°° Pintu rumah bibi terbuka, sepertinya paman dan bibi sudah datang dari ladang, "Assalamualaikum." ujarku saat hendak masuk ke dalam. Manik mataku terfokus pada sosok yang ternyata masih berada disini. Lagi-lagi tubuhku menegang. Seakan telingaku tuli tidak bisa mendengar apa-apa, yang ada mataku masih terfokus menatapnya. Aku menahan emosi yang tiba-tiba mendidih saat mataku bertubrukan dengan matanya. Sedih, kecewa, marah semua berhambur menjadi satu. Melihatku yang masih saja membeku bibi menarikku pelan untuk ikut duduk, "Fa, tenangkan dirimu dulu nduk." kata bibi yang akhirnya dapat ku dengar. "Tenang! Bagaimana aku bisa tenang bi! Dia datang lagi, tokoh utama penoreh luka datanng kembali. Bagaimana aku bisa tenang!" ingin rasanya aku berteriak mengatakan itu tapi aku tahan. I

