Chapter 6

1504 Kata
Hai Kat, apa kabar? Kamu pasti bingung bukan? Kenapa tante kirim surat ke kamu tiba-tiba. Tante harap kamu sehat terus. Tante hanya mau minta maaf sama kamu. Maaf tante tiba-tiba menghilang dari kehidupan kamu. Maaf tante nggak bisa nemenin kamu lagi. Kamu mau maafin tante kan? Tante udah nikah Kat, kau tau pria yang sering menghubungi tante waktu itu? Ya, dia orangnya. Orang yang selalu mengganggu tante dan tante berhasil luluh saat dia ngajak tante nikah. Kat tante titip pesan buat kamu. Jangan terlalu percaya sama cowok yang sekarang kamu dekati, tante bukan cenayang tapi tante bisa menebak bagaimana sikap kamu. Melihat kamu sehisteris waktu itu buat tante khawatir jika kamu kembali jatuh untuk kedua kalinya. Dengerin ucapan Windi, dia peduli sama kamu. Tante hanya mau memberitahu kalo tante hamil. Tante akan berkunjung minggu depan, dan kamu harus bahagia minggu depan. Jangan mengurung diri dan jangan banyak bekerja. See you next week! Kinara, tante tercantikmu... Layla menghela nafasnya tersenyum menerima kabar baik, tantenya akan datang minggu depan memastikan dirinya untuk baik-baik saja. Kinara, teman muda ibunya. Wanita itu selalu menemaninya dan dia sempat menetap di rumah sederhana ini. Layla menghormati dia selayaknya ibunya, ibu yang telah meninggalkannya seorang diri. Layla melemaskan tubuhnya, dia baru saja pulang dari rumah makan. Sangat lelah apa lagi tadi Arhan memaksanya untuk menemaninya olahraga. Membaca pesan tadi membuat Layla kembali ke masa lalu, dimana dia menangis sangat histeris dikarenakan seorang lelaki. Layla menggeleng kepalanya menutup wajahnya malu, kenapa dia sealay itu. "Astaga" Tok tok Layla menengok matanya melirik jam dinding yang menunjukan pukul delapan malam. "Siapa?" "Buka." Layla membuka pintunya dan terpampang wajah Arhan, tampilannya sungguh casual. Tampan. "Mau kemana?" "Ikut gue." Layla menahan tarikan Arhan dan kembali menanyakannya, "gue baru aja pulang kerja" Arhan menatapnya lalu menilai penampilannya dari atas rambut hingga ujung kaki. "Ganti baju. Cepet!" "Mau kemana? Gue capek" "Gue nggak peduli lo cape atau nggak, ganti baju lo!" Layla menghela nafasnya lalu mengangguk dan kembali memasuki rumahnya. Arhan menyender pada kap mobil, menunggu kekasihnya ganti baju. Dia ingin mengajaknya nongkrong, tadi dia tidak sempat mengawasi Layla karena ada perkumpulan ketua eskul. Dan Arhan adalah ketua eskul silat, dia tidak mungkin bolos atau dia akan turun jabatan. Layla kembali keluar dengan pakaian celana levis, baju panjang berwarna pink dan dilengkapi cardigan. Rambutnya disanggul rapih tidak lupa juga kacamatanya. "Ayo" Arhan kembali menilai penampilannya, tangannya tiba-tiba melepas sanggul Layla dan melepaskan kacamata yang bertengger. Bibirnya tersenyum, "cantik." Layla menyampirkan rambut panjangnya, "risih tau" "Gapapa, sebentar aja." Layla mengangguk dan memasuki mobil Arhan. *** Tangan itu tidak melepaskan genggamannya. Memasuki keramaian membuatnya semakin erat, tidak lupa dengan wajah datarnya menarik gadis yang selalu merapihkan rambut tebalnya yang tertiup angin. "Mau kemana?" Arhan tidak menyahut membuat Layla kesal, dia sudah lama berjalan memasuki keramaian dan dia sedang lelah. "Han" "Diem!" Layla kembali diam menerima bentakan Arhan, dia akan terus diam. Layla melihat segerombolan laki-laki yang bercanda gurau, dalam hati Layla merapalkan doa agar tidak berhenti di sana. Namun itu memang tempat tujuan Arhan sejak awal. "Woi bro baru dateng!" Arhan menerima high five dari mereka lalu dia melirik Layla yang menunduk. "Duduk!" Perintahnya. Layla menengok dan mengangguk pelan, menarik kursi kosong di sebelahnya. "Uhm-- itu ada yang nempatin" Layla menengok dan mengangguk lalu menarik kursi dari meja seberang. Layla menyingkap rambutnya yang sedari tadi menutupi pandangannya. Layla tersenyum menyapa mereka semua, "dia Layla, pacar gue." "Anjir! Cantik bro!" "Lo dapet darimana?!" "Gue Riyan" Layla menyambut uluran tangan mereka, "lo cantik sumpah!" Layla tersenyum kecil melirik Arhan yang biasa saja. "Ini dimakan La, nggak usah sungkan" "Iya makasih" "Arhan!" Semuanya menengok mendengar seruan nyaring itu. Mereka memutar matanya jengah melihat gadis itu. "Kenapa dia tau kalo lo di sini?" Arhan mengangkat bahunya mengabaikan kehadiran gadis itu, "Arhan! Aku kangen kamu" Layla melongo melihat tangannya melingkari leher Arhan, memeluknya dari belakang. "Yu, ada pacarnya!" Ayu menengok sekilas dan tidak mendengarkan ucapan mereka. "Nggak peduli" Layla menatap ke arah Arhan yang berusaha melepaskan tangan Ayu, "risih!" Ayu cemberut dan dia berjalan ke arah depan lalu duduk dipangkuan Arhan. Layla menutup mulutnya sebentar melihat hal itu. Berani sekali gadis ini. Mata Ayu mengarah ke Layla, "nggak cantik." "Itu ada kursi kosong! Pindah!" Ayu menggeleng kepalanya mengalungkan tangannya di leher dan dia menyembunyikan wajahnya diceruk leher Arhan, menghirup wangi dari tubuh Arhan. Arhan melirik Layla sebentar lalu membiarkan Ayu untuk dipangkuannya. "Han" panggil Layla pelan, dia risih melihat pemandangan itu apa lagi dia adalah pacarnya. "Ayu!" Sentak seseorang yang baru saja datang memaksa Ayu melepaskan dirinya dari Arhan. "Kamu ngapain sih?! Arhan udah punya pacar! Kamu jangan ngejar dia lagi." "Arhan milik aku!" Arhan memutar matanya malas mendengar ucapan Ayu, "gue bukan milik lo. Gue milik Layla, jauhin gue." Lelaki itu menatap Layla dengan pandangan tajam, Layla tentunya kikuk dan juga gugup. Apa ini salahnya? "Gue--gue pulang aja ya" Arhan menahan tangannya, "gue nggak ijinin lo pulang." Matanya melirik lelaki itu dan juga Ayu yang kini berwajah normal. "Jangan didengerin, Ayu suka becanda." Layla menengok saat mendengar tawa Ayu, gadis itu menepuk bahu Layla pelan. "Sorry gue asal duduk, gue becanda kok" Layla mengangguk terbata, kok aneh? "Santai aja nggak usah gugup. Dia pacar gue, Jaka" "Oh?" Layla mengangguk menyapa Jaka yang kini tersenyum ramah ke arahnya. "Ekspresi lo lucu juga La haha" Layla tersenyum malu, "kaget soalnya, gue kira lo pacar aslinya Arhan" "Maksud lo gue selingkuh dari lo gitu?!" Layla mengangkat bahunya tak tahu, "barangkali kan bisa aja" "Lo ragu sama gue?" Layla terdiam, suasana semakin memanas. Kenapa dia harus salah ucap seperti ini?! Seharusnya dia hanya diam. "Jawab gue!" "Han, han! Jangan kasar dong! Dia cewek lo" "Dia ragu sama gue! Jawab gue Layla!" Arhan mencengkram tangan Layla, emosinya tersulut. Apa maksud Layla meragukannya?! Apa dia sebrengsek itu hingga mempermainkan banyak wanita?! "Maaf" Arhan menatapnya penuh amarah, tangannya semakin kencang. "Awh awh! Oke oke gue salah, gue salah Arhan!" Arhan melepaskannya kasar, "sana pulang!" "Lo gila?! Nyuruh dia pulang sendirian?!" Seru salah satu dari mereka. Layla menghela nafasnya mengusap pergelangan tangannya yang terasa panas. "Makasih." Layla beranjak pergi setelah mengucapkan rasa terimakasihnya dengan ikhlas. "Han" Arhan tidak mendengarkan dan memakan cemilan dengan santai, seolah tidak ada yang terjadi. Layla sudah pergi, Ayu menepuk lengannya kuat. "Dia perempuan Arhan! Ini udah malem." "Biarin." "Arhan!" "Diem! Biarin dia pulang sendiri!" "Lo jahat banget sumpah!" "Kalo lo nggak mau nyusul, mending gue yang nganter dia" celetuk Riyan berdiri. "Duduk." "Dia perempuan Arhan, kalo dia kenapa-napa di jalan gimana? Kalo lo males nganter dia pulang sejak awal lo jangan bawa dia ke sini." "Gue aja!" Seru Arhan melihat langkah Riyan yang tidak berbohong. "Silahkan. Lo punya tanggungjawab Han, jangan seenaknya sendiri" Arhan mendengus dan menyusul langkah Layla, dia hanya kesal. Riyan tersenyum tipis dan kembali duduk. Dia tau sikap Arhan yang tidak akan membiarkan miliknya diganggu atau didekati orang lain terutama itu cowok. Arhan mencekal tangan Layla dan langsung menariknya ke arah mobilnya. Layla hanya menurut dan kembali bersyukur, dia sengaja memperlambat langkahnya dan berdoa Arhan akan berubah pikiran. Arhan menengok saat sudah memasang seatbeltnya, matanya memancarkan kemarahan. "Gue nggak suka lo ragu sama gue." ujarnya tajam. "Gue nggak bermaksud ragu sama lo Han, gue cuma becanda itu" "Nggak ada nada jenaka dan itu bukan becanda menurut gue. Lo pikir gue bohong soal lo orang pertama di hati gue?! Iya?!" Layla menggeleng kepalanya, "nggak bukan gitu Arhan-- astaga!" "Gue minta maaf karena gue salah ngomong tadi, gue bermaksud becanda kok, sumpah." Arhan memalingkan wajahnya belum menjalankan mobilnya, dia ingin mendengarkan penjelasan Layla secara jelas. "Gue takut lo hanya mempermainkan gue" gumam Layla pelan. Layla menghela nafasnya memilin jemarinya, "gue nggak mau untuk kedua kalinya" Arhan kini menatapnya kembali, "gue nggak mau jatuh untuk kedua kalinya." "Siapa?" Layla menengok, "seseorang" "Siapa?" "Fairus." "Kenapa?" "Udah ah gue nggak mau cerita" "Harus." Layla menatapnya kembali, kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Lo harus cerita karena gue pacar lo. Lo nggak boleh nutupin semua masalah lo sama gue, atau gue yang bakalan cari tau semuanya sendiri." Layla menggeleng pelan, "udah lah, itu masa lalu yang nggak harus diinget." "Gue harus tau biar gue nggak ngelakuin kesalahan yang sama. Gue nggak mau nyakitin hati lo. Gue bukan cowok b******k La, maaf gue tadi ngusir lo karena gue kesel sama lo yang udah ngeraguin gue." Layla menatap matanya yang menunjukan keseriusan, senyumannya terlihat. "Mereka salah tentang lo" Layla menghela nafasnya pelan, "gue hanya terlalu berharap dan dia manfaatin perasaan gue" Layla kembali menatap Arhan, "gue nggak mau pacaran sama orang yang udah punya pacar, otomatis gue selingkuhan orang itu kan" "Gue sama sekali nggak tau kalo dia udah punya pacar, bahkan lebih cantik dari gue." Arhan meraih tangannya, digenggamnya lembut. Dia juga merasakan sakit yang sama. "Gue tau perasaan lo. Sekarang lo lupain kejadian itu dan percaya sama gue. Gue nggak akan ngelakuin itu, nggak akan pernah." Arhan memberikan senyuman terbaiknya, hatinya menghangat. Layla adalah orang pertama yang berhasil membuatnya tenang dan membuatnya bisa mengontrol emosinya. Layla membalas senyumnya, dia senang menerima perlakuan lembut Arhan. Dia hanya bisa berdoa Arhan bisa memegang ucapannya, dan dia berdoa untuk hatinya yang pernah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN