Selesaikan masalahmu baik-baik, bukan menambah masalah baru.
***
"Dia .. pacar lo?"
Vania tersenyum bangga. Ia mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Gue Vania, pacarnya Ravin."
Olly menatap tangan Vania, kemudian beralih menatap Vania. Ekspresi muka Olly datar. Olly enggan berjabat tangan. Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Vania tertawa canggung. Hebat sekali. Biasanya, tanpa disuruh, orang lain menyambutnya dengan ramah tamah. Mereka mengagumi parasnya yang cantik. Tetapi, kali ini, ada orang yang berani mencampakkannya? Vania menarik tangannya kembali. Jauh dari dalam hati, Vania membenci Olly.
"Eh, Ravin, udah pulang? Olly mana?" Eva datang membawa beberapa cemilan dan minuman dingin untuk Vania. "Vania sini .. duduk samping Tante. Tante buatin brownies."
"Iya, Tante." Vania hendak menghampiri Eva, namun tangannya dicekal Ravin.
"Bunda, nanti Ravin yang makan browniesnya."
Setelah berkata demikian, Ravin menyeret Vania agar mengikutinya. Mereka masuk mobil dan keluar dari perkarangan rumah Ravin. Selama perjalanan, tidak ada satupun pertanyaan Vania yang Ravin jawab. Laki-laki itu mendadak menjadi dingin dan tidak tersentuh.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai di depan rumah Vania. Mereka saling diam.
"Turun." perintah Ravin.
Vania tidak menuruti perintah Ravin. Ia tidak bergerak sedikitpun.
Ravin menghela napas kasar, kemudian berkata lagi, "Vania, turun."
"Kenapa lo dingin banget sama gue? Gue pacar lo, Vin." Suara Vania berubah parau. Sikap Ravin membuatnya merasakan sakit. Ravin bersikap hangat pada orang lain, namun tidak padanya.
Ravin enggan menatap Vania. Ia menatap objek di depannya. "Lo tau kenapa lo jadi pacar gue?"
Vania menggeleng.
"Karena gue muak dengan sikap lo. Gue kira setelah lo dapetin apa yang lo mau, lo bakal berhenti ganggu gue, tapi gue salah. Lo semakin ganggu hidup gue."
"Ravin, maaf kalo gue ganggu lo, gue gak bakal lakuin lagi." Vania menangis sambil memohon di depan Ravin.
"Lo tau kan kalo gue gak suka sama lo? Apa lo masih mau mempertahankan hubungan satu arah?"
"Iya! Gue bakal lakuin apa aja asalkan lo jadi milik gue."
Ravin tertawa. "Vania, lo sadar gak, sih? Yang lo rasain bukan cinta, tapi obsesi."
"Gue gak peduli."
Ravin mengangguk paham, kemudian keluar dari mobil. Laki-laki itu membukakan pintu untuk Vania. Vania tidak ingin keluar dari mobil. Jika ia keluar, Ravin akan menghilang. Tidak! Ia tidak ingin Ravin menghilang.
"Turun."
"Gak mau!" Vania tetap keukeuh di dalam mobil.
"Oke, gue yang pergi."
Ravin meraih ponsel dan menelpon seseorang. Setelah berbicara sebentar, Ravin mematikan panggilan. Ravin menatap Vania. Perempuan itu menunduk sambil mengusap air mata yang mengalir deras.
"Maafin gue." ucap Ravin. "Hubungan ini menjadi toxic buat lo dan gue. Mempertahankan seseorang yang gak cinta sama lo, sama aja lo memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Gue gak bisa lanjutin hubungan ini karena gue gak mau nyakitin lo lebih dalam. Maaf, Vania."
Tangis Vania semakin kencang. Perkataan Ravin menyakiti hatinya. Setiap huruf yang terlontar dari mulut Ravin bagaikan pisau yang menghunus jantungnya.
"Gue titip mobil. Ini mobil bukan punya gue, tapi bokap gue. Kalo sampe ilang, bisa berabe. Gue gak mau dicoret dari Kartu Keluarga." Ravin meletakkan kunci mobil di tangan Vania, kemudian berbalik meninggalkannya.
Di ujung jalan, Bambang menunggu dengan motor bebeknya. Tanpa berpikir dua kali, Ravin membonceng Bambang. Mereka menghilang dari lingkungan perumahan Vania.
Di sela-sela tangis, Vania membanting kunci mobil Ravin. "Dasar cowok s****n!"
***
Ravin tidak langsung pulang. Ia nongkrong di sebuah kafe bersama Bambang, Emo, dan Eno. Kejadian tadi membuatnya takut bertemu Olly. Ravin takut Olly menjauh.
Emo menyikut Bambang. Ada yang berbeda dengan Ravin. Biasanya, Ravin membuat gaduh meskipun beberapa menit saja. Tetapi, laki-laki berparas cina itu melamun dan mengunci mulutnya.
"Bulu onta kesambet setan apa?" Emo membisikkan kata tersebut di telinga Bambang.
Bambang mengangkat bahu cuek. "Setan jelek kayak lo."
"Gak mungkin, gue ganteng kayak Lee Min Ho."
"Mo, turun, deh. Kalo jatuh, gue ucap alhamdulillah."
"Temen jahad."
Bambang tidak menggubris Emo. Ia memilih mencomot kentang goreng di depannya. Karena tidak ingin menganggu Ravin, Emo ikut bermain game dengan Eno. Mereka bermain mobile legends.
BRAK!
Ravin menggebrak meja dan membuat Emo dan Eno meloncat kaget. Sedangkan, Bambang--yang sedang minum--menyemburkan air tanpa sengaja.
"Eh, buset, lo kalo mukul meja ngomong dulu, kek! Hampir aja gue jadi naga sembur." Bambang protes sambil mengusap sisa air di bibirnya.
"Lo udah jadi naga, oneng!" Eno menjawab kesal karena sisa air mengenai wajahnya.
"Masa?"
"Tau, ah."
"STOP!" Ravin berteriak kencang membuat pengunjung kafe menatap laki-laki itu aneh. "Kagak bisa, nih! Kagak!"
"Apanya yang kagak bisa?"
Ravin tidak menjawab pertanyaan Bambang. Ia keluar kafe dan menyebrang jalan tanpa melihat kanan dan kiri. Jalan raya mendadak macet dan klakson berbunyi bersaut-sautan. Emo berlari dan menarik Ravin menjauh dari jalan. Bambang dan Eno menyusul di belakang Emo.
"Lo kenapa, sih?! Sinting atau stres?!" Emo mengusap wajah frustasi. Ravin membuatnya jantungan.
"Gimana ini?" Ravin jongkok dan menarik-narik rambutnya.
"Apanya yang gimana?" Eno bertanya.
"Muka gue mau ditaroh mana?"
"p****t gue aja." Bambang menawarkan ide menarik. Ia menunggingkan p****t ke arah Ravin.
Karena kesal, Ravin menabok p****t di depannya yang membuat Bambang kesakitan. "p****t lo gosong!"
"Emang lo kenapa, Vin?" Emo mengalihkan pembicaraan.
Seketika wajah Ravin berubah sendu. Matanya berkaca-kaca seperti anak kecil yang dimarahi ibunya. "Olly tau kalo Vania pacar gue."
Emo, Eno, dan Bambang melengos. Mereka mengira masalah Ravin sangat berat hingga membuat laki-laki itu berbuat ekstrim. Ternyata, Ravin galau karena Olly--perempuan cantik yang mereka temui setahun lalu.
"Ah, males gue." Emo berjalan meninggalkan Ravin. "No, makan hamburger, yuk! Gue laper."
"Cus! Tapi, lo yang bayar, ya .. "
"Kagak! Bayar sendiri!"
Bambang berlari dan merangkul Emo dan Eno. "Gue ikut, bro!"
"TEMEN MACAM APA LO PADA?! GUE LAGI GALAU, NIH! GUE SUMPAHIN KESANDUNG MANTAN!" Ravin menggeram kesal. Emo, Eno, dan Bambang tidak ada yang menggubris perkataannya.
Nyatanya, malam itu, Emo, Eno, dan Bambang tetap mendengarkan curhatan Ravin sampai pagi.
***
Keesokan harinya, Bambang mengantar Ravin. Setelah semalaman mendengar mulut Ravin komat-kamit, akhirnya, Bambang selamat dan menjauh dari Ravin.
Ravin membuka pintu pelan. Ia takut Eva memergokinya. Jika Eva tahu Ravin tidak pulang dan menginap di rumah Emo, sudah dipastikan nyawa Ravin terancam. Bisa saja Eva menghapus namanya di Kartu Keluarga.
Ravin melangkah pelan-pelan menuju kamarnya. Jam dinding menunjukkan pukul 07.00 WIB. Seharusnya, Eva sudah bangun dan menyiapkan sarapan. Tetapi, keadaan rumah sepi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"RAVIN!"
"Maaf, Bunda. Ravin gak ke mana-mana, kok. Suwer! Ravin cuma menenangkan diri. Ravin butuh pelukan dan kasih sayang temen." Ravin memejamkan mata. Ia takut melihat wajah Eva yang marah besar.
"HAHAHA!"
Suara Bianca yang tertawa keras membuat Ravin membalikkan badan. Bianca tertawa sambil memegang perut. Adiknya masih mengenakan piyama berwarna merah sambil memegang boneka beruang.
"k*****t, adik jahanam." umpat Ravin. "Demen banget lo ngerjain gue. Gue doain masuk syurga!"
"Aamiin!" jawab Bianca kencang sambil tertawa.
Enggan merewes Bianca, Ravin melanjutkan langkah menuju kamarnya. Kali ini, Ravin tidak perlu was-was. Paling, Eva sudah tahu karena Bianca tertawa kencang sekali.
Ravin membuka pintu kamarnya dan meloncat kaget seperti kucing bertemu kucing tetangga.
"INNALILLAHI WA INNAILLAIHI ROJIUN! MUKA BUNDA LEBIH SEREM DARI KUNTILANAK!" teriak Ravin.
Eva berdiri sambil bersedekap di d**a ketika Ravin membuka pintu. Niatnya, Eva ingin membangunkan Ravin karena anaknya tidak nyaut ketika dipanggil. Saat meneliti kamar Ravin, ternyata Ravin tidak ada di kamar.
Eva menjewer telinga Ravin kencang. "Dari mana kamu?! Semalem tidur di mana?!"
"Bundaa, sakit .. lepasin. Bundaaa .. "
Tidak ada ampun bagi Ravin. Eva menceramahi Ravin selama dua jam tanpa henti.
Di lain sisi, Olly menyisir rambut panjangnya sambil mendengar suara gaduh dari kamar sebelah. Olly menarik napas dalam. Ia tahu siapa dalang dari keributan di rumah. Siapa lagi kalau bukan Ravin?
***
Siang hari, pukul 14.00 WIB, Olly membaca novel kesukaannya. Meskipun sudah membacanya lima kali, Olly tidak pernah bosan. Menurutnya, novel ini mengajarkan banyak hal. Ia bisa mengambil sisi positif dari novel yang ia baca.
Olly menghentikan aktivitas membaca ketika pintu kamarnya diketuk. Tanpa pikir panjang, Olly membuka pintu dan menemukan Ravin yang cengengesan.
"Apa?" Olly bertanya dengan wajah datar.
"Gue udah putus sama Vania."
Olly mengerutkan dahi. Mengapa Ravin memberitahu tentang hubungannya?
"Mau lo putus apa enggak, bukan urusan gue."
"Gak bisa gitu! Lo pasti cemburu, kan? Iya, kan?"
"Apaan, sih? Gak jelas."
"Lo beneran gak cemburu?" Ravin bertanya lagi.
Olly memutar bola matanya. "Ngapain gue cemburu? Lo bukan tipe gue."
Setelah berkata demikian, Olly menutup pintu kamar. Ia menarik napas dalam-dalam. Sikap Ravin tidak jelas. Untuk apa Olly cemburu pada orang yang tidak ia cintai?
Olly melanjutkan membaca novel. Beberapa menit kemudian, pintu kamarnya kembali diketuk. Olly tidak membuka pintu karena ia tahu Ravin yang mengetuk pintu. Seolah-olah tidak menyerah, Ravin muncul di balkon kamar Olly sambil mengetuk pintu kaca.
Olly menggeram kesal. Rasanya Olly ingin mencekik leher Ravin. Bisa tidak sehari saja Ravin tidak mengganggunya?
Olly membuka pintu dan membentak kesal. "Ngapain lo di balkon kamar gue?!"
"Sebentar, jangan marah-marah. Nanti darah tinggi, hehe .. "
"Gimana gue gak marah kalo lo ganggu gue terus?!"
Ravin terkekeh. "Santuy, dong."
"Pergi, sana!"
Olly mendorong Ravin agar meloncat dan pindah ke balkon kamarnya. Ravin bergeming dan tertawa. Tenaga Olly seperti tenaga seekor semut. Dengan tenaga seperti itu, Olly tidak bisa membuat Ravin bergerak walaupun satu senti.
"Nih, buat lo." Ravin memberikan botol minum cantik berwarna merah jambu. Botol tersebut berisi teh hangat.
Olly menatap bingung. "Buat gue?"
Ravin mengangguk dan meletakkan botol minum tersebut di tangan Olly.
"Lo mau ngerjain gue, ya?" Mata Olly memicing tajam.
"Astaghfirullah, lo selalu su'udzon sama gue, yaa .. Gue buat ini khusus buat lo. Ini pertama kalinya gue bikin teh."
Olly menimang-nimang. Ia ragu. Kalau di dalam teh ini ada sianida bagaimana? Tidak, Olly tidak boleh su'udzon. Olly mengenyahkan pikiran buruk di otaknya. Ia membuka tutup botol dan meminum teh buatan Ravin.
"Gimana enak, kan?" Ravin tersenyum bangga.
BYUR!
Olly menyemburkan teh ke arah Ravin. Seketika wajah Ravin dipenuhi oleh air.
"Asin!" Olly berteriak.
Ravin mengusap wajah. Apes. Nasibnya memang buruk. Tidak dapat senyum Olly, Ravin malah mendapat semburan air dari mulut Olly.
"Asin apanya? Gue ngasih gula, kok. Bukan garam." Ravin meraih botol minum dari tangan Olly dan meminumnya.
BYUR!
Ravin menyembur Olly dengan teh yang ia minum. "Buset, asin amat, yak! Ini teh manis apa teh asin?"
"Ravin!" Olly mengepalkan kedua tangan kuat. Wajahnya basah oleh teh yang Ravin minum. "Kenapa lo nyembur gue?!"
"HAHAHA!" Ravin tertawa keras. "Sekarang, impas."
"RAVIN!!"
Sebelum Olly marah besar, Ravin melompati pembatas balkon dan mendarat di balkon kamarnya. Ravin menjulurkan lidah mengejek dan menepuk b****g ke arah Olly.
"RAVIN! GUE BENCI SAMA LO!"
"Jangan terlalu benci, nanti jatuh cinta sama gue, loh, hehe .. "
***