Layla menatap Windi dan juga Azzam bergantian. Dia terjebak dalam suasana yang canggung. Azzam memaksa Windi untuk bertemu namun Windi menolaknya dan akhirnya seperti ini, Azzam menghadang motor Windi.
"Gue naik angkot aja deh"
Windi menahan tangannya menggeleng, "jauhin gue."
Azzam menggeleng menyentuh tangan Layla tiba-tiba, "gue minta maaf ya La, gue nggak bermaksud kasar sama lo"
Layla langsung melepaskannya, "gue udah minta maaf Win, ayolah lo jangan gini"
"Gue nggak kenal lo Azzam. Gue nggak kenal Azzam yang sekarang, kasar sama cewe."
"Gue udah minta maaf Win, iya kan La? Lo mau maafin gue kan?"
Azzam memohon ketika Layla menatapnya bingung, "maafin gue kan?"
Layla mengangguk pelan, "udah lah Win, dia udah minta maaf"
Azzam menganggukan kepalanya tangannya sudah menyatu, Windi menghela nafasnya dan menatap kesal kearah Azzam.
"Gue nggak mau temenan sama orang yang kasar Azzam"
"Iya iya"
"Ya udah pinggirin motor lo! Main cegat aja, kalo gue kagok gimana?! Kan bisa jatuh" omel Windi.
Azzam bertindak cepat, "gue buntutin lo"
"Beda arah"
"Gapapa, ayo"
Windi mengangguk menengok ke arah Layla yang masih berdiri di samping motornya, "ayo La, maaf ya"
Layla mengangguk, "ngapain minta maaf, seharusnya gue naik angkot aja tadi"
"Apaan sih lo?! Dia nggak terlalu penting"
Layla tersenyum, "kayaknya Azzam nyimpen perasaan sama lo"
"Ha?! Nggak kedengeran"
"Azzam punya rasa sama lo!"
"Wah gila lo?! Nggak mungkin lah, dia cuma sobat gue aja kok nggak lebih"
Layla menepuk bahunya lalu berucap pelan, "fikirin lagi sikap dia ke lo gimana, gue yakin dia punya perasaan sama lo"
Kini Windi terdiam, "lo buat gue mikir La."
"Haha, gapapa kali pacaran sama sobat sendiri. Kan udah tau baik buruknya"
"Ngaco lo! Udah ah diem nanti nabrak trotoarkan bahaya"
Layla mengangguk, matanya melihat ke arah spion. Terlihat Azzam yang masih membuntutinya, Layla yakin jika Azzam punya rasa terhadap sahabatnya ini.
Windi termasuk orang yang mudah berteman dengan siapapun, tidak memandang jenis kelamin. Berbeda dengan Layla yang cenderung tertutup, dia bukan dingin hanya saja tidak peduli apapun. Ada yang mendekat dia respon dan jika tidak ada yang mau berteman dia tidak masalah, sesimple itu kehidupan Layla.
"LAYLA!"
Windi mengerem motornya mendadak, apa lagi ini?!
Layla mengusap dadanya lalu menengok, "Arhan?"
Arhan berjalan cepat dan langsung menariknya, "awh! Lo kenapa sih?!"
Windi meminggirkan dulu motornya lalu mendekati dua orang itu, Azzam ikut berhenti dan hanya menyaksikannya dari atas motor.
Mata Arhan menusuknya tajam, "gue udah bilang, tungguin gue."
"Gue kira lo udah pulang duluan"
Alisnya meruncing, matanya melirik suara klakson yang memekakan telinga.
"Tunggu di sini." Kecamnya lalu kembali memasuki mobilnya meminggirkan.
"Lo gapapa?"
Layla mengangguk, "eemm,, lo duluan aja Win, kayaknya gue pulang bareng dia"
"Yakin lo? Nggak mau ah! Arhan ngamuk, gue nggak mau lo kenapa-napa"
Layla menggeleng, "gue baik-baik aja Win, sana pulang nanti ibu lo nyariin"
Windi menatapnya ragu, "gue akan baik-baik aja Win, nanti gue cerita kalo ada apa-apa"
"Janji ya! Awas kalo bohong!"
"Iya iya"
Windi akhirnya mengangguk dan mendekati motornya kembali, menengok sekilas ke arah Azzam yang juga sudah bersiap.
"Gue duluan La!"
Layla mengangguk tersenyum melambaikan tangannya.
Menghela nafas dia akhirnya menghampiri mobil Arhan.
Tok tok
Jendela terbuka menampilkan wajah Arhan dari samping, "lo marah?"
Dia tidak menyahut, "ya udah maafin gue ya. Gue nggak bermaksud buat lo marah. Gue pikir lo udah pulang"
Arhan menengok diiringi tatapan tajam, "gue udah bilang ada urusan sama ketos, nggak akan lama dan lo tiba-tiba ngilang. Gue nggak suka!" Sentaknya diakhir kalimat.
Layla mengangguk, dia masih di luar mobil. Tidak mau membuat Arhan semakin marah.
"Iya maafin gue. Nggak lagi-lagi deh gue janji"
"Baikan?" Kelingking Layla terulur.
Arhan melunakan wajahnya melihat jari kelingking Layla.
Layla menunggunya untuk menerima ulurannya, "baikan?"
Arhan tidak juga meraihnya, "ya udah kalo nggak mau baikan"
Layla menarik tangannya, matanya masih menatap Arhan yang ada di dalam mobil.
"Mau anterin gue?"
"Pulang sendiri." Ucap Arhan datar menghadap ke depan, tangannya sudah bersiap melajukan mobilnya.
"Oke, hati-hati"
Kepalanya langsung menengok melihat Layla yang tersenyum melambaikan tangannya.
"Bye!"
"Hati-hati"
Arhan tetap diam membiarkan Layla tersenyum untuknya, hatinya menghangat.
Gadis ini tidak masalah jika dirinya meninggalkannya?
Layla kembali mendekati mobilnya, "kenapa? Bannya kempes?"
Layla menunduk memeriksa kedua ban dari sisinya, "nggak kok nggak kempes, bensinnya habis?"
"Ah nggak mungkin habis lah"
Layla menatap Arhan, "kenapa nggak jadi jalan?"
"Masuk."
Tanpa diperintah dua kali Layla langsung masuk, tangannya mengusap lengan yang terasa panas karena terpaan matahari.
Arhan menutup jendelanya dan melajukan mobilnya, menaikan suhu mobilnya dan mengarahkannya ke arah Layla duduk.
Keduanya diam. Layla bingung harus mengatakan apa, dia sudah bersikap lembut untuk menaklukan amarah Arhan.
"Kerja?"
Layla menengok lalu menggeleng, "ini jum'at. Libur"
Arhan terdiam kembali, "udah makan?" Tanya Layla.
Arhan menggeleng, "mau makan di rumah gue? Ya sederhana sih tapi insyaallah enak"
Arhan meliriknya sebentar lalu mengangguk, "gue alergi udang"
Layla mengangguk, "gue nggak punya alergi apapun."
Layla melirik Arhan yang tidak menyahut, "ehm-- Han"
"Hmm"
"Gue pacar lo?"
Arhan menengok, "hmm"
"Lo-- nggak main truth or dare kan?"
Arhan mengernyit, "nggak ada kerjaan banget main begituan"
Layla menghela nafasnya mengangguk mengerti, "ehm-- Han"
"Apa?"
"Kalo gue nolak gimana?"
Smirknya terlihat, "gue nggak butuh jawaban lo. Apapun yang udah gue anggep milik gue, mau ataupun nggak mau lo harus terima."
Layla menatap wajahnya dari samping, Arhan egois.
"Lo orang pertama yang berani nimpuk muka gue." Ucapnya datar.
Layla merubah posisi duduknya mendengar hal itu memalingkan wajahnya dan menepuk keningnya pelan. Arhan meliriknya sebentar.
"Lo orang pertama yang ngangguin gue tidur."
Arhan memarkirkan mobilnya, tangannya menarik wajah Layla untuk menatapnya.
"Dan lo, orang pertama di hati gue."
Deg deg
Layla menatap mata Arhan yang menatapnya lembut dan tegas secara bersamaan.
"Lo orang pertama yang berhasil berdiri di hati gue Layla"
"Dan gue nggak akan pernah ngelepasin lo sampai kapanpun."
"Lo milik gue. Selamanya dan nggak ada bantahan."
Arhan tersenyum mengecup ujung hidung Layla cepat lalu keluar mobil meninggalkan Layla yang sudah melototkan matanya.
Tangannya terangkat pelan, mengusap ujung hidungnya lalu turun mengusap dadanya yang terasa berdebar.
Matanya menatap punggung Arhan yang kini menjauh memasuki rumahnya.
Apa yang baru saja Arhan katakan? Tidak bisa dipungkiri dia senang, pipinya merona.
"Astaga. Itu ungkapan rasa?"
Bibir Layla tidak bisa tidak tersenyum, tangannya membuka pintu mobil dan bergegas masuk ke rumah tidak membiarkan Arhan sendirian.