Dan disini lah dia , terjebak diantara Bapak-bapak yang sedang menatap layar pada masing-masing PC nya .
“Salah gua apa sih ? , terjebak diantara orang tua gini . Udah mah gua cewe sendiri . Bundaaa, Fisya mau nangis aja .”Gumam Fisya frustasi .
Sedikit Flashback , ketika perbincangan yang sangat merugikan diri nya tadi itu selesai . Afisya langsung berjalan menuju ruangan yang berada di lantai dua, sudah bisa dipastikan bahwa dia bersama dengan Fero . Dan selama mereka berjalan berdua , mereka sama sekali tidak terlihat seperti team work . mereka justru lebih terlihat sebagai musuh . Karena selama mereka berjalan , Afisya lah yang berada di depan Fero dengan jarak yang lumayan terbentang diantara mereka .
Bukan kah ini salah ? Bukan kah seharusnya Fero lah yang menunjukkan arah ? Dan lagi , mengapa diri nya dengan belagu memilih berjalan duluan meninggalkan pria itu di belakang . Salahnya lagi , mengapa tadi dia tidak menanyakan dimana letak nya ruangan itu ? Ah sialan . Dan ketika Pria itu sudah berada dengan dirinya , mengapa dia tidak langsung mengambil jalan didepan Fisya ? . Double s**t , memang . Harus kemana diriya saat ini ?. Otak nya berpikir keras ,mencari jalan keluar dari masalah yang dia hadapi saat ini . Namun hasilnya nihil .
“Ck , Tunjukkin pintu yang mana ?” Uajrnya final . Pria itu tidak menjawab sama sekali , akan tetapi dia langsung mengambil langkah di depan Fisya . Berjalan santai dan berhenti tepat di depan pintu yang bertulisan nama Brandnya .
Tangan nya membuka pintu itu dan masuk kedalamnya begitu saja , meninggalkan Fisya yang sedang menahan emosi nya .
“Sok cool banget sih , Gila.” Gerutu Fisya sembari berjalan menuju ruangan nya dan ketika dirinya dengan sangat percaya diri memasuki ruangan itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu . Dirinya harus merasakan malu yang sangat amat . Karena ternyata didalam sana , sudah berkumpul team work nya yang semua nya adalah … Bapak-bapak ? Cobaan macam apalagi ini .
“Ha-haiii .”Sapa Fisya kaku , khas dengan cengiran bodoh yang dia keluarkan .
Bagaimana tidak , ketika dirinya membuka pintu itu dengan sedikit tenaga . ketahuilah , ketika itu pula dia melihat semua pasang masang mata menatapnya dengan tatapan tak biasa . Terlebih Pria itu , bukan nya membantu dirinya. Akan tetapi lagi dan lagi , dia hanya melirik Fisya sebentar , sebelum akhirnya dia berjalan menuju meja kerja nya .
“Mba … Fisya , ya ?” tanya bapak kurus dengan kacamata di mata nya , tentu saja .
“Hah? Iya pak , betul .”
“wah , silahkan masuk dan selamat bergabung .” ujarnya dengan nada senang , seraya berjalan menghampiri dirinya . Dan berjabat tangan dengan nya .
“Kenalken , saya Pak Sani .” ucapnya . “Kebetulan saya Direktur Operasional nya disini .” lanjutnya .
Afisya hanya membalasnya dengan tersenyum , lalu dia di ajak oleh Pak Sani masuk kedalam ruangan yang ternyata , sialnya hanya dia lah satu-satunya wanita yang bekerja di ruangan itu . Gila !.
Afisya dibawa ke-tengah diantara meja-meja kerja . "Teman-teman mohon perhatian nya. Hari ini kita memiliki team work baru, satu-satu nya wanita disini." Ujar Pak Sani dengan nada dan kalimat yang tidak Fisya senangi, Sejujurnya.
"Ini Mbak Afisya ." Lanjutnya yang disambut senyuman oleh Fisya . "Dia akan ditempatkan menjadi staff accounting. " . Senyuman Afisya seketika luntur dan tergantikan dengan wajah bego terkejut khas diri nya.
Shit kelamaan disini bisa jantungan gua. Perasaan ulang tahun gua masih lama, kenapa di kasih kejutan teruss.. Bundaa mau pulang. Batin nya menjerit tak terima dengan kejutan yang bertubi-tubi di pagi hari ini.
“Mbak .” Tegur bapak berkepala sedikit botak . “Saya Andri .” Lanjutnya memperkenalkan diri .
“Oh iya pak , Afisya .” balas Fisya masih dengan senyum canggung nya , lalu satu-persatu dari team work nya saling bergantian berjabat tangan dengan Fisya seraya menyebutkan nama nya masing-masing .
Dan disinilah Fisya berada . Di depan layar PC nya dengan berbagai tumpukan berkas yang harus dia pelajari dan harus dia ringkas ulang dalam PC nya . Dan selama itu pula , hati tak pernah berhenti menggerutu serta menyebutkan segala jenis sumpah serapah yang dia tahu , namun entah ditujukan untuk siapa .
^^^
Dua jam berlalu masih dalam posisi yang sama , Perut yang kosong dan isi otak yang penuh dengan angka-angka . Afisya memutuskan untuk menjeda pekerjaan nya , beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu , dan keluar dari ruangan yang membuat nya sesak itu . Apakah tidak ada yang melarangnya ? jelas tidak ada dan tidak mungkin ada yang berani untuk melakukan itu .
Kaki jenjang nya terus berjalan menuju lift yang akan membawanya keruangan yang selalu dia kunjungi ketika penat . Sungguh otak nya sudah tidak bisa di paksa-kan lagi , kepala nya seolah meronta dengan para urat-urat yang berdemo membentuk garis yang menonjol di dekat pelipis nya , yang artinya bahwa otak nya sudah lelah dan butuh di istirahatkan .
“Bundaa . aku penat banget .”keluhnya ketika sedang menunggu pintu lift terbuka . “Strees ini mah gua , butuh alam , tolong!!” Lanjutnya .
“Loh mbak .” tepat pada saat pintu lift terbuka , Muncullah Pak Sutono dari dalam lift . “Mau kemana ?” lamjutnya .
“Eh pak , aku penat .” jawab nya lalu terkekeh garing .
“Baru aja bapak mau samperin , mau liat mbak kerja .” Tuturnya dengan senyuman “Sekalian mau tahu ,ada yang macem-macem atau ngga nya .”Lanjut beliau dengan nada memperingati . Dan itu sukses membuat Fiya sedikit tertawa .
“SI bapak , tenang nggak ada yang berani ko sama saya .” Ujar Fisya dengan gaya sombongnya .
Pak Sutono ikut tertawa karena hal itu , ya mereka memang selalu bisa tertawa hanya karena pembahasan ringan diantara mereka .
“Terus ini mbak mau kemana ?”
“Aku penat pak . Mau istirahat di Karoke .” jawab Fisya dengan cengiran bodoh nya itu .
“Loh sebentar lagi jam makan siang , mbak . Makanan buat mbak Fisya juga sudah disiapkan .”
“aduh pak kenapa repot-repot sih . Nanti kalau jam makan siang saya turun deh , diruangan ibu kan ?”
Pak Sutono mengangguk mengiyakan . “Eh , atau bapak mau ikut ?” Tanya Fisya .
“Ah enggak mbak . nanti kalau saya ikut bahaya .”Jawab nya lalu Fisya dan pak Sutono tertawa bersamaan karena tahu arah pembicaraan nya menuju kemana .
“Istigfar pak , inget umur .” bujar Fisya masih dengan tawa nya .
Sedangkan Pak Sutono hanya membalas nya dengan tawa keras .
ToBeContinue…………