Chapter 8

1159 Kata
Layla menunjukan senyuman hangatnya. Hari ini Arhan mengajaknya jalan-jalan. Entah mereka akan pergi kemana Layla hanya bisa mengikuti. Dia sampai mengambil libur untuk kerja paruh waktunya, tidak apa hanya untuk satu hari dan kebetulan mood Arhan lagi jelek hingga Layla tidak bisa meninggalkan cowok ini sendirian. Diperjalanan hanya keheningan menyelimuti. Layla membuka media sosialnya dan Arhan fokus untuk menyetir. Keduanya dalam dunia masing-masing hingga ucapan Arhan membuat Layla mengalihkan pandangannya. "Gue nggak punya ibu." Ulang Arhan, tangannya mengerat mencengkram stir mobilnya. Ini adalah pertama kalinya Arhan mengungkapkan hal itu, dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun kecuali Layla. Layla menurunkan tangannya dan mematikan ponselnya, tujuannya menghadap Arhan dan mendengarkan apa yang akan diucapkan kekasihnya ini. "Gue nggak punya ibu" Layla menggeleng, "jangan cerita kalo lo nggak mau cerita" Arhan meliriknya sekilas, keduanya kembali terdiam. Layla masih memusatkan pandangannya pada wajah Arhan. "Jangan berharap gue romantis karena gue bukan orang yang lembut atau sabar" "Gue harap lo punya kesabaran lebih ngadepin tempramen gue yang kadang nggak bisa dikontrol." Arhan menghela nafasnya pelan, sesekali melirik Layla yang masih memperhatikan. "Gue hanya mengingatkan. Cukup kasih gue pelukan dan emosi gue langsung ilang. Gue bukan modus tapi karena ini kebutuhan gue La" "Selama gue hidup, gue nggak pernah ngerasain pelukan seorang ibu. Gue nggak pernah ngerasain kecupan waktu pengen tidur. Gue nggak pernah kena damprat seorang ibu karena kesalahan kecil atau rambut gue yang gondrong" "Gue nggak pernah ngerasain apapun. Lo bilang iri sama gue karena kehidupan gue yang mewah dan gue adalah pewaris perusahaan orang tua gue. Nyatanya lo salah! Gue nggak pernah bahagia karena seorang ibu. Gue dibesarin sama nenek dan ayah aja, gue pernah nanyain dimana ibu dan jawaban ayah hanyalah bungkam." "Gue--" Layla menyentuh cengkraman tangan Arhan yang semakin mengerat, Layla membawanya ke pangkuannya digenggamnya hangat. Layla mengusap lengannya lembut, menenangkan Arhan dengan caranya sendiri. Layla mengerti keadaan Arhan dan dia baru saja tau hari ini. "Percaya atau nggak gue juga sama kasarnya sama lo" Arhan meliriknya singkat, dia langsung memarkirkan mobilnya dan menghadap ke arah Layla sepenuhnya. Layla tersenyum lembut, melihat respon Arhan membuat Layla senang. Arhan juga manusia, dia pasti merasa kosong karena ketidakhadiran seorang ibu. "Gue akan berusaha buat sabar ngadepin lo. Gue juga manusia yang kadang bisa bosen sama sikap lo yang labil" ujar Layla. "Dan gue juga minta sama lo buat sabar juga kalo gue dateng bulan" lanjutnya mengingatkan. Arhan diam, "kenapa?" "Lo bakalan lihat nanti, dan semoga lo bisa ngontrol emosi gue saat itu. Bukan lewat kekerasan" Arhan mengangguk pelan, Layla menyentuh rambutnya dan mengacak pelan. Arhan hanya bisa mengerjap mendapatkan perlakuan seperti itu. Tidak ada yang berani menyentuh kepalanya, bahkan ayah dia pun tidak berani. "Lo berani nyentuh kepala gue" Layla terdiam, "sorry" Arhan menggeleng cepat, bibirnya menunjukan senyuman lebarnya. Tangannya mengarahkan Layla untuk kembali mengusap kepalanya, "gue suka" Layla tertawa pelan, "lo nggak ada rencana potong rambut?" "Nggak!" "Gue cuma nanya" Arhan menarik Layla ke dalam pelukannya, merasakan kehangatan dari tubuh gadisnya. Menghirup aroma tubuh Layla yang manis, mengusap rambutnya lembut. "Jangan pergi. Seburuk apapun perlakuan gue ke lo, gue mohon jangan pergi dan tetap seperti ini" pinta Arhan pelan, matanya terpejam nyaman. Layla terdiam mendengar hal tersebut, dia merasakannya. Arhan begitu rapuh karena sosok ibu yang meninggalkannya. Hidup bersama ayah dan nenek belum cukup untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Dan mungkin ini faktor Arhan yang tidak mau dibantah, harus dituruti karena ayahnya yang sedari kecil memang menuruti semua keinginannya. Arhan mulai meleraikan pelukannya, matanya tertuju kearah Layla. Debaran dijantungnya kini kembali, dia sudah jatuh. Secepat ini. Kepribadian Layla yang tenang membuat Arhan pun ikut tenang, dia suka saat berdekatan dengan gadisnya ini. "Gue udah jatuh" Layla mengerjap mendengarnya, "lo berhasil gue jatuh Layla dan gue nggak akan biarin lo jauh dari gue." Mata Arhan berubah tajam, wajahnya mendekat dengan aura tegas. "Hanya gue milik lo." Kecamnya pelan. Layla menatap matanya, meneguk salivanya gugup. Kenapa Arhan begitu serius? "Jauhi Niko." "Ha?" "Niko. Cowok dewasa itu, gue nggak suka!" Layla mengangguk pelan membuat Arhan kembali duduk dengan normal, Layla menyentuh dadanya yang berdebar gugup. Ngomong-ngomong mengenai Niko, Layla mengingat Niko yang membuntutinya kemarin. Matanya melirik Arhan yang sudah kembali fokus dengan kemudinya. "Ehm-- Han" "Hmm" "Kak Niko--" Arhan langsung meliriknya tajam hanya mendengar nama itu saja, "gue belum selesai ngomong" "Kak Niko pernah maksa buat anterin gue pulang" "Kapan?" "Waktu lo makan sampai nambah" Mata Arhan begitu tajam melihat ke arah jalan, "terus? Lo terima?" Layla menggeleng cepat, "gue udah nolak mentah-mentah tapi dia terus maksa dan akhirnya gue langsung pulang karena kesel, padahal gue mau lembur biar dapet tip gede" Layla melirik Arhan ragu, "gue nggak denger tamat dari mulut lo." Arhan meliriknya. "Selesaiin." "Dan kak Niko nekat buntutin gue pakai sepeda" Layla menunggu respon Arhan yang begitu tenang, "lo--lo nggak marah kan?" Arhan mengangkat bahunya acuh, "lo nggak perlu tau gue marah atau nggak, karena sama." Layla mengernyit bingung dengan kosah kata Arhan, 'karena sama?' Mungkin maksud Arhan saat dia marah ataupun tidak sama saja kasarnya? Itu yang ditangkap Layla. Layla hanya mengangguk pelan mengerti, mungkin dia harus membeli buku untuk mengerti ucapan Arhan yang kadang sangat singkat. Ngiiing Layla menunduk merasakan serangan pusing luar biasa, tangannya mengurut pelipisnya pelan. Kenapa harus sekarang?! Dia tidak membawa obat. Layla berusaha tenang, kepalanya menunduk rambutnya yang digerai menutupi semua wajahnya. Arhan meliriknya biasa saja. "Mau minum" gumam Layla pelan didengar Arhan yang langsung memberikannya minuman. "Lo kenapa?" Layla menggeleng kepalanya, "cuma haus" "Yakin?" Layla mengangguk pelan meminum air putih itu dengan cepat, "gue cuma dehidrasi" ucapnya setelah selesai. Arhan mengangguk tidak curiga apapun, Layla menarik nafasnya dalam. Tubuhnya lemas dia menyandarkan dirinya dan memejamkan matanya, berpura-pura tidur. "Lo gapapa?" Tanya Arhan merasa tidak beres dengan Layla. "Gapapa" "Yakin lo?" Arhan kembali meminggirkan mengecek suhu Layla yang tidak demam, "lo gapapa?" Layla tersenyum kecil, beruntung dia memakai lip tint jadi tidak keliatan terlalu pucat. "Minum" Layla menuruti ucapan Arhan, "balik aja ya?" Layla menatapnya, "gue nggak yakin lo baik-baik aja. Pulang aja" "Gapapa?" "Apaan sih?! Ya gapapa lah!" Layla mengangguk pelan, "maaf" "Gue nggak suka lo nyembunyiin sesuatu dari gue Layla Putri Katrina." Layla terdiam, dia mengerti maksud Arhan yang menyebutkan nama panjangnya. "Bilang ke gue kalo lo kenapa-napa atau ada masalah, gue nggak mau sebagai cowok yang nggak bertanggungjawab sama pacarnya" Layla menunduk singkat mendengarnya, apakah harus? Selama ini yang dia percayai hanya Windi tidak ada orang lain lagi. "La dengerin gue" Arhan menangkap wajah Layla, jempolnya mengusap pelan pipi Layla. "Gue nggak mau kehilangan seseorang lagi. Cukup dia dan ibu gue, nggak lo! Kalo ada apa-apa bilang sama gue. Telepon gue kalo lo diganggu orang lain, gue percaya sama lo La." "Gue akan berusaha secepatnya nyelametin lo. Dan ini berlaku selamanya." Layla mendapati kesungguhan di dalam mata Arhan. Cowok ini tulus memberikan perhatiannya. "Kita pulang dan lo harus istirahat. Lo nggak usah ngabarin gue lagi" "Kenapa?" "Lo harus istirahat Layla, gue tau lo nggak enak badan. Mood gue udah balik lagi, nggak usah khawatirin gue" Layla hanya bisa mengangguk mengiyakan, "oke"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN