalkan ruangan itu setelah menyelesaikan kalimatnya.
Dia tahu Bosnya akan naik pitam setelah mendengar ucapannya tadi.
"Rama!!!" Darren berteriak geram seiring menghilangnya Rama dibalik pintu.
***
Bu Windy mengantar Riana sampai kedepan kontrakannya. Meski dirinya sempat menolak. Namun, Bu Windy tetap memaksanya.
"Kamu harus ingat, besok jangan sampai terlambat karena Darren sangat membenci orang yang lelet, usahakan kamu bisa tiba dikantor sebelum Darren datang. Sebab, Darren akan datang kekantor setengah jam sebelum jam masuk kerja."
"Baik Bu." lirih Riana.
"Satu hal lagi, kamu harus bersunguh-sungguh dalam berkerja. Saya tidak mau kamu lari dari tanggung jawab dengan membuat Darren mengeluarkan kamu dari kantor." Bu Windy memperingatkan kemungkinan hal yang bisa saja dilakukan Riana.
"Baik Bu, saya akan melakukan semuanya sesuai dengan perintah Ibu."
Setelah mengucapkan beberapa pesan untuk Riana, Bu Windy segera pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Riana berjalan gontai memasuki kontrakannya.
"Kenapa musibah harus kembali menimpaku? Sudah diselingkuhi oleh Suami, dan sekarang harus terjebak bersama seorang Bos yang galak, mengerikan dan sedikit gila." Riana menghempas kasar tubuhnya keatas kasur.
Bahkan saat malam tiba mata Riana tidak dapat terpejam sama sekali. Bayang-bayang banyaknya pekerjaan yang akan diberikan Bos gila itu terus menghantui pikirannya.
Riana sampai tetap terjaga hingga suara adzan subuh berkumandang, ia segera bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri dan bersiap, Riana semakin dibuat murung saat melihat isi dompetnya yang hanya berisi beberapa lembar uang yang hanya cukup untuk menyambung hidup sampai bulan depan.
Jika uang itu ia gunakan untuk naik kendaraan, otomatis dirinya tidak akan bisa menyambung hidup sampai bulan depan.
Sehingga mau tidak mau ia harus berjalan kaki menuju kantor.
"Tidak apa-apa, Riana. Ingat!! Dengan berjalan kaki, bisa membantu proses kamu menurunkan berat badan." Riana terus bergumam untuk menyemangati diri.
Namun, saat dirinya melirik arloji yang melingkar ditangannya, membuat ia mempercepat langkah, sampai dirinya berlari kecil.
Nahas saat dirinya hampir tiba dikantor sebuah mobil yang melaju cepat membuat air yang menggenang ditepi jalan menciprat mengenai pakaiannya.
"Dasar mobil sialan!!" Riana berteriak murka dan kini ia bingung harus berbuat apa.
Pandangannya berotasi untuk mencari keberadaan toilet disekitar sana. Yang kebetulan toilet itu berada tepat disamping kantor.
Dengan cepat Riana kembali mengayunkan langkahnya memasuki halaman kantor untuk menuju ketoilet.
Namun, baru beberapa meter saja ia memasuki halaman kantor, sebuah teriakan berhasil menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kamu dengan pakaian seperti itu?" Teriak Darren seraya menghampiri Riana.
"Saya mau ketoilet dulu Pak, noda ini sepertinya masih bisa sibersihkan." jawab Riana gugup.
"Tidak perlu dibersihkan. Pulang!! Dan ganti pakaianmu dengan pakaian yang baru. Saya tidak mau melihat kamu berkerja dengan pakaian kotor seperti itu."
"Tapi Pak, tempat tinggal saya cukup jauh dari sini."
"Saya tidak mau tahu dan saya paling tidak suka pada orang yang suka beralasan, ganti pakaianmu sekarang atau kamu saya pecat sekarang juga." bentak Darren.
Dengan dua tangan yang terkepal erat, Riana segera berlari pulang untuk menganti pakaiannya. Dia berhasil tiba dikontrakannya setelah berlari dengan kencang dan hal itu bahkan belum pernah ia lakukan selama ini.
Riana mengganti pakaiannya dengan tergesa-gesa karena melirik jam yang melekat didinding sudah menunjukan pukul 7:40.
Dengan sekuat tenaga Riana kembali berlari menuju kantor, tanpa menggunakan alas kaki demi mempercepat langkah.
Dengan d**a yang terasa sesak Riana tiba digerbang kantor yang hampir menutup dengan sempurna.
"Tolong ijinkan saya masuk Pak, tadi saya diminta pulang lagi oleh Pak Darren."
Sang penjaga yang iba melihat Riana yang berlari tanpa alas kaki segera membuka sedikit celah untuk Riana bisa masuk.
Namun saat tiba didepan lift, nasib malang kembali menimpa Riana karena lift itu sudah penuh. Mau tak mau ia harus menaiki tangga darurat menuju ruangan Darren.
Hingga pada akhirnya Riana berhasil tiba diruangan Darren saat waktu menunjukan pukul 8:05. Dengan paru-paru yang terasa sesak dan keringat yang mengucur deras.
"Rama!!" Cepat usir dia dari ruangan saya!" suara bariton Darren menggema diruangan itu.
"Apa maksud Bapak dengan mengusir saya? Bahkan Bapak tidak tahu seperti apa perjuangan saya untuk bisa sampai keruangan ini. Tapi, Bapak mengusir saya tanpa perasaan seperti ini." Cerar Riana. Diiringi suara isak tangis.
******
******