“Aku tidak membutuhkan bantuan mu, Bapak Yudi Fernando yang terhormat.” Sandara langsung bangkit dan meninggalkan Yudi. “Pikirkan tawaran saya baik-baik Nona Wijaya, saat kakimu keluar dari pintu unit ini. Saya tidak akan pernah membantu anda lagi. Dan satu hal lagi, anda saya pecat. Karena anda telah berani menolak tawaran saya.” Yudi langsung berdiri, dan masuk kedalam kamar apartemennya. Sandara masih mematung di hadapan pintu keluar unit tersebut. 'Mama apa yang harus aku lakukan Ma. Sandara tidak ingin kehilanganmu Ma. Satu kali pun Sandara belum pernah membahagiakan Mama. Maafkan Sandara Mama.’ Lirih Sandara di dalam batin. Sandara mengadahkan kepalanya untuk menatap langit-langit. Senyuman sang Mama terbayang sangat jelas di mata Sandara. Perlahan air mata Sandara luruh juga. San

