Bab 2

1136 Kata
Saat tengah malam Rendi terbangun karena merasa haus, dengan terpaksa ia melangkah keluar dari kamar tamu, karena sebelumnya ia sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut, Riana selalu menyiapkan segelas air diatas nakas ketika ia hendak tidur. Saat dirinya membuka kulkas tatapannya tertuju pada sebuah kue ulang tahun yang masih utuh, ia mengeluarkan kue tersebut lalu meletakanya dimeja makan, memotong kue tersebut lalu memakannya. Rasanya selalu enak seperti biasanya, karena Riana memang piawai dalam hal membuat kue dan memasak, dan Rendi mengakui itu. Hanya satu yang menjadi kelemahan Riana saat ini, yaitu berat badan yang berlebih, setelah melahirkan anak pertama mereka Riana sudah lupa bagaimana caranya mengurus diri, membuat Rendi jenuh dan mencari pelarian diluar sana. Sedangkan Jihan sekertarisnya dikantor, dia selalu bisa memanjakan mata Rendi, meskipun dia seorang janda dengan dua anak, tapi dia memiliki tubuh yang indah, tidak jarang Rendi kerap membandingkan Jihan dengan Istrinya Riana, hingga akhirnya dia tergoda oleh kemolekan tubuh Jihan. Setelah selesai memakan beberapa potong kue, Rendi kembali keatas untuk tidur. *** Hari kembali berganti, seperti biasanya setiap pagi Riana akan menyiapkan sarapan didapur lalu menatanya diatas meja, kini ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Keduanya menikmati sarapan berdua tanpa adanya percakapan sedikitpun. Selesai sarapan Riana kembali menghampiri Rendi dengan secangkir kopi dan sehelai kertas. "Apa ini?" Rendi mendongak menatap Riana yang kini juga menatapnya. "Sebenarnya aku sangat mencintaimu Mas, aku ingin menyalamatkan pernikahan kita, meskipun ini sangat menyakitkan bagiku. Tapi, aku tahu jika ini semua salahku karena tidak bisa merawat diri dengan baik. Jadi aku akan mencoba memperbaiki diri." Riana menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Maka dari itu ayo kita buat perjanjian, jika dalam waktu enam bulan aku gagal dalam merubah penampilanku, aku akan ikhlas meskipun kamu berselingkuh dengan wanita lain, tapi jika aku berhasil aku mohon ceraikan aku secepatnya." ucap Riana dengan mata berkaca-kaca. Sulit memang untuk mengakhiri hubungan dengan pria yang sudah lima tahun lebih menjalani hidup dengannya, tapi hati wanita mana yang akan tahan jika harus berbagi Suami dengan wanita lain. "Apa bercerai? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana nasib anak kita?" Rendi tersedak kopi yang tengah ia minum. "Kalau kamu tidak mau tanda tangan, maka aku melaporkan perselingkuhanmu pada Mamamu, kamu tahu sendiri kan kalau Mama kamu itu paling benci dengan yang namanya perselingkuhan, jika dia tahu putra satu-satunya berselingkuh, maka dia akan.. !!" "Oke.. oke aku akan tanda tangan." Rendi mau tidak mau menanda tangani kontrak perjanjian mereka sebelum Riana menyelesaikan kalimatnya. "Selama enam bulan aku akan pergi untuk memperbaiki diri, rumah dan Byan, kamu yang urus, biar kamu tahu seperti apa rasanya mengurus rumah sekaligus mengurus anak." "Apa? Kamu sudah gila ya? Tidak ada pergi-pergian." dengan cepat Rendi membantah ucapan Riana. "Sayangnya itu sudah tertulis dalam surat perjanjian tadi, dan mau tidak mau kamu harus menyetujuinya, untuk mengurus rumah dan Byan, kamu bisa pakai jasa ART dan baby sitter." "Untuk apa aku memakai jasa mereka kalau aku memiliki Istri sendiri dirumah." lagi-lagi Rendi membantah. "Aku juga butuh waktu untuk melakukan perawatan, berolah raga dan sebagainya, jika aku terus disibukan dengan urusan rumah, bagaimana aku bisa fokus memperbaiki diri? Kamu juga harus tahu kalau mau punya Istri cantik itu juga memerlukan pengorbanan. Selama ini kamu sulit sekali memberikan uang untuk perawatan, mungkin karena uangmu sudah terbagi dan lebih memilih membahagiankan wanita lain dibanding Istri sendiri. Jadi, sekarang gunakan uang itu untuk mengurus rumah dan Byan agar lebih bermanfaat." Apa yang diucapkan Riana bagai sebuah tamparan keras bagi Rendi, karena semua ucapannya memang benar adanya. "Baiklah, terserah kamu saja mau berbuat apa, lakukan semuanya sesukamu. Jadi, jangan salah aku jika aku juga bertindak sesukaku, dan satu hal lagi, jangan harap aku akan memberimu uang sepeserpun, karena kamu sudah tidak lagi mengurus keluarga." Kini Rendi tak bisa lagi berkata apa-apa selain menyetujui niat Riana. Meskipun sedikit kecewa mendengar perkataan Rendi, tapi Riana tetap pada pendiriannya, ia harus merubah penampilannya dengan waktu yang sangat singkat. "Oke, aku tidak masalah meskipun kamu tidak mau memberiku uang, aku bisa mencarinya sendiri. Kamu harus ingat, jika dulu aku juga seorang pekerja kantoran." "Kamu pikir akan ada kantor yang mau menerima wanita gentong air sepertimu? Tidak akan ada kantor yang mau menerima kamu." Sakit memang, saat lagi-lagi Rendi mengucapkan kalimat tersebut, ia bagai menabur garam diatas bekas lukanya. "Kamu tidak perlu khawatir sama aku, aku bisa menjaga diriku sendiri dan kontrak perjanjian kita berlaku mulai hari ini. Aku sudah mengemas semua barangku semalam, dan aku akan pergi hari ini juga." Riana segera berlalu meninggalkan Rendi. "Secepat ini? Lalu bagaimana dengan Byan?" Rendi bangkit dari duduknya hendak menyusul Riana. "Itu semua terserah kamu, kamu sudah menandatangani kontrak perjanjian kita, dan soal mengurus rumah dan Byan juga tertulis disana." jawab Riana tanpa menoleh. "Kamu benar-benar sudah tidak waras Riana!!" Rendi berkata setengah berteriak. "Dan kamu yang sudah membuatku menjadi tidak waras." Riana kembali menoleh dengan tatapan tajam. *** Rianapun akhirnya keluar dari kamar dengan menyeret sebuah koper. "Aku sudah bilang sama Mama kalau kamu akan menjemput Byan nanti sore, jadi kamu jangan sampai lupa menjemputnya." kini tidak ada lagi panggilan sayang disematkan oleh Riana. "Kamu beneran mau pergi dari rumah ini?" Rendi menatap Riana seolah tidak percaya. "Kamu yang membuatku terpaksa pergi dari rumah ini, aku akan buktikan kalau aku juga bisa lebih cantik dari selingkuhanmu itu." "Kamu pikir menurunkan berat badan itu semudah membalikan telapak tangan? Berat badanmu itu sudah melebihi batas maksimal, meski dalam waktu setengah abadpun kamu tidak akan berhasil melebihi Jihan." Riana sama sekali tak menanggapi ucapan Rendi, Riana lebih memilih meraih tangan Rendi lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. "Aku pamit Mas, kamu jaga diri dan Byan baik-baik, aku harap kamu juga menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan oleh agama." Riana meninggalkan Rendi begitu saja yang kini masih berdiri mematung ditempatnya. Rendi menatap kepergian Riana yang perlahan menghilang dibalik pintu, bersamaan dengan itu Rendi tiba-tiba teringat saat pertama kali membawa Riana kerumah ini, rumah yang Rendi beli setelah menikahi Riana. Lima tahun lalu Riana sangat cantik dan memiliki tubuh yang bagus, Rendi jatuh cinta pada pandangan pertama dan memutuskan untuk melamarnya meski Riana hanya pegawai kantor biasa. Pernikahan mereka berlangsung sangat bahagia, Rendi merasa jadi pria paling beruntung karena sudah memperistri Riana, karena selain cantik ia juga sangat piyawai dalam memasak dan mengurus rumah, bahkan Ibunya juga sangat menyayangi Riana melebihi anaknya sendiri. Tapi itu semua sebelum Riana melahirkan Byan, karena semenjak adanya Byan, Riana tidak lagi menarik dan membosankan. Riana bahkan jarang sekali melayaninya ditempat tidur karena selalu disibukan dengan mengurus putrinya yang saat itu lumayan rewel, membuat Rendi merasa jenuh dan malas pulang kerumah. Dan saat itulah Rendi mendapat sekertaris baru, yang tak lain adalah Jihan, ia selalu membuatnya semakin betah dikantor dan malas pulang kerumah. Tidak jarang ia menghabiskan waktu dengan Jihan dengan alasan lembur pada Riana. Sampai akhirnya Riana memergoki perbuatannya dihari acara ulang tahunnya, ketika dirinya tengan mencium Jihan dengan nikmatnya. ***** *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN